Ternyata Suamiku Yang Mandul

Ada banyak penyebab terjadinya perceraian, ada yang ketahuan selingkuh, tidak cocok, beda prinsip, dan ada juga karena orang tua yang terlalu mencampuri urusan masing-masing. Begitu pula dengan perceraianku dengan mas Emil.

cerita keluarga harus cerai karena mandul

Aku terpaksa memilih bercerai dengan mas Emil karena tidak mau dimadu.

Mas Emil memiliki pendapat bahwa pria bisa memiliki dua istri sekaligus, dan karena itulah dia meminta ijinku untuk menikah lagi.

Tentu saja aku menolaknya, jawaban klasik para wanita tetap sama dari dulu, wanita mana sih yang mau dimadu.

Keinginan mas Emil untuk menikah lantaran aku dianggapnya tidak sanggup memberinya keturunan. Kami menikah sudah 6 tahun dan sampai sekarang kami belum mendapat anak satu pun.

Dengan alasan itu dia meminta ijinku menikah lagi dan berjanji tidak akan mengurangi perhatiannya sebagai suami kepadaku. Katanya, “siapa tahu aku juga bisa terpancing memiliki anak”.

Tentu aku menolak, apa pun alasannya aku tidak bisa menerima. Aku tidak melarang mas Emil menikah lagi tapi dia juga tidak bisa melarangku untuk minta cerai. “Silahkan mas menikah lagi aku tidak melarang, tapi sebelumnya mas harus menceraikan aku dulu,” jawabku.

Suamiku keberatan jika harus bercerai, dia mengaku masih sayang padaku dan tidak ingin berpisah. Tapi kata-kata cinta suamiku tidak bisa meluluhkan hatiku. “Aku mencintaimu tapi aku juga ingin memiliki anak”, ucap mas Emil.

“Kalau mas Emil sungguh-sungguh mencintaiku tentu mas Emil akan menjaga perasaanku dan tidak akan menikah meskipun kita belum dikaruniai anak”. Menurutku ucapan cinta mas Emil palsu, dia menikahiku dulu bukan karena cinta tapi karena ingin punya keturunan.

Sejak saat itu, rumah tangga kami seperti pohon yang akan tumbang, kami menjadi lebih sering cekcok. Dan akhirnya kami resmi bercerai.

Saat berpisah dengannya aku tersadar mengapa enam tahun pernikahan kami itu tidak sekali pun kami ke dokter untuk periksa.

Aku selalu berpikir positif bahwa anak adalah buah cinta, jika Tuhan mengijinkan Dia pasti akan memberi kami anak. Yang paling penting bagiku adalah cinta kepada suami tidak pernah luntur.

Oiya aku tidak lama menyandang status janda. Aku menikah dengan seorang duda beranak satu. Aku merasa bahagia bersamanya. Mas Emil juga sudah menikah dengan seorang wanita yang masih muda.

Setahun setelah menikah aku hamil, sementara istri baru mas Emil tidak juga hamil. Dari situlah aku berkesimpulan kalau bukan aku yang mandul, melainkan mantan suamiku sendiri.

Aku pernah sekali bertemu mas Emil saat sedang hamil besar. Aku melihatnya terkejut melihat kehamilanku dan terlihat malu.

Tapi aku mencoba memberinya harapan agar ke dokter untuk memerksakan diri. Meskipun kami telah bercerai hubungan kami tetap baik saja. Dan aku bersukur kepada Tuhan karena bukan aku yang mandul.

Duh! Suamiku Hanya Baik Ke Orang lain

Mas Joko suamiku sebetulnya adalah pria yang baik, sebelum menikah kami pacaran agak lama sehingga sedikit banyak aku sudah tahu sifat-sifatnya. Selain gagah dan disiplin mas Joko sering menolong teman dan tetangga, hal ini yang membuat orang-orang menyukainya. Tetapi sikap itu adalah palsu menurutku. Bagiku mas Joko hanyalah lelaki yang membuatku menderita.

Mas Joko sangat aktif dalam banyak organisasi, selain kerja dia juga memimpin organisasi kemasyarakatan di dekat rumah membuat hubungannya dengan banyak orang terjalin baik. Orang-orang menghormati dia sebagai teman dan tetangga yang bisa diandalkan.

Begitu pula di kantor, dia adalah kepala bagian yang terkenal disiplin terhadap aturan. Postur tubuh yang tinggi besar membuatnya sangat berwibawa di kalangan anak buahnya.

Tetapi apa yang mas Joko tunjukkan kepada diriku terbalik 180 derajat. Di rumah dia tak lebih seorang pecundang. Mungkin perhatiannya sudah habis dia berikan kepada tetangga, teman dan anak buahnya dan lupa memberinya ke aku, istrinya. Kesibukannya menyita waktu dan memberi jarak antara kami. Jika kutanya dia malah marah dan membentakku, “jangan ganggu aku, kerjaan kantor lagi banyak”, ucapnya. Mas Joko memang sering membawa pekerjaan kantornya ke rumah.

Aku juga tidak pernah diajaknya jalan-jalan atau sekedar refreshing, padahal aku butuh istirahat dari kejenuhan rumah tangga. Aku kan bukan pembantunya yang tugasnya cuma memasak dan mengurus keperluannya saja. Kalau dia butuh pembantu carilah pembantu jangan mencari istri. Jika kuajak jalan mas Joko selalu menyuruhku pergi sendiri saja karena dia sibuk, tak ada waktu buat jalan-jalan.

Setelah punya anak satu, sikap suamiku tidak berubah. Kepada anaknya juga dia bersikap sama, acuh dan cuek. Mungkin dia berpikir jika sudah memberi uang bulanan maka kewajibannya sebagai suami sudah cukup. Terus terang aku kesal dengan sikapnya, apalagi jika anak kami menangis, bukannya berusaha mendiamkannya, dia malah memarahinya karena mengganggu konsentrasi kerjanya.

Belakangan ini, sikapnya juga semakin dingin di tempat tidur. Jika sebelumnya kami biasa melakukannya 2 kali seminggu sekarang paling hanya sebulan sekali. Mas Joko juga sering menjelek-jelekkanku jika sedang marah, bahkan terkadang dia memukulku di depan anak kami.

Aku yang dari desa ini mungkin dianggap kampungan olehnya yang sudah mendapat jabatan tinggi di kantornya. Anehnya sikapnya sangat terbalik terhadap tetangga dan teman-temannya. Kepada orang lain sikapnya sangat ramah dan sopan tapi terhadapku menatap saja tidak apalagi tersenyum.

Atau mungkin dia sudah punya wanita selingkuhan di luar. Jika ini yang terjadi aku sangat bersedih, aku tengah menyelidiki kemungkinan itu. Semoga saja kecurigaanku itu tidak terbukti, aku tidak peduli dengan sikap cueknya asalkan dia tetap setia sebagai suami, oh apa yang akan terjadi denganku nanti? tolong aku pembaca.

Suami Punya WIL, Aku Punya Selingkuh

Perselingkuhan suamiku dengan wanita idaman lain membuatku gelap mata dan menjadi awal cerita selingkuh yang kulakukan juga. Aku nekat membalas perbuatan suamiku dengan memelihara seorang pria untuk kujadikan teman selingkuh.

Cerita ini bermula ketika aku berhasil membuktikan perselingkuhan suamiku, Erwin (bukan nama sebenarnya) dengan sekretarisnya. Suamiku ternyata berselingkuh dan memelihara seorang WIL (Wanita Idaman Lain).

Tentu saja aku marah besar apalagi mereka mengaku telah menikah di bawah tangan tahun lalu. Ah pikiranku menjadi kacau, sakit rasanya hati ini, kesetiaan dan cinta yang terus kujaga selama ini telah dihancurkan oleh mas Erwin.

Rasanya aku tidak mampu berpikir tenang dalam kondisi tersebut, imanku goyah kepercayaanku sirna. Yang tersisa hanya dendam. Apa yang dilakukan Erwin kepadaku membuatku berpikir tidak salah jika aku juga melakukan hal yang sama.

Aku tidak bisa mempertahankan keluargaku karena mereka telah menikah. Meskipun aku istri sah, aku tidak mungkin memisahkan mereka, salah-salah justru aku yang diceraikan. Kalau harus bercerai tentu aku masih pikir-pikir.

Di kota ini aku sendiri, orang tua dan keluargaku tinggal di Jawa, mereka tahunya aku bahagia dan bergelimang harta, mereka sama sekali tidak tahu kalau suamiku tukang selingkuh. Kalau bercerai apa yang harus kukatakan kepada mereka, dan bagaimana aku hidup? aku tidak punya keahlian dan tidak biasa bekerja. Selama ini suamikulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Beruntung kami belum memiliki anak.

Karena itulah aku berusaha mempertahankan keluargaku. Mas Erwin juga berjanji akan memenuhi kewajibannya sebagai suami asalkan aku tidak menuntut cerai dan tidak meributkan pernikahannya itu. Jadi aku menerima permintaan mas Erwin, tentu saja dengan segudang persyaratan yang harus dipenuhinya. Menurutku, itu lebih baik daripada berpisah yang akhirnya justru merugikanku sendiri.

Dan jadilah aku memiliki madu, meskipun kami tidak pernah bertemu aku tahu suamiku sering ke rumah perempuan selingkuhan itu. Terus terang aku sangat marah jika sedikit saja mendengar suamiku telponan dengan dia. Selama dia di rumahku dia tidak boleh berhubungan dengan wanita itu.

Dan tepat ketika suatu hari, suamiku berangkat ke Sumatera bersama istri simpanannya. Aku diberinya uang bulanan yang sangat besar dan sangat lebih dari cukup untuk membiayai hidupku. Aku bebas menghamburkannya tanpa takut ketahuan suamiku.

Maka mulailah aku mengenal dunia malam, ceritaku semakin menjadi-jadi, aku bukan lagi diriku yang dulu, yang ada adalah aku yang ingin membalas perbuatan suamiku. Diskotik, bar, karaoke, dan berbagai tempat hiburan malam menjadi langgananku setiap malam. Aku ingin melupakan cerita perselingkuhan suamiku dengan membuat cerita sendiri tentang diriku.

Suatu malam aku berkenalan dengan seorang pria, ketampanannya membuatku hanyut, apalagi sejak suamiku selingkuh aku sudah tidak pernah disentuhnya. Sebagai wanita normal tentu aku masih mengharapkan belaian dan kehangatan seorang pria.

Namanya Johan, dia seorang karyawan swasta. Sikapnya yang sopan, dewasa, tidak nakal dan tentu saja tampan, membuatku larut. Hanya dalam waktu seminggu dari kami berkenalan, kami sudah berani melanjutkan hubungan sampai di ranjang. Tak ada sedikitpun rasa bersalah dalam diriku, aku pun heran mengapa aku berani melakukannya dengan pria yang bukan suamiku. Tapi aku sangat menikmati hubungan itu.

Aku resmi berselingkuh, tak tanggung-tanggung pria selingkuhanku sepuluh tahun lebih muda dariku. Aku tak peduli, yang penting adalah aku bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan saat bersama Johan. Sedikit namun jelas aku merasakan kepuasan telah membalas perbuatan mas Erwin.

Hubunganku dengan Johan sudah berjalan hampir 6 bulan. Sampai sekarang hubungan tersebut masih berlanjut tanpa mas Erwin ketahui. Kalau suamiku sedang di rumah istri barunya maka Johan lah yang akan menginap di rumahku menggantikan Erwin.

Kalau bukan di rumah, kami juga melakukannya di hotel atau penginapan. Yang kurasa aku sangat bahagia bersama Johan. Aku pikir rasa ini bukan lagi sekadar ingin membalas dendam, cerita selingkuh ini berubah menjadi cinta. Ya jika suamiku punya wanita idaman lain, aku pun punya selingkuh.

Salahkah Aku Kembali Ke Mantan Suami?

Setelah bercerai dengan suami hidupku terasa sepi. Kuakui aku masih rindu dan mencintai mantan suamiku. Salahkah jika aku kembali ke mantan suami?

Aku dan suamiku, mas Agus (samaran) akhirnya bercerai setelah aku berhasil membuktikan perselingkuhannya. Dengan mata kepala sendiri kulihat mas Agus sedang bermesraan dengan seorang wanita di sebuah rumah kos.

Sejujurnya aku masih sangat mencintainya karena sebelum menikah kami sempat pacaran dua tahun. Kami juga sudah memiliki seorang anak. Tapi perselingkuhan yang dia lakukan sungguh membuatku sakit hati dan kuputuska untuk bercerai saja.

Hampir dua tahun aku berpisah dengan mas Agus, jangankan bertemu mendengar kabarnya saja tidak pernah. Anak ikut denganku, terakhir kudengar mas Agus pindah ke Kalimantan dan kerja di sana.

Harus aku akui aku rindu dengan masa-masa kami bersama dulu, bagiku Agus bukan sekedar teman hidup tapi sudah menjadi bagian dari kehidupanku. Aku rindu dengan kebersamaan kami dahulu.

Sekitar bulan lalu aku kaget ketika tiba-tiba mas Agus muncul di depan rumahku. Entahlah rasa rindu itu membuatku tersipu dan malu-malu ketika berbincang dengannya. Mas Agus terlihat kurusan dan dia mengaku belum menikah lagi sejak kami bercerai. Di Kalimantan dia kerja di lapangan membuat kulitnya menghitam dan kurang terawat. Aku iba melihat kondisinya. Rasanya aku ingin kembali kepadanya dan mengurusnya seperti dulu.

“Aku selalu memikirkan diri kita”, ujar mas Agus kepadaku. Dia memilih ke Kalimantan karena ingin melupakan masa lalunya denganku. “Tapi aku sulit untuk tidak memikirkan kamu”, lanjutnya yang membuatku tersipu.

Rasa iba dan kasihan bercampur dengan mungkin sedikit cinta membuatku terharu. Tapi sayang perasaan itu tidak dapat mengubah kenyataan bahwa kami bukan siapa-siapa lagi sekarang. Rasa sakit itu seperti jarum yang menusuk hatiku, muncul di sela-sela rasa sayangku kepadanya.

Begitu dendam dan marahnyakah aku? mungkin benar kata pepatah, Lelaki bisa menahan marahnya tapi tidak mampu menghilangkan rindunya meskipun sedetik tapi wanita mampu menahan rindunya sampai kapanpun tapi tidak akan sanggup menghilangkan amarahnya walau sedetik.

Mas Agus berterus terang ingin kembali kepadaku, meski belum kuiyakan tapi kami semakin sering bertemu. Dia mengaku cuti dari pekerjaannya selama dua bulan, jadi selama dua bulan ini kami sering bertemu. Setiap malam minggu mas Agus pasti datang ke rumahku, ngobrol di rumah atau mengajakku jalan-jalan. Dia terlihat sangat bahagia jika berjalan bersamaku.

Hubungan kami semakin akrab, bahkan obrolan kami sudah menyerempet ke hal-hal sensitif, kami lupa kalau bukan suami istri lagi sampai suatu hari kami melakukan hubungan intim. Sekian tahun bercerai dengannya malam itu aku kembali dijamah olehnya. Kami sempat menyesal karena tahu kami bukan pasangan sah lagi, tapi di malam-malam berikutnya kami mengulanginya lagi. Sepertinya kami ingin menumpahkan dua tahun yang hilang dari kami dengan terus bersama-sama.

Terus terang sekarang aku bingung, kuakui aku merasa bahagia bersamanya dan menginginkan dia kembali menjadi milikki tapi bukankah itu berarti aku menjilat kembali ludahku. Aku mohon pendapat dari teman-teman pembaca, haruskah aku kembali ke mantan suami?

Menikah Dengan Suami Anak Mama Membuatku Serba Salah

Kisah cintaku mentok di perjodohan orang tua. Oleh orang tua, aku dijodohkan dengan seorang pria yang tidak kukenali. Memang sih, dari segi materi, semua kebutuhanku tercukupi. Tapi aku sama sekali tidak bahagia karena keluarga suami selalu “mengadili” ku.

Aku Jadi Terdakwa di Keluarga Suami
Aku Jadi Terdakwa di Keluarga Suami

Teman-teman bilang aku cantik, wajahku ayu dan manis, bentuk tubuhku juga bagus membuat banyak mata lelaki menatapku jika aku sedang jalan bareng teman-teman.

Pembaca, usiaku baru menginjak 20 tahun dan aku baru saja selesai kuliah D3 di sebuah kampus di kota Palu, Sulawesi.

Selesai kuliah orag tua menjodohkanku dengan seorang pria yang jauh lebih tua dariku. Dia seorang kepala seksi di sebuah cabang perusahaan di Kendari.

Terus terang aku tidak mengenalnya, aku bertemu hanya satu kali dan sebulan kemudian aku langsung menikah. Semula aku menolak lamarannya tapi karena nasehat orang tua akhirnya aku menerimanya juga.

Aku menikah tahun 2000, kemudian oleh suami aku diboyong ke Makassar ke rumah orang tuanya. Kisahku sebagai istri dan ibu rumah tangga yang penuh derita dimulai di rumah ini.

Suamiku, Ramli (samaran) adalah asli Makassar. Dia bolak balik Makassar-Palu karena urusan kantor. Jika dia sedang di luar kota aku tinggal di rumah orang tuanya.

Meskipun usia kami berbeda 10 tahun sifat Ramli sangat kekanak-kanakan menurutku. Ini kuketahui setelah satu bulan tinggal bersama keluarganya. Mungkin karena dia anak bungsu dan jarang berpisah dari orang tuanya.

Yang membuatku jengkel adalah Ramli tidak keberatan jika orang tuanya ikut-ikutan dalam urusan rumah tangga kami. Masalahnya adalah aku yang selalu di persalahkan jika ada masalah dengan Ramli, tanpa tahu permasalahannya.

Jika sudah begini aku hanya bisa diam. Dalam banyak hal, aku selalu menjadi “terdakwa” dalam “persidangan” keluarga Ramli.

Aku berontak, kalau aku ini istrinya seharusnya Ramli membelaku, bukannya hanya diam melihat aku dibentak dan dipersalahkan oleh mertuaku, bahkan dalam urusan yang mereka sendiri tidak paham.

Aku pikir Ramli sangat tidak dewasa, masalah sekecil apapun selalu saja dilaporkannya ke orang tuanya, membuatku serba salah dalam bertindak, takut salah, takut bentrok, ah aku betul-betul mu4k dengan keluarga ini. Perasaanku ini mungkin juga karena aku tidak mencintai Ramli.

Pernah satu waktu aku memarahi anakku yang menangis terus, Ramli datang dan meraih anak kami. Kupikir dia akan memarahi anaknya juga ternyata tidak, dia justru memarahiku. Dia bilang aku tidak tahu mendidik anak, yang parah dia malah melapor ke orang tuanya.

Jadilah aku diomeli satu minggu gara-gara peristiwa itu. Mulutku diam tapi dadaku bergemuruh karena menahan marah. Rasanya ingin pulang ke rumah orang tua.

Kehidupan Malam Membuat Hidupku Hancur

Cerita ini adalah kisah nyata kehidupanku yang silau dengan harta orang tua sehingga terjerat dalam kehidupan narkoba, seks bebas dan alkohol. Setelah orang tua bangkrut dan meninggal, yang tersisa adalah aku dengan segudang penyesalan.

Perkenalkan namaku Heny, diusiaku yang masih sangat muda aku hidup bergelimang harta. Orang tua seperti pabrik uang yang selalu memberi apa pun yang kuminta. Aku tidak tahu apakah itu pertanda rasa sayang mereka ke diriku atau sikap cuek. Aku tak peduli selama uang bulanan lancar semuanya baik-baik saja menurutku.

Aku sudah mengenal dunia malam sejak aku masih duduk di kelas dua SMA. Aku bergaul dengan banyak anak pengusaha dan anak pejabat di kotaku. Bersama mereka aku menghabiskan waktuku bersenang-senang. Kami memang  sangat mendewakan kebebasan dan kesenangan. Aktifitas kami hampir tanpa batas. Satu-satunya yang mungkin bisa membatasi kebebasan kami adalah uang, dan itu selalu lancar dari orang tua kami.

Aku bersaudara empat dan aku satu-satunya wanita, hampir tak ada larangan dari orang tua dan saudaraku melihat aktifitasku, orang tua sibuk dan saudara-saudaraku juga acuh kepadaku. Aku sama sekali tidak memiliki figur baik yang bisa kucontoh dan kuidolakan di keluargaku. Ayah sibuk dengan bisnisnya sementara Ibu juga sibuk dengan berbagai pertemuan tak jelasnya dengan teman-teman arisannya.

Naik kelas tiga SMA, aku semakin tidak terkontrol. Obat terlarang, alkohol, dan bahkan seks sudah menjadi bagian dari hidupku.Hampir tidak ada ada petuah agama dan siraman rohani yang bisa menyadarkanku. Aku betul-betul menikmati dunia ini dengan segala kemewahannya.

Seks Bebas dan Obat-Obatan

Akhirnya aku lulus SMA, aneh juga sih, aku yang jarang masuk sekolah bisa lulus dan kuliah. Aku memilih sekolah swasta yang terbilang wah di kotaku. Aku tahu kehidupan di kampus itu dan warga-warganya cocok denganku.

Keperawananku jebol waktu kelas 3 SMA oleh mantan pacarku. Makin rusaknya moralku, aku tidak mempermasalahkan itu dan malah merasakannya sebagai hal yang wajar. Tidak tabu lagi bagiku untuk bertemu dan berkencan satu malam dengan laki-laki yang baru kukenal. Asal aku enjoy tentu aku menikmatinya.

Kehidupan bebas di kampus sepertinya mendukung perilakuku. Aku juga sudah jarang pulang ke rumah dan memilih tinggal di kos mewah dekat kampusku.

Awal Kisah Kehancuran Hidupku

Aku yang masih sangat tergantung dari uang orang tua tidak menyadari kalau bisnis ayahku semakin meredup. Puncaknya tahun 2008 yang lalu, ketika salah seorang rekan bisnis Ayah kabur membawa modal usaha yang telah ayah tanam. Jumlahnya lebih 10 miliar. Ayahku sampai pingsan dan harus di rawat di rumah sakit karena peristiwa itu. Sebualn di rumah sakit ayahku meninggal.

Setelah ayah meninggal satu persatu kolektor dari bank datang ke rumah menagih utang. Tentu Ibu tidak tahu menahu dengan semua itu, karena yang dia tahu cuma arisan dan ngumpul dengan teman-temannya. Akhirnya rumah, mobil dan beberapa unit pabrik Ayah habis untuk membayar utang.

Ibu yang tidak kuat akhirnya depresi dan masuk rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Saudara-saudaraku yang lain pindah ke Kalimantan ikut dengan saudara Ayah, sementara aku tetap di kota ini tinggal bersama bibiku.

Setelah jatuh miskin dan tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan, aku mulai ditinggal teman-temanku. Ke pesta atau ke diskotik aku tidak lagi diajak, mereka tahu aku sudah miskin dan tidak punya harta lagi. Mereka hanyalah teman palsu yang ada untuk bersenang-senang saja, mereka adalah seperti aku yang dulu yang hanya peduli dengan kesenangan saja.

Aku baru sadar aku salah, salah memilih teman, salah bergaul, kuliahku berantakan dan masa depanku jelas-jelas tidak ada. Aku yang sekarang bukan siapa-siapa. Aku masih berada di kotaku Makassar, berharap ada lowongan pekerjaan yang cocok untukku.

Aku menulis cerita ini untuk para pembaca ceritacurhat.com, hati-hati dengan harta karena dia tidak abadi, hati-hati dengan teman karena mereka juga tidak abadi. Semua yang kita miliki datang dan pergi begitu saja, tak peduli kita siap atau tidak. Sukuri apa yang ada agar tidak hidup menyesal di kemudian hari seperti diriku ini.

Kuceraikan Istriku Yang Gila Harta

Karena saling mencintai dan takut berpisah akhirnya aku nekat melamar Irma, kekasihku. Padahal kami masih sangat muda, tentu saja orang tua Irma tidak merestui, akhirnya aku dan Irma memilih kawin lari.

Saat itu aku dan Irma masih sangat muda, Aku belum kelar kuliah dan Irma masih duduk di kelas 3 SMA. Kami saling mencintai dan tidak mau berpisah sehingga kami sama-sama berjanji untuk menjadi pasangan suami istri. Yang tersulit adalah mendapat restu orang tua Irma. Bahkan sampai usia pernikahan kami menginjak 4 tahun, mereka tidak juga merestui kami.

Iya kami memang akhirnya memilih kawin lari lantaran restu dari orang tua Irma tidak kunjung datang. Aku tidak berhasil membuka mata hati mereka bahkan saat kami dikarunia dua anak yang lucu-lucu yang tentu saja adalah cucu mereka. Aku juga sudah bekerja yang artinya anak mereka, Irma tidak hidup sengsara bersamaku, meskipun tidak juga berlebihan.

Aku dan Irma berulang kali berusaha membuka komunikasi dengan mereka, kami memohon ampun agar bisa diterima kembali. Aku melakukan ini karena aku mencintai Irma dan tidak ingin dia berpisah dari orang tuanya. Tapi bagaimanapun usaha kami untuk kembali, penolakan dari mereka selalu saja ada.

Sedikit syukur adalah karena akhir-akhir ini, mereka sudah mau menerima Irma kembali. Tidak seperti tahun-tahun pertama pernikahan kami, sekarang Irma bebas datang ke rumah orang tuanya, tidak jarang dia juga menginap di sana.

Bahkan Irma sudah mendapat pengakuan dan sebagian harta warisan orang tuanya sudah dijatahkan ke dirinya. Sayangnya pengakuan itu hanya milik Irma, Aku dan kedua anakku masih menantu dan cucu haram bagi mereka.

Aku kasihan dengan anakku yang tidak mengenal nenek mereka, aku juga kasihan dengan Irma sehingga kuijinkan bertemu orang tuanya. Aku telah menjual harga diri dan berkorban perasaan tapi sebagai balasannya mereka sama sekali tidak menghargaiku, malah terkesan ingin memisahkan aku dan anak-anakku dengan Irma.

Beberapa kali kubujuk Irma untuk membawa anak kami ke rumah neneknya, tapi Irma tampaknya ogah-ogahan. Sepertinya Irma hanya peduli dengan dirinya dan tidak begitu peduli dengan kami. Kadang aku memarahinya tapi dia malah menganggap lain, jika ini yang terjadi yang biasanya muncul adalah pertengkaran.

Yang membuatku jengkel adalah Irma akhir-akhir ini makin sering ke rumah orang tuanya dan menginap di sana tanpa ijin dariku. Aku tahu aku pasti sudah dicerita jelek dikeluarganya.

Sampai suatu haru orang tua Irma memberi ultimatum ke Irma, kembali ke rumah orang tuanya atau tetap memilih aku tapi tidak mendapat warisan. Irma benar-benar sudah silau dengan harta. Kuakui jika tinggal bersamaku dia akan kekurangan tidak seperti jika bersama orang tuanya yang kaya raya. Karena itulah Irma memutuskan berpisah dariku dan kembali ke orang tuanya.

Keputusan Irma adalah pukulan telak bagiku. Semua suka duka yang kami jalani selama tahun-tahun terakhir ini hilang begitu saja. Dia tega mencampakkan aku dan kedua anaknya sendiri. “Hatimu buta dan matamu silau oleh harta Irma”, ucapku kepadanya.

Sekarang kami resmi bercerai, anak-anak ikut denganku dan Irma kembali ke orang tuanya. Meski anak-anak sering menangis karena rindu Ibunya aku tak pernah sudi mempertemukan mereka. Irma telah mengambil keputusan untuk meninggalkan kami dan aku pun akan tetap pada pendirianku sebagai laki-laki.

Istri Meninggal Karena Kelakuanku

Aku bahkan tak tahu istriku sedang sakit, disaat dia memintaku membawanya ke rumah sakit aku malah menghabiskan waktu dan uangku di meja judi bersama teman-temanku.. betapa berdosanya aku.

istri meninggal karena kelakuanku

Namaku Agus (samaran), aku menikah dengan Tika tahun 2005 yang lalu. Kini kami memiliki seorang anak yang masih kecil. Sebetulnya kehidupan kami baik-baik saja kecuali satu hal yang sangat sulit aku hentikan yaitu berjudi.

Padahal dimasa pacaran dulu aku sudah berjanji ke Tika akan berhenti total bermain judi jika telah menikah dan memiliki anak. Nyatanya bahkan sampai anakku tumbuh besar kebiasaan itu tidak juga hilang.

Tika tidak berhasil mengubahku, saban hari dia menasehatiku untuk berhenti berjudi tapi kubalas dengan marah dan bahkan memukulnya. Tapi Tika tetap bersabar dan tak pernah bosan berusaha menyadarkanku.

Pernah sekali waktu kami cek cok besar yang membuat Tika pergi dari rumah dan kembali ke rumah orang tuanya. Semuanya karena aku yang kalah judi malah menggadaikan mobil yang setiap hari kugunakan ke kantor.

Aku menjemput Tika pulang, dia memaafkanku dan ikut pulang bersamaku, tapi kejadian itu tidak membuatku insyaf. Tika menderita lahir batin, semua penderitaanya dia pendam sendiri termasuk penyakit yang sedang dideritanya.

Aku bahkan tidak tahu dia sedang sakit, aku masih sibuk dengan urusan kantor dan kalau di rumah tentu saja berjudi. Tak ada niat sedikitpun dariku untuk bertobat dan berhenti.

Setahun kemudian, Tika masuk rumah sakit, beberapa hari sebelumnya dia memang sudah memintaku membawanya ke rumah sakit karena dia sudah tidak tahan dengan sakitnya, tapi permintaanya kuacukan, aku malah asyik bersama teman-temanku menghabiskan gajiku minum-minum dan berjudi ketimbang membiayai pengobatan Tika.

Dan sekitar satu bulan setelah Tika masuk rumah sakit, penyakitnya semakin memburuk, dokter di rumah sakit menyerah, kata mereka Tika terlambat diobati sehingga penyakit kanker yang dideritanya sudah sangat akut. Penyakit kanker yang dideritanya selama ini bermula dari tekanan mental dan beban yang dipendamnya. Seminggu kemudian Tika meninggal.

Saat-saat terkahir Tika menghembuskan nafasnya, aku tersadar. Betapa Tika begitu mencintaiku, dan betapa dia sangat menderita selama hidup denganku.

Tika membuktikan dirinya adalah istri yang berbakti kepada suami. Aku menyesal dan bertobat tapi sudah terlambat. Tobatku tidak bisa menghidupkan Tika lagi, aku menangis keras tapi tangisku tidak bisa didengarnya lagi.

Pembaca, aku tidak tahu apakah Tuhan mau mengampuniku, sekarang aku berhenti total dan tidak lagi berjudi. Kubuang jauh-jauh kebiasaan buruk itu dan kubesarkan anakku seorang diri.

Aku bersumpah tidak akan menikah dan mencintai wanita lain selain Tika. Semoga kisahku ini menjadi pembalajaran bagi para pembaca ceritacurhat.com.

Istriku Ternyata Lebih Hina

Kupikir dengan menikahi Asri maka hidupku akan berubah menjadi lebih baik, aku sudah bosan dengan gaya hidup yang selama ini kujalani. Diskotik, alkohol dan main cewek adalah aku yang dulu, aku ingin berubah dan menjadi pria baik-baik. Aku berharap setelah menikah nanti aku bisa menjadi lebih bertanggung jawab, tapi nyatanya Asri istriku lebih rusak dariku.

Perkenalanku dengannya tidak lama, kami pacaran hanya tiga bulan dan selama tiga bulan itu aku menangkap kesan bahwa Asri adalah wanita baik-baik.

Caranya berpakaian yang sopan dan sederhana membuatku terkesan padahal dia anak pengusaha sukses di kotaku. Ini yang membuatku langsung tertarik dan melamarnya.

Asri adalah tipe gadis lugu yang kuimpikan bisa membantuku keluar dari jerat kehidupan malam.

Tahun 2003 yang lalu kami menikah, orang tuaku sangat senang, begitu pula orang tua Asri. Pesta pernikahan kami dirayakan dengan sangat meriah.

Setelah menikah kami tinggal di rumah pemberian orang tuaku. Aku betul-betul bahagia saat itu memiliki istri yang cantik, rumah besar dan pekerjaan yang lumayan bagus.

Yang tidak kuduga adalah Asri, istriku. Dia yang kelihatan sederhana dan lugu ternyata adalah pemuja kehidupan malam, kelakuannya tidak jauh berbeda denganku. Betapa kagetnya diriku ketika mulai mengenalnya dan mengenal teman-temannya.

Mungkin ini karmaku, disaat aku ingin hidup normal, jauh dari kehidupan malam, aku malah menikahi wanita seperti istriku. Setelah menikah, istriku belum bisa menghilangkan kebiasaannya keluar malam, dugem bersama teman-temannya.

Asri juga menolak memiliki anak, katanya belum siap. Ia belum mau direpotkan dengan tetek bengek keluarga, rupanya dia masih ingin menikmati hidup bebas seperti saat dia belum menikah dulu. Tentu saja aku marah dan melarangnya tapi aku selalu kalah jika dia mengungkit masa laluku.

Hampir setiap malam dia dijemput teman-teman gaulnya, aku tidak tahu kemana dia pergi yang pasti dia selalu pulang pagi dalam keadaan mabuk. Tidak jarang juga aku menemukan pil dan obat terlarang di saku bajunya. Ah ternyata kehidupan Asri jauh lebih bebas dariku

Pernah dia kuajak bicara empat mata dan menjelaskan tentang kehidupan rumah tangga, dengan enteng dia menjawabku, “Nikmati hidup mas, jangan mau pusing-pusing ntar cepat tua. Meski kita suami istri aku tak mau mas mengekang kebebasanku, kalau mas mau pergi, pergi saja.” Tentu saja aku tersinggung dengan ucapannya itu tapi aku masih berusaha menjaga amarahku, bagaimanapun juga dia adalah istriku.

Kadang jika sedang sendiri aku berpikir apakah istriku masih suci sebelum kami menikah. Karena aku tahu bagaimana kehidupan malam itu yang tidak bisa pisah antara alkohol dan seks bebas.

Ah Tuhan, kenapa disaat aku ingin kembali ke jalan-Mu justru aku dicoba melalui istriku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan. Yang jelas aku tidak mau kembali ke dunia hitam itu, aku ingin hidup normal bersama istriku.

Asri istriku makin bebas saja, kadang dia tidak pulang semalaman, beruntung aku belum pernah melihatnya bersama pria lain sehingga perkawinanku tetap kupertahankan. Semoga Tuhan memberiku kekuatan. Amin.

Kuputuskan Untuk Tidak Menikah Lagi

Perselingkuhan antara istriku dengan Malik (nama samaran), sahabatku sendiri betul-betul tak bisa kumaafkan. Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan mereka berselingkuh dan berhubungan intim di ruang tamu rumahku.

istri selingkuh sahabat

Kadang aku berpikir dosa apa yang telah aku lakukan sehingga harus menerima ujian seberat ini.

Di rumah yang dulu pernah begitu ceria bersama istri yang cantik dan anak-anak yang lucu, kini bagaikan neraka.

Setiap melihat kursi sofa tempat istriku bercinta dengan Malik, membuatku mual dan pusing.

Dini, istriku yang telah memberiku dua orang anak begitu tega mengkhianati cintaku. Kuberikan semua yang dia inginkan, rumah dan mobil dan segala keperluannya sebagai istri selalu kupenuhi, tapi balasannya adalah pengkhianatan, bukan dengan orang  lain, tapi dengan Malik, sahabat sejak aku kecil.

Aku mengenal Malik sejak kami sama-sama masih SMP. Sayang nasib kami berbeda. Sampai usianya yang kepala tiga Malik tidak juga mendapatkan pekerjaan.

Karena belum memiliki pekerjaan dia tidak punya rumah tinggal yang tetap, akhirnya kutawari dia tinggal di rumahku, sambil membantuku mengawasi anakku jika aku ke kantor. Tidak jarang Malik kuberi uang untuk sekadar jajan dan beli rokok.

Kebaikanku seperti pisau yang menusuk tuan sendiri. Diam-diam Malik dan Dini menjalin hubungan cinta. Aku yang tak tahu apa yang mereka lakukan jika kutinggal di rumah merasa tenang saja, toh Malik adalah sahabat yang pasti akan menjaga kehormatanku. Tapi kenyataan berkata lain, diam-diam mereka menjalin kasih dan bercinta selagi aku ke kantor mencari duit.

Tak sedikitpun aku mencurigai mereka meskipun aku sudah pernah diingatkan oleh adikku ketika suatu hari dia melihat Malik berada di kamar bersama istriku sambil bertelanjang dada.

Tapi peringatan adikku kuanggap angin lalu, Dini dan Malik tidak menunjukkan gelagat yang aneh sehingga aku merasa tidak perlu mencurigai mereka.

Aku mulai curiga ketika suatu hari aku menemukan jam tangan Malik di atas meja di kamarku. Aku merasa tidak nyaman dengan jawaban istriku yang bilang dia meminjam jam tangan Malik karena tadi siang jam dinding di kamar ngadat.

Di dalam hatiku seperti ada alarm warning yang berbunyi bertalu-talu, tapi pikiranku tidak sejauh perasaanku. Aku masih berpikiran positif terhadap mereka.

Kudapati mereka sedang berselingkuh secara tidak sengaja. Waktu itu aku sedang tugas di luar kota dan tanpa informasi ke istri, aku pulang lebih cepat dan agak malam.

Aku masuk rumah dari belakang karena pintu depan terkunci dari dalam.  Di kamar tidur, aku hanya melihat kedua anakku sedang tertidur lelap sementara istriku entah dimana, di kamar mandi dan ruang keluarga juga tak ada.

Akhirnya aku ke ruang tamu untuk menyalakan TV dan Masya Allah,, betapa kagetnya aku melihat Dini dan Malik sedang bergelut di atas kursi di ruang tamuku.

Mereka sama kagetnya melihatku. Kami bertiga saling tatap dan terdiam. Keheningan yang sejenak itu pecah oleh suara tangis Dini. Pandanganku gelap, bergantian mereka kutatap seakan tidak percaya dengan yang kulihat.

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat mereka. Aku dan Dini resmi bercerai sementara Malik entah pergi ke mana. Berulang kali Dini meminta maaf dan mengiba-iba kepadaku tapi tak kuhiraukan. Kedua anakku ikut denganku, tak kuijinkan istriku melihat mereka berdua.

Kisah ini adalah cerita dua tahun yang lalu, marahku masih sering meluap apabila mengingat perbuatan mereka. Sudah kuputuskan untuk tidak menikah lagi, waktuku hanya kucurahkan untuk kedua anakku ini.