Suami Sering Menyiksaku!

Kuakui pilihanku salah, padahal aku sudah berkorban demi cintaku kepada suamiku. Kutinggalkan orang tuaku demi suamiku tapi sebagai balasannya, suamiku kerap menyiksa dan memukulku

Perkenalkan namaku Atta.. aku sudah berkeluarga dan memiliki buah hati.. sekarang aku lagi hamil anak yang ke-2, melalui situs ceritacurhat.com ini aku ingin menceritakan kegundahan hatiku. Aku dan suamiku sedang dalam proses perceraian dan sudah 4 bulan ini kami pisah rumah. Suamiku sama sekali tidak tahu soal kehamilanku yang ke-2 ini.

Kuakui suamiku ini adalah pilihan yang salah. Karena cinta aku meninggalkan orang tua dan memilih tinggal bersama suami dalam susah maupun senang. Akan tetapi saat bersamanya, aku malah mendapat siksaan mental dan fisik. Aku selalu mendapat “hadiah” darinya yang membuat tubuhku selalu “berwarna’ setelahnya.

Semakin lama aku semakin tidak sanggup. Saat kutahu aku hamil lagi, kuputuskan untuk lari dari rumah suamiku dan kembali ke rumah orang tuaku. Orang tuaku menyambutku dengan tangan terbuka dan mereka tidak pernah menanyakan bagaimana aku selama ini karena dengan melihat yang ada di tubuhku mereka tahu tanpa harus bertanya lagi.

Aku menyesal karena pernah tidak mengindahkan peringatan orang tuaku, aku sangat sedih jika mengingatnya. Tapi sekarang aku hidup bahagia bersama mereka dan menunggu kelahiran anak ke-2 ku.

Tapi saat kebahagian ada dihadapanku, suamiku muncul dengan tekanan-tekanan yang dia buat seolah-olah aku meninggalkannya karena tidak sanggup hidup susah dan sebagainya, sampai-sampai pihak keluarga dari suami membenciku, mereka tak pernah menganggap aku dan anakku lagi, tapi hal ini membuatku semakin yakin untuk tidak memberitahukan kehamilanku ini.

Saat ini orang tua ku memberikan aku waktu untuk berfikir apakah harus melanjutkan pernikahanku atau secepatnya memproses perceraianku, karena orang tuaku tidak ingin mereka dianggap mempengaruhiku.

Sekarang aku bingung harus bagaimana, aku sudah dianggap menelantarkan suamiku, walaupun ingin rasanya aku membela diriku dan memperlihatkan perbuatan suamiku tapi aku tidak mungkin membuka auratku dimuka umum untuk membuktikannya.. aku hanya menyimpan foto-foto bekas ‘hadiah’suamiku di handphone ku.

Pembaca.. tolong masukannya atas apa yg kualami sekarang ini bila memang aku harus bercerai dari suamiku… bagaimana cara agar aku bisa terlepas dari ingatan dan gangguannya dalam kehidupanku.

Aku Berdosa Mencintai Suami Orang

Aku yang begitu lugu mudah saja jatuh cinta ketika seseorang memberiku sedikit perhatian. Ketika aku betul-betul mencintainya, aku baru tahu kalau dia suami orang.

Sebut saja namaku N, aku berasal dari daerah Ketapang, Kalimantan barat.Ini adalah kisah nyata yang pernah aku alami, semoga menjadi pelajaran hidup bagi para pembaca sekalian.

Aku adalah anak ke tiga dari empat bersaudara. Dari ke tiga saudaraku, hanya aku yang dapat menamatkan sekolah hingga perguruan tinggi.

Sedangkan adik dan kakak-kakakku hanyalah lulusan SD dan SMP, itu mungkin karena keadaan ekonomi keluargaku yang serba kekurangan.

Ini adalah awal kisahku, pada tahun 2006 tepatnya aku masih duduk di bangku SMA kelas tiga di sebuah sekolah swasta di daerahku, karna jarak antara sekolah (sebut saja kota S) dan rumah tempat tinggalku (sebut saja kota E) sangat jauh, maka aku putuskan untuk tinggal di kost bersama temanku di daerah tempat aku sekolah tersebut.

Suatu malam datanglah teman sekolahku bersama seorang teman sebut saja Eri (nama samaran) di tempat kostku. Sebelumnya aku belum mengenalnya, dan dari pertemuan tersebut aku mengenalnya dan sampai akhirnya kami menjalin hubungan pacaran. Dan selama menjalin hubungan tersebut aku tidak mengetahui kalu dia ( Eri ) sudah beristri dan mempunyai seorang anak.

Lama kelamaan salah seorang keluarganya bercerita kepadaku kalau Eri sudah beristri, betapa hancur hatiku, orang yang selama ini ku sayangi dan ku kira masih lajang adalah suami orang, aku menangis saat itu aku merasa telah di bohongi oleh orang yang sangat aku cintai.

Di saat Eri menemuiku, dia mengakui kalau dia telah beristri, saat itu juga dengan amarah yang tinggi ku katakan “mulai saat ini kita putus, jangan pernah lagi kamu menemuiku, karena ku tak sanggup melanjutkan hubungan ini, aku tak ingin menyakiti hati istrimu dan hatiku terlalu jauh lagi“.

Di saat itu juga Eri langsung menarik tanganku dan memelukku dengan pelukan yang hangat yang selama ini selalu kurasakan nyaman dan aman bila berada dipeluknya, kemudian dia berkata “aku tak ingin berpisah darimu, selama ini aku sangat mencintaimu, dan sampai kapanpun engkau tak akan pernah ku lepaskan, dirumah tanggaku aku tidak pernah merasakan mencintai dan dicintai oleh istriku, semuanya hampa, aku tidak pernah dianggapnya sebagai suami, aku hanya diperalatnya untuk pencari hata kekayaan dan materi untuknya, hanya karena anakku aku bertahan, jadi jangan tinggalkan aku”. Dia kecup keningku dengan mesranya, hingga akhirnya aku luluh dan tidak jadi memutuskannya.

Walaupun aku sudah mengetahui statusnya, tapi hubungan ini tetap berlanjut, karena mungkin aku juga tidak sanggup untuk berpisah darinyanya. Hingga perselingkuhanku ini berjalan setahun lamanya.

Kuakui aku semakin sulit lepas darinya karena aku telah berani menyerahkan kegadisanku kepadanya. Bukan sekali, tapi hubungan terlarang itu menjadi semakin sering kami lakukan. Aku tahu itu tak boleh tapi rasa rindu yang tak tertahan selalu membuat pertahananku bobol.

Di tahun 2007 aku lulus dari SMA, aku pulang kerumahku di kota E, otomatis kami terpisah, dan walaupun terpisah jarak dan waktu kami tetap berhubungan. Jarang sekali dia menemuiku, mungkin karena jarak yang jauh dan kesibukkannya dalam pekerjaan.

Walaupun demikian dia sering menelponku dan menanyakan kabarku, dia tak ingin jika aku dekat dengan laki-laki lain. Dua minggu sekali dan kadang sebulan sekali dia datang untuk menemuiku untuk saling melepas rindu.

Lama kelamaan dalam kesendirianku, aku termenung, aku merasa sangat berdosa telah selingkuh dengan suami orang, aku membayangkan andai aku jadi istrinya sangatlah sakit hati ini jika di hianati.

Dan aku berfikir sampai kapan berhubungan tanpa kepastian seperti ini, toh kami tidak pernah saling memiliki. Didalam ketermenunganku tersebut, aku memantapkan hatiku untuk mengakhiri hubungan ini.

Suatu hari hari dia meneleponku, dia memberi tahu bahwa dia ingin menemuiku pada hari itu ditempat biasa kami bertemu. Aku berfikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini.

Seperti biasa saat bertemu, dia memelukku dengan hangat dan mencium keningku dengan lembutnya. Aku hanya bisa terdiam dan merasakan kehangatan dan kelembutan darinya, mungkin itulah pelukan dan ciuman yang terakhir darinya.

Sangat berat rasanya mulut ini berkata karna mungkin aku pun tak ingin kehilangannya, tapi apa boleh buat tak ada pilihan lain selain memutuskan hubungan ini.

Lima menit kemudian aku memantapkan hatiku, kemudian aku berkata dengan lirih dan lembut agar tidak menyinggung dirinya, “Selama ini aku sangat mencintaimu dan aku tak ingin kehilanganmu, dan selama ini juga hubungan kita tanpa kepastian,untuk itu hubungan kita cukup sampai disini”.

Aku ingin berlari meninggalkannya, tetapi tangannya cepat menyambar tanganku dan memegangnya kuat, aku berusaha melepaskan namun aku tak berdaya.

Disaat itu juga aku melihat air matanya jatuh menetes, aku tak menyangka seorang laki-laki yang selama ini kuat dan tegar menangis untukku dihadapanku.

Kemudian dia berkata “Selama ini aku tak pernah menangis karna orang lain, hanya ini dan baru ini aku menangis karenamu,karena betapa sangat aku mencintaimu, sungguh… sungguh aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku, aku tak biasa hidup tanpamu, kumohon”. Hingga dia bersujud di kakiku sambil menangis.

Kutahan air mataku agar tidak jatuh untuk menyembunyikan kesedihanku, aku tak menghiraukannya, kulangkahkan seribu kaki untuk berlari jauh meninggalkannya, dia mengejarku, namun aku sudah berlari jauh sekuat tenagaku.

Hingga sampai di rumahku, aku langsung masuk ke kamar, aku menangis sejadi-jadinya menumpahkan kesedihanku. Itulah pertemuan terakhirku dengannya.

Dan jika aku teringat kejadian tersebut, aku selalu meneteskan air mataku. Hari-hari kulalui dalam kesendirianku, perlahan ku coba tuk melupakannya.

Dua tahun kemudian aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang sangat baik, sabar, setia dan bertanggung jawab. Kami saling mencintai, hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah, dan sekarang kami di karuniai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Aku bersyukur dengan keluarga kami, keluarga bahagia, keluarga kecil yang selalu damai.

Dan saat ini tepat pukul 01:10 dini hari, dimana semua orang sudah terlelap bersama mimpi dan suamiku serta anakku sudah tertidur pulas di sampingku, aku masih tetap didepan layar laptopku untuk mengetik kisahku ini. Semoga kisah ini berguna bagi pembaca dan bisa di ambil hikmahnya. AMIN.