Aku Tahu, Tuhan Sedang Mengujiku

Cerita ini berawal ketika aku kuliah disalah satu Universitas swasta di Bandung, aku anak perempuan tunggal di keluargaku, aku sangat menyayangi mamah dan ayahku.

ujian dari tuhanSingkat cerita aku berkenalan dengan salah satu senior di kampusku bernama Irfa (nama samaran), teman-temanku yang mendekatkan aku dengan Irfa, setelah sekian lama dia menitipkan salam pada akhirnya aku dipertemukan dengan orangnya dikampus.

Pada saat itu aku pertama kali melihat sosok Irfa jujur merasa biasa saja terhadapnya dan tidak ada perasaan suka sedikitpun terhadapnya.

Tapi hubungan kami berlanjut ketika Irfa mulai meng-add facebookku dan kami mulai bertukar nomor hp dan smsan setiap hari. Hingga pada akhirnya Irfa mengsms aku mengajakku keluar dan ingin menjemputku di kosan.

Oh iyaa karna aku jauh dari rumah aku tinggal di kos yang jaraknya dekat dengan kampusku. Aku bertemu dengan Irfa dikosan ku, aku menyuruhnya masuk dan memberi dia minum setelah itu kami pergi untuk makan yang aku tau pada saat itu Irfa adalah sosok laki-laki yang sederhana tapi karena itulah dia menambah nilai plus dimataku ku, mulai pada saat itu aku menyimpan rasa simpatik terhadapnya.

Setelah makan dia mengantarku pulang ke kosan sejak dari itu hubungan kita berlanjut sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk jadian. Aku mulai menyayanginya apalagi setiap hari kami sering bertemu dan akupun merasakan Irfa sangat menyayangiku, pada saat itu aku bersyukur bisa mendapatkan laki-laki sederhana dan baik, akan tetapi……..

Disinilah letak kebodohan yang aku lakukan, karena terlalu sering besama ditambah kondisi tempat kos yang bebas membuat hubunganku dengan Irfa seakan tanpa batas. Siang malam bersama membuat kami sudah seperti suami istri bahkan aku rela memberikan keperawananku kepadanya tanpa ada sedikitpun rasa sesal dihatiku.

Aku merasa sudah memberikannya kepada orang yang benar-benar aku sayang walaupun ketakutan sering menghantuiku, aku takut dia meninggalkanku, aku takut dosaku terhadap Tuhan tapi karna kasih sayang yang Irfa berikan aku percaya dia akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadapku dan Irfa sering mengimamiku dalam sholat aku merasa kehidupanku sempurna, mungkin hanya masalah waktu Irfa akan menikahiku setelah lulus kuliah nanti dan aku terus berdoa untuk itu.

Tapi memang rencana hanya tinggal rencana, Allah lah yang menentukan semuanya, Irfa mulai berubah pelan-pelan meninggalkanku dan ketakutan yang menghantuiku semakin bertambah hingga akhirnya aku berubah menjadi sosok perempuan yang tidak bisa mengontrol emosi, setiap Irfa tidak disampingku aku pasti marah karna aku takut ditinggalkan, hingga akhirnya menjadi bomerang untuk hubunganku dengan Irfa. Aku semakin menjadi sosok perempuan yang posesif terhadap irfa maka tidak heran Irfa mulai takut atas sikapku ini.

Tak ada lagi kebahagiaan tak ada lagi senyuman, sekarang yang ada hanya pertengkaran. Hingga pada akhirnya aku mengancam Irfa kalau dia tidak mau bertanggung jawab maka akan aku laporkan apa yang sudah dia lakukan pada orang tuanya, karena mungkin Irfa takut akhirnya Irfa jujur pada ibunya tentang aku dan apa yang telah kita lakukan, disitu ibunya mengajakku untuk bertemu dirumah pamannya karna ibunya tidak mau ayahnya Irfa sampai mengengetahui hal ini.

Akhirnya aku dipertemukan dengan ibu dan om Irfa disitu, aku takut tapi Irfa menggenggam tanganku dengan erat sekali mungkin dia ingin meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hal itu membuat aku yakin semua akan baik-baik saja. Ibu Irfa sangat baik dan ramah kepadaku, aku senang mengenalnya.

Ibunya mulai membicarakan bagaimana baiknya hubunganku dengan Irfa, hingga pada akhirnya kita semua menyepakati bahwa kita akan menikah NANTI !! Setelah aku dan Irfa lulus kuliah dan Irfa selesai masuk Akmil, memang itu bukan waktu yang cukup singkat tapi aku yakin itu semua akan bisa aku lalui tentunya dengan adanya Irfa disampingku.

Tapi makin lama waktu berlalu, aku merasa semakin tersisih bahkan waktu untuk bertemu Irfa pun tidak sesering dulu, sms pun hanya seadanya, aku makin rapuh menjalani kehidupanku tanpa dia. Setelah pertemuan itu tidak ada lagi pertemuan dengan Irfa. Aku makin tidak sanggup, kesehatanku drop dan kuliahku terganggu.

Melihat kondisiku ini, mamahku mulai curiga melihat perubahan yang terjadi padaku. Mamah akhirnya tahu setelah kuceritakan semuanya. Kata mamah sebaiknya aku mengakhiri hubunganku dengan Irfa.

Air mataku jatuh seketika, aku mencium kaki mamah dan aku memohon maaf dan berkata sejujurnya apa yang telah aku lakukan selama ini dengan Irfa, untuk pertama kali aku melihat mamah menangis, kecewa, marah mendengar pernyataanku saat itu aku seakan menjadi sosok perempuan yang hina akan tetapi pelukan mamah lah yang membuat hatiku tenang.

Mamah hanya meminta untuk bertemu dengan orang tua Irfa setelah dihubungi akhirnya mamahku dan ibunya Irfa bertemu di rumah om nya karna tidak mau hal ini diketahui oleh ayahnya Irfa.

Ketika bertemu aku hanya berharap keadilan terhadapku, akan tetapi aku sadar ternyata Ibu Irfa yang awalnya aku kenal ramah tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat jahat, perkataan yang keluar dari mulutnya pun mulai menyinggung perasaanku, dia hanya memenangkan hak anaknya tanpa memikirkan aku.

Mamahku hanya bisa menangis, saat itu akhirnya aku bicara kalau aku ikhlas kalaupun Irfa tidak mau bertanggung jawab karena ini sepenuhnya kesalahanku juga telah memberikan keperawananku padanya. Waktu itu aku meminta waktu untuk menenangkan hati karna tidak bisa secepat itu aku bisa mengakihiri semuanya, Aku dibawa pulang kerumah oleh mamahku untuk menenangkan hati dan pikiranku.

Ayahku tidak mengetahui akan hal ini karena aku meminta mamahku untuk tidak menceritakan hal ini kepada ayahku karna pada saat itu melihat kondisi ayahku yang sering sakit-sakitan, aku tidak mau kalau penyakit ayahku bertambah parah setelah mendengar anaknya seperti ini.

Ketika aku tidak disengaja membuka fb ku tiba-tiba yang kulihat hubungan antara aku dengan Irfa diakhiri olehnya apakah tidak ada sedikitpun Irfa memberikan waktu untukku menyembuhkan lukanya hingga dia tambah lagi luka nya dengan ini, aku menangis dan aku coba menghubungi ibunya disitu aku hanya mendapatkan kata-kata yang tidak aku lupa sampai saat ini sms ku berisi (tante kenapa Ifra mengakhiri hubungan secara tiba-tiba dan secepat ini aku salah apa tante) dan balasan dari ibunya hanya (kamu tidak salah apa-apa tapi kamu hanya seorang perempuan MURAHAN!!)

Detak jantungku seakan terhenti sejenak, aku seakan dimatikan oleh kata-kata ibunya terhadapku. Ya Allah seorang ibu yang juga perempuan sama sepertiku bisa berkata demikian, mesti nerima semua itu tapi aku bertekad aku mesti bangkit dari semua keterpurukan ini aku ingin menebus dosa-dosaku pada mamah dan ayah terutama pada Allah.

Dengan perasaan yang masih luka aku mencoba untuk berdiri tetapi Allah masih mengujiku. Selang beberapa hari setelah  kepulanganku ke Bandung, aku tiba-tiba diberi kabar agar segera pulang ke rumah mamahku karena penyakit ayahku makin parah dan mulai drop, aku pulang dijemput oleh supi akan tetapi sesampainya di teras depan rumahku aku melihat banyak sekali orang-orang berada dirumahku dan diluar kenapa aku temui bendera kuning? Siapa yang meninggal? Ketika aku berjalan menyusuri rumah ku aku melihat sosok lelaki tua yang kusebut ayah telah berbaring tanpa membuka mata dan bernafas lagi.

Gak bisa aku gambarin perasaan hatiku aku saat itu ya Allah kenapa berat sekali cobaan yang kau beri untukku, hanya itu yang bisa aku ucapkan, kenapa mesti ayahku? Disaat aku mulai bangkit kenapa ada hal lain yang menjatuhkan aku lagi.

Tidak hanya itu selang 7 hari meninggalnya ayahku aku liat Irfa sudah memiliki perempuan lain dan tidak perduli sedikitpun tentang kondisi ku saat itu sungguh aku sedih Irfa jahat sekali terhadapku.

Sekarang aku memutuskan untuk pindah kuliah dan memulai hidup baru, aku ingin melupakan masa laluku dengan Irfa. Aku yakin apa yang Allah kasih sekarang itu merupakan hal terbaik untukku, aku selalu bersyukur dan tetap tersenyum, I promise god always in my heart apa yang Irfa dan ibunya lakukan semoga aku bisa memaafkannya.

Aku Yang Tidak Mendengar Nasehat Orang Tua

Kisah ini adalah cerita nyata hidupku yang menderita karena tidak mendengar nasehat orang tua. Aku menikahi pria yang salah, kupikir dia cinta sejatiku, prilakunya yang baik dan sopan ternyata hanyalah topeng. Suami pilihanku ternyata seorang pecandu dan doyan selingkuh. Aku yang tidak mau mendengar nasehat orang tua dan kabur dari rumah sekarang harus gigit jari menyesal dan mengutuk diri, meski itu tidak ada gunanya lagi.

cerita durhaka orang tua

Assalamu’alaikum. Wr.wb… Sebelumnya perkenalkan nama saya Misriyani dari Purbalingga. Umur saya sekarang 25 tahun.

Tahun 2003 yang lalu usai tamat sekolah aku coba untuk ikut saudaraku merantau ke Tanjung Pinang.

Singkat cerita sebagai gadis desa yang lugu jujur aku kaget dengan kehidupan yang ada di kota tersebut, waktu demi waktu berlalu, akupun mulai bisa beradaptasi dan punya banyak teman.

Dan jujur banyak yang bilang aku mirip orang indo, cantik, ramah. Banyak juga cowok yang naksir dan mau jadi pacar aku, tapi semua aku tolak, dengan alasan belum mau pacaran.

Bulan berganti, siang itu waktu aku sedang berjualan di kedai kopi datang seorang pria, dia ulurkan tangan dan ngajak kenalan. Namanya Faizal orangnya tidak ganteng, tapi banyak humor.

Setelah perkenalan kami, kita jadi sering ketemu. Aku tidak tau apa yang aku rasakan, yang aku tau aku cuma nyaman jika bersama dia, kita jadi sering jalan bareng.

Lama -lama hubungan kami diketahui saudara-saudaraku, dan saudaraku tidak ada yang mendukung hubunganku bersama dia, dengan alasan dia bukan orang baik-baik, dia pelarian dari kota Bekasi, bahkan bapaknya punya banyak istri. Semua kabar buruk tentang dia tidak aku pedulikan, aku tetap nyaman bersamanya.

Setahun berlalu rasa kangen sama keluarga rasanya tak tertahankan. Awal tahun 2004 kami pulang ke kota masing-masing. Lama dirumah, jauh dari kekasih rasanya kesepian.

Aku coba menghubungi Faizal serta tanya soal kerjaan, dia jawab ada, datang aja kesini. Rasa bangga serta bahagia dengar kabar dari dia. Spontan kabar ini langsung aku ceritakan pada ortuku. Tapi jawab ortuku, GAK BOLEH, gak boleh ke tempat dia dan gak boleh menyayangi dia.

Alasannya ntar kayak bapaknya banyak istri. Tapi tekadku sudah bulat, diam-diam aku minggat ke Jakarta. Singkat cerita aku udah nyampe Jakarta dan dijemput Faizal, aku dikenalkan ke orang terdekatnya, sejak itu aku kenal keluarganya, dan sejak itu pula aku tinggal bersama mereka.

Suka dan duka kami lalui bersama. Dan dari situ pula aku tahu kalau Faizal seorang pecandu gele dan juga preman, tapi walau demikian aku tetap sayang padanya.

Tak terasa setahun berlalu dan hal yang tidak dikira terjadi. Desember 2004 aku hamil, Januari 2005 aku pulang berdua sama Faizal, dan tepatnya 20 januari 2005 aku resmi jadi istri Faizal. Bahagia rasanya pada waktu itu.

Tapi apa yang orang tua katakan terbukti benar ketika usia kehamilanku masuk 7 bulan. Faizal sering pergi dan selingkuh dengan wanita lain.

Teganya Faizal saat aku hamil tua dia malah enak-enakan di rumah kekasih barunya, menghabiskan duit yang harusnya aku pakai untuk biaya persalinan.

Aku teringat pesan orang tuaku dulu, aku malu mengakui bahwa mereka benar, apalagi melaporkan kelakukan Faizal ke mereka.

Kelakuah Faizal tidak berubah setelah anak kami lahir. Dia semakin jarang pulang dan kalaupun di rumah dia lebih sering marah-marah itupun marahnya karena masalah di luar rumah yang dia bawa pulang dan aku yang menjadi pelampiasan amarahnya.

Orang tuaku di desa sudah tahu kelakukan Faizal dan berapa kali mereka mengajakku kembali pulang, tapi aku menolak karena menganggap Faizal adalah pilihanku sendiri, aku tidak mau menyusahkan orang tuaku.

Sampai akhirnya ketika anakku berumur 6 bulan mereka menjemputku karena sudah tidak tahan melihat penderitaanku.

Sekarang anakku sudah kelas 1 SD, dan selama itu Faizal hanya sekali membesukku, tidak ada biaya yang dia kirimkan ke aku dan anaknya, tapi kata cerai pun tidak ada jadi secara hukum sampai sekarang aku masih istri sahnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, setiap hari yang kulakukan hanya menunggu kalau-kalau Faizal datang meminta maaf dan menjemputku. Tapi itu seperti menunggu hujan di musim kemarau, tidak mungkin terjadi. Malah yang kudapat adalah berita pernikahan Faizal dengan wanita lain.

Ah sungguh malang hidupku, ini mungkin buah dari dosaku sendiri yang tidak mendengar perkataan orang tua. Wassalam.

Oh Malangnya Hidupku

Saat sedang sendiri aku sering berpikir mungkin broken itu turunan. Aku benci dengan orang tuaku yang sering bertengkar ketika aku masih kecil, tapi saat aku dewasa justru aku yang hidup broken, mengenal seks bebas bahkan menjual diri, ah sungguh malang hidupku.

malangnya hidupkuNamaku Nhita, aku wanita biasa dan berasal dari keluarga broken. Masa kecilku tidaklah indah seperti anak-anak lain pada umumnya. Aku lebih banyak di rumah menemani Ibu yang sering bertengkar dengan Ayah.

Di sekolah aku termasuk berprestasi sayangnya kemampuan akademikku tidak didukung oleh fasilitas dan dorongan dari keluarga, hal itu membuatku lebih banyak berpacaran saja ketimbang belajar.

Aku mulai mengenal pria sejak duduk di kelas satu SMA, aku termasuk sering gonta-ganti pacar dan dari situlah aku mulai mengenal seks meskipun itu hanya sekedar peluk dan cium saja. Bencana pertama dalam hidupku terjadi ketika aku lulus SMA dan mengenal laki-laki yang kelewat berani.

Sebut saja namanya Doni, sejujurnya aku hanya iseng saja dengannya dan aku tahu dia juga hanya main-main denganku. Tapi dari iseng-iseng itu kami malah melakukan tindakan tidak senonoh sampai aku hamil. Aku jelas menolak menikah dengannya karena aku menganggap dia tidak pantas menjadi suamiku dan ayah dari anak-anakku.

Mungkin keluarga broken itu turunan, aku sering berpikir begitu jika sedang memikirkan hidupku yang tanpa arah ini. Kehamilanku diketahui Ibu, karena tak kuat menanggung malu akhirnya aku diungsikan ke luar daerah.

Di daerah baru ini aku betul-betul sangat menderita. Ketika aku melahirkan anak laki-lakiku aku merasa sangat bahagia tapi perasaan itu tidak lama, sepasang suami istri mengambil anakku karena mereka tidak mampu memiliki anak.

Menurut keluargaku itu lebih baik bagi masa depanku dan masa depan anakku. Hatiku remuk redam, buah hati yang seharusnya berada di dekapanku dalam sekejap berpisah dariku.

Hidupku hancur sampai suatu saat aku dilamar seorang pria asal jawa (sebut saja namanya Iwan). Dia seorang duda satu anak. Aku tidak pernah memberitahunya soal kondisiku yang sudah punya anak. Kami akhirnya menikah, dan selama dia bekerja akulah yang mengurus anaknya di rumah.

Pernikahan kami pada dasarnya bahagia hingga suatu waktu dia mengetahui masa laluku dari seorang teman. Dia sangat terpukul dan memilih menceraikanku. Beruntung aku belum sempat hamil saat kami berpisah. Kejujuran memang adalah pondasi pernikahan. Mas Iwan menceraikanku karena merasa dibohongi.

Sejak perceraian itu hidupku tidak bertambah baik, landasan agama yang kurang ditambah lingkungan tempatku besar yang tidak mendidikku dengan benar membuatku terjun bebas ke dunia hitam. Aku yang sekarang bertambah akrab dengan seks bebas.

Aku berpikir apa yang mesti kupertahankan toh lebih baik menikmati dunia ini ketimbang memikirkan masa depan yang terlalu sulit kurengkuh. Saking putus asanya aku dengan hidup kadang aku menjual diri.

Kini aku dekat dengan seorang pria, dia mantan bosku. Dia sama sekali tidak mengetahui masa laluku. Entahlah aku bingung apakah aku harus jujur kepadanya atau berohong lagi? aku hanya butuh seorang pendamping yang mampu melindungiku.

Ya Allah Kembalikan Kebahagiaan Keluargaku

Aku akui bersalah telah berselingkuh dan berkhianat kepada keluarga, kini istriku seolah hilang kepercayaan kepadaku dan balik berselingkuh. Sampai sekarang aku masih mempertahankan keluargaku meski istriku selalu menantangku bercerai.

kembalikan keluargaku

Aku seorang suami dengan satu isteri dan dua anak laki-laki, sudah 3 tahun ini keadaan rumah tanggaku terasa gersang, isteriku sudah gak seperti dulu lagi, meski aku akui semua itu karena salahku juga, aku terlalu asik dengan pekerjaanku dan aku telah mengkhianati isteriku walau hanya sebatas selingkuh tipis-tipis melalui hp dan facebook.

Untuk menebus kesalahanku tersebut, aku memberi kebebasan yang besar kepada isteriku, kuijinkan dia mengikuti kegiatan di kantor maupun di perumahan tempat aku tinggal, kubebaskan isteriku ikut pengajian-pengajian, ikut grup musik qasidah, dan bahkan aku juga mengalah untuk berhenti menjadi pelatih karate di sekolah.

Aku juga mengalah untuk selalu mengerjakan pekerjaan rumah dari nyuci, nyetrika, bahkan masakpun aku lakukan, semua itu ku lakukan demi sayangku pada isteriku.

Tapi semua itu seperti sia sia, isteriku tetap gak berubah, bahkan semakin menjadi jadi, kebebasan yang kuberikan gak ada artinya. Bahkan dia berani menjalin hubungan dengan pria lain, saat kutanya baik-baik, dia malah menantangku untuk menceraikannya. Tidak aku lakukan karena aku masih sayang dia.

Kini aku tetap bertahan demi keutuhan rumah tanggaku, dengan bersabar dan berdoa kepada Allah agar keluargaku kembali seperti dulu, semua kusadari berawal dari kesalahanku, tapi apa sudah gak ada tempat lagi buatku bertobat?

Tolong pembaca ceritacurhat.com yang budiman, beri saya saran dan masukan bagi masalahku ini. Terima kasih.

 

Istriku Yang Kucintai Ternyata Mandul

istri mandul

Aku sangat mencintai istriku tapi Dokter memvonisnya mandul. Aku tak tahu harus berbuat apa sampai aku berkenalan dengan seorang wanita muda bernama Tuti yang bersedia memberiku anak.

istri mandul

Cerita ini bermula dari pertemuanku dengan seorang wanita yang menurutku sederhana tapi menarik hatiku, namanya Inne.

Kami pertama kali bertemu di tempatku bekerja, di sebuah perusahaan farmasi terkemuka. Setelah berkenalan dan berpacaran selama 1 tahun, aku memutuskan untuk menikahinya.

Aku sangat mencintai Inne, aku yakin dia adalah belahan jiwa dan cintaku sepanjang hidupku, namun dalam perjalanan rumah tanggaku yang menginjak tahun ke 5, aku belum juga mendapatkan keturunan.

Akhirnya kami memeriksakan diri ke dokter dan istriku di vonis mandul karena terkena endreometrosis atau jalan rahimnya tertutup oleh penebalan dinding rahim, ohhhhh dunia serasa mau kiamat.

Di usia perkawinanku yang beranjak ke 6 tahun, aku berkenalan dengan seorang wanita bernama Tuti yang saat itu berusia 24 tahun.

Dan akhirnya aku curhat mengenai rumah tanggaku. Dan tak kusangka dia bilang, “Aku bersedia memberikan kamu seorang anak dari rahimku, setelah itu aku akan memberikan ikhlas anak itu nantinya untuk kamu dan istrimu.”

Akhirnya ku beranikan untuk mengatakan sejujurnya kepada istriku, dan meminta izin untuk menikahi Tuty, selama 1 tahun berjalan istriku menerima dimadu, dengan harapan anak tersebut dapat kita asuh bersama.

Dia bilang sudah mantap karena terinspirasi sebuah film India, tapi aku tidak tau apa judulnya. Akhirnya aku berpacaran dan melakukan perselingkuhan dengan tujuan untuk mendapatkan anak, tidak lama 2 bulan kemudian Tuti hamil, aku pun bahagia bercampur bingung.

Namun cerita berkata lain, ternyata Tuti tidak mau anaknya aku ambil, dia tidak menepati janjinya terdahulu, malah dia bilang “tidak apa aku tidak menjadi istrimu lagi tapi anak ini aku yang rawat sendiri, atau kamu ceraikan istrimu agar bisa hidup bersamaku”. Aku menjadi kesal namun kasihan dengan anakku jadinya.

Selama 1 tahun berjalan, Inne dan aku penuh pertengkaran bila membahas hal ini, sampai satu ketika Inne meminta untuk memindah namakan SHM rumah atas nama dirinya, agar kehidupan rumah tangga kita lebih tenang katanya.

Tanpa curiga aku turuti kemauannya dan sebagai bukti besarnya cintaku kepadanya, namun 1 bulan setelah hal itu terjadi malah Inne minta cerai dariku, dan aku terusir dari rumahku.

Akhirnya kini aku hidup bersama Tuti, anak kami sudah 3 orang, semuanya laki-laki yang nakal dan lucu. Sampai saat ini aku masih teringat dengan Inne, mantan istriku yang tetap aku cintai sepanjang hidupku, saat aku melintasi daerah rumah kita dahulu, hati ini pasti bergetar tak karuan, walaupun kisah ini telah terlewati 5 tahun yang lalu, semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang.

Masihkah Aku Diampuni Oleh-Nya

Cerita cinta dan nafsu

Wajah cantik yang kumiliki seperti kutukan buatku, kisah hidupku begitu memilukan, semua laki-laki yang kuhormati begitu terobsesi menikmati tubuhku. Bahkan setelah dewasa, laki-laki yang menjadi pacarku selalu tergiur mengajakku berbuat dosa…. Dan saat kutemukan pria yang sangat baik, dia malah meninggalkanku setelah kuceritakan semuanya. 

Cerita cinta dan nafsuKenalkan namaku Nadia (Nama Samaran) kelahiran tahun 1993, dan aku telah berencana untuk mengakhiri masa lajangku.

Sebelum aku menikah dan memulai hidup baru dengan Dava (Nama Samaran) aku ingin menutup lembaran hitam yang pernah aku alami dengan menceritakan kisah cintaku yang kelam.

Aku sadar dengan cerita curhatan aku ini adalah aib dan akan banyak orang yang memandang rendah diriku.

Tapi, ini adalah aku, aku mengaku bersalah dan berdosa. Namun bukan berarti aku tidak ingin berubah. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah memuat ceritaku ini.

Menikah muda adalah caraku untuk menutup masa laluku. Berdampingan dengan Dava memulai kehidupan cinta yang normal dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku memaki diri sendiri, menghina diri sendiri, dan menjerumuskan diri sendiri, dan inilah kisahku.

Ketika aku masih duduk dibangku TK , Ibu-Ayahku sudah sering bertengkar dan akhirnya berpisah. Aku ingat sekali ketika nenek (dari pihak ayah) menyembunyikan aku didalam lemari guna menghindari Ibu kandungku mengajakku tinggal bersama. Singkatnya ayah dan ibu saya memperebutkan hak asuh anak.

Namun pihak ayahlah yang menang, sehingga aku tinggal bersama keluarga dari pihak ayah sedangkan ibu entah tinggal dimana (aku sudah lupa karena kenangan saat itu ketika aku masih TK).

Kehidupan pun berjalan, aku hidup layaknya anak TK lain yang setiap pagi atau siang aku berangkat sekolah dan selalu diantarkan (aku lupa siapa yang sering mengantarkanku, mungkin bibi atau paman).

Jelang sore aku suka bermain kelereng, lebih tepatnya melihat teman-teman lain bermain kelereng. Aku hanya melihat karena tidak jago main kelereng.

Ketika asyik bermain dengan mereka, aku dipanggil oleh kakek (tapi sekarang sudah almarhum) lewat jendela kamarnya. Disuruhlah aku memasuki kamarnya. Dan apa yang terjadi?

Aku pikir tangan-tangan mungilku diminta untuk memijat kakinya (karena aku melihat dia sudah mengangkat sarungnya hingga ke lutut) ternyata aku salah. Dia memintaku untuk mengulum kemaluannya.

Jujur, ketika itu yang ada dikepalaku adalah perasaan jijik. Karena bagiku itu kan buat pipis. Percaya tidak, saat aku mengetik curhatan ini tanganku gemetaran, kenangan itu sangat memualkan dan memusingkan.

Kala itu aku hanya bisa merasakan rasa jijik dan bingung. Bingung mau diapakan kemaluan kakek saya itu. Dengan intruksinya dia menyuruhku memaksukkan kemaluannya ke mulut kecilku.

Entah mengapa kenangan buruk itu masih sangat membekas di kepalaku. Aku masih sangat ingat sekali ketika aku jijik karena mengulum “itu” terpaksa aku berkali-kali membuang ludah di dekat jendela.

Setiap aku membuang ludah dan kembali lagi ke kasur untuk mengulum lagi aku bersedih melihat teman-teman yang lain masih asik bermain kelereng sedangkan aku harus dikamar membersihkan kemaluan kakek dengan mulutku.

Aku tidak ingat kejadian itu terjadi berapa kali semasa kecil. Bahkan terkadang aku berpikir jangan-jangan itu hanya mimpi buruk yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Tapi, jika itu mimpi buruk aku rasa tidak mungkin karena aku sangat jelas mengingat setiap detil kejadiannya. Serasa kejadian itu baru terjadi kemarin. Dan kenangan itu cukup membekas hingga aku mampu menceritakannya pada kalian.

Waktu berjalan, terus berjalan. Keadaan Ayah-Ibu yang berpisah membuat aku dan saudara-saudaraku sering pindah tempat tinggal kadang ikut ayah, kadang ikut ibu, kadang ikut kakek-nenek dari pihak ayah kadang juga sebaliknya.

Apa yang terjadi semasa kecil ku itu membuat aku menjadi anak yang sedikit pendiam namun beranjak SD aku mulai berani bergaul dengan teman-teman.

Hingga akhirnya tiba suatu hari ketika aku berusia 13 tahun tepatnya kelas 1 SMP aku ditembak oleh seorang cowok berusia 22 tahun untuk dijadikan pacar. Konyol bukan?.

Cowok itu adalah teman Pamanku. Setiap hari aku sering melihatnya bermain ke rumah kami. Karena aku satu rumah dengan paman, bibi, dan juga nenekku (ayahku bekerja di luar kota, setahun sekali pulang kalau ibuku sudah tidak pernah bertemu denganku bertahun-tahun, kakak dan adikku ikut ibuku).

Ketika aku berusia 13 tahun, aku lumayan manis, tinggi 163 cm, rambut hitam lurus alami, kulit sawo matang namun cerah karena aku jarang sekali keluar rumah kecuali untuk sekolah atau ke pasar pagi-pagi.

Aku sudah menolak dengan sangat tegas teman pamanku itu namun dia memaksa, sebut saja namanya Indra (Nama Samaran).

Aku jelas menolaknya karena aku belum ingin berpacaran dan tidak tau sama sekali tentang pacaran. Apalagi usianya yang terbilang cukup jauh denganku.

Namun orang yang melihatku pasti tidak akan mengira kalau aku kelas 1 SMP, paling sering mereka atau teman-teman Indra mengira aku anak SMA mungkin karena tinggi badanku.

Kembali ke Indra yang memintaku menjadi pacar ternyata tidak main-main. Dia menelpon ke rumah setiap hari beberapa kali jelas aku jadi ketakutan.

Keluargaku sangat ketat dalam mendidik anak perempuan. Makanya aku tidak enak hati kalau ada laki-laki menelpon setiap hari. Aku disalahkan karena memberi nomer telpon. Padahal? Indra sudah tau nomor telfon rumah dari pamanku.

Indra bilang dia tidak akan berhenti menghubungiku selama aku tidak menerimanya menjadi pacar. Aku semakin takut. Akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya menjadi pacar dengan niatan 1 bulan saja terus aku putusin. Itu niatku.

Namun keputusanku ini menjadi bencana bagiku. Yaa. Kurang dari 1 bulan kami berpacaran aku menceritakan traumaku ketika TK kepada Indra.

Dia bilang dia sedih mendengarnya dan marah kenapa kakekku melakukan hal itu. Jujur saat itu entah mengapa aku merasa diriku ada yang memperhatikan, rasanya tenang dan damai ketika ada orang lain yang peduli dengan kehidupanku.

Kurang dari satu bulan kami berpacaran dia sudah menciumku. Dan menyentuh tubuhku. Saat itu aku merasa kaget, mual, namun aku tidak bisa menolak karena aku merasakan rasa kaget bercampur penasaran.

Jadi ini rasanya ciuman. Begitu pikirku. Lambat laun dan dilain hari dia mengajakku ke rumah bibinya. Kemudian dia mengajakku ke dapur untuk membuat minuman. Aku sama sekali tidak curiga, lagi pula mau curiga apa?.

Dia menyuruhku untuk duduk dikursi kayu di dapur dan menyuruhkan mengangkangkan kakiku dan bla bla bla. Aku benar-benar tidak tau apa yang dia lakukan. Aku hanya menurut saja.

Aku yang sekolah di madrasah pun tidak tau kalau yang berusaha indra lakukan adalah menyetubuhiku. Demi Tuhan, saat itu aku benar-benar tidak tau, yang aku tau adalah aku harus nurut.

Bla bla bla dia tidak berhasil melakukannya mungkin karena aku masih “Utuh”. Hari-hari pun berlanjut dan suatu ketika dia berhasil melakukan hal “Itu” kepadaku. Yang aku rasakan hanya sakit.

Sampai hal itu terjadi aku juga masih belum tau bahwa “Itu” dinamakan hubungan suami istri. Beberapa kali aku melakukan itu aku hanya diam, karena tidak tau harus berbuat apa.

Semakin lama, semakin aku mengetahui bahwa ini adalah hubungan suami istri. Namun ketika aku menyadari bahwa yang kuperbuat adalah salah aku malah pasrah. Aku merasa sudah kepalang basah, toh sudah ternoda mau bagaimana lagi.

Saat itu aku menjalani kehidupan nista hingga setahun lebih lamanya. Dan tiba suatu ketika aku putus dengannya karena ketauan oleh keluargaku. Berpisahlah aku dengannya. Dan hidupku sekali lagi hancur dan aku merasa menjadi wanita hina sehina-hina nya.

Selidik punya selidik ternyata Indra menggunakan ilmu hitam untuk menarikku. Aku mengetahui ini setelah beberapa tahun berpisah dengannya.

Dan yang membertihukan hal ini kepadaku 80% bisa dipercaya. Karena dia mengatakannya kepadaku tanpa aku minta. Mungkin dia tau setelah berpisah dari Indra aku mengutuk diriku sendiri, mungkin dia mengatakan kebenaran itu dengan harapan agar aku bisa bangkit dari masa lalu dan tidak lagi menyalahkan diri-sendiri terus menerus.

Namun apapun itu aku tetap tau bahwa aku juga berdosa besar. Tidak peduli Indra memakai Ilmu Hitam atau pink tetap saja aku yang sudah tau itu dosa malah tidak berhenti.

Ok. Dua aib sudah aku ungkapkan. Kemudian aibku berikutnya adalah Ayahku. Setelah keluargaku tau bahwa aku telah berpacaran dengan teman pamanku. Mereka memutuskan untuk membawaku kepada Ayahku agar aku bisa dididik langsung oleh orang tuaku.

Life must go on, aku pun hidup dengan ayah dan juga ibu tiriku dan adik tiriku. Beberapa lama menjelang ayah-ibu tiri ku bertengkar dan berpisah. Jadilah aku tinggal sendiri dengan Ayahku.

Datanglah bencana itu. Ketika ayahku pulang malam-malam dia langsung mengetuk pintu kamarku dengan sangat keras, aku takut sekali, karena itu aku tidak membukanya namun semakin lama semakin keras, karena takut pintu kamar didobrak dan malu pada tetangga karena suara berisik.

Akhirnya aku membuka pintu kamar dan mendapati ayahku berbau alkohol. Aku bertanya ada apa yah? dia menjawab ayah mau tidur di kamar ini.

Deg. Aku takut sekali, maka aku tutup pintunya mendadak namun tangan ayahku menahannya dan alhasil dia berhasil masuk kekamar kecilku. Aku dengan takut tidur dikasur karena ayah sudah mengunci kamarku.

Aku benar-benar kalut saat itu. Tidak tau harus berbuat apa. Ayah bilang dulu waktu kecil aku sering di nina bobo in ma ayah. Aku jadi mengurangi kekawatiranku, aku rasa mungkin aku berpikiran terlalu jauh.

Kemudian aku tidur disamping ayahku. Ketika aku setengah sadar antara tidur dan bangun aku merasa pelukan ayah sangatlah tidak wajar karena itu aku menjaga kesadaranku agar tidak benar-benar tertidur.

Ternyata benar dia berusaha menggesekkan “Itu” nya ke badanku. Aku memborantak, itu pasti. Karena saat itu aku sudah tau apa yang akan terjadi kalau sampai diam.

Aku berusaha menciptakan suara-suara berisik entah dari memukul dinding kamar, menggerakkan kaki agar menjatuhkan barang, berharap karyawan yang memang tidur di kamar belakang agar segera bangun dan menolongku.

Aku sudah masa bodo kalau sampai harus menahan malu karena ulah ayahku ini. Namun semua berhasil aku atasi, dan ayahku berhasil aku usir dari kamar. Aku selamat. Beberapa kali kejadian itu berulang namun aku sudah bisa mengatasinya dengan tidak akan menerima ajakan ayah tidur di kamarnya atau sebaliknya dikamarku.

Kemudian lembaran hitamku belum berhenti disini. Saat itu aku sudah kelas 1 SMA dan aku kembali berpacaran dengan seorang pria yang selisih umur 3 tahun denganku, panggil saja dia Riko (Nama Samaran).

Kurang dari satu bulan kami berpacaran, kami telah melakukan hubungan “itu” dengan penuh nafsu, sebelumnya aku sudah membuat perjanjian dengannya jangan sampai ketahap “itu” jikalau dia melanggar maka kita putus.

Perjanjian itu lancar-lancar saja sekitar tiga mingguan namun minggu ke-4 sudah mulai goyah. Setiap kami ketemuan, biasanya cukup ciuman saja.

Namun disela-sela ciuman dia selalu meminta “itu” dan aku selalu menolak dengan tegas. Hingga suatu siang hal “itu” terjadi juga. Dan itu aku lakukan dibawah kesadaranku bukan tidak tau apa-apa lagi seperti dulu.

Awalnya aku bilang ke Riko hanya kali ini saja aku mengijinkan tapi jangan pernah minta lagi. Selain itu aku juga bodohnya sudah sampai ubun-ubun.

Namun apa yang terjadi kami malah melakukan “itu” berkali-kali. Hingga suatu ketika Riko selingkuh, aku marah sekali padanya. Aku benar-benar kecewa dan hancur, rasanya semua cowo sama saja.

Dan inilah kesalahan terbesar sepanjang hidupku yang pernah aku jalani. Cerita cinta ku yang berbalut nafsu dengan Riko sepertinya akan bubar.

Aku kesal pada Riko karena itu aku berniat melakukan hal yang sama. Aku selingkuh dengan laki-laki lain. Bahkan aku sampai tidur dengan laki-laki ini. Aku rasa aku sudah berada dilimbah dosa sekarang, benar-benar jatuh dan takkan bisa bersih lagi.

Namun aku sadar perbuatan aku ini salah. Aku menyakiti Riko padahal riko meski selingkuh dia tidak sampai tidur dengan selingkuhannya, sedangkan aku apa?.

Kasihan juga selingkuhanku, meski dia tau aku tidak benar-benar mencintai dia seperti aku mencintai Riko namun dia tetap memberikan 100% perhatiannya kepadaku. Aku sudah benar-benar tidak tahan dengan perasaan bersalahku.

Pada saat bersamaan datanglah seorang pria yang baik ke kehidupanku, dia bilang dia suka sejak pertama kali bertemu. Dia bilang aku benar-benar wanita impiannya.

Ketika aku bertanya kenapa, dia jawab “aku suka kamu yang sederhana, melihatmu setiap hari berbelanja dipasar, membuatku semakin menyukaimu yang apa adanya”. Sebagai wanita tentu aku senang jika ada yang menyukaiku dari sisi sebenarnya bukan sebatas nafsu terhadap tubuhku yang tinggi dan langsing.

Orang yang menyukaiku itu bernama Yudi (Nama Samaran), awalnya aku sadar dia adalah orang yang sangat baik hati, sopan santun, dan jika aku berpacaran dengan dia aku yakin dia tidak akan berani meminta “itu”.

Aku berpikir, apakah mungkin Yudi dikirim oleh Tuhan agar aku memiliki kekuatan untuk meninggalkan selingkuhanku dan juga Riko pacarku. Secara selingkuhanku dan Riko sama-sama menyesatkan.

Apalagi aku baru tau kalau selingkuhanku ini rada saiko. Saiko itu apa yaa?. Dia itu aneh, nekat, suka mabok, suka boonk, tapi super duper perhatian ma aku.

Aku merasa itu situasi dimana aku tidak akan tertolong. Aku terlalu kotor untuk mendapatkan Yudi, namun aku tak bisa lepas dari selingkuhanku karena dia selalu mengejarku bahkan mengancam dan menggangu ketentraman teman-temanku, disisi lain orang yang paling aku cintai adalah Riko pacarku.

Lama aku berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku tertekan dengan keadaan sekolah yang penuh dengan tanggungan biaya hingga aku malu, aku juga ketakutan dengan sikap ayahku yang tiba-tiba menjadi orang lain jika malam tiba.

Aku berpikir kalau putus dengan Riko, bagaimana aku melanjutkan hidup? Riko adalah sandaranku, aku selalu cerita sama Riko. Ketakutanku terhadap ayah, malu karena gak bisa bayar uang sekolah, sedih karena rindu adik-kakak-dan ibuku yang jauh sekali.

Aku juga takut jikalau nekat memutuskan Riko dan berpacaran dengan Yudi, aku takut kalau-kalau aku akan kena karma. Aku sangat percaya hukum alam itu ada. Jika sampai aku mutusin selingkuhanku dan Riko dan berpacaran dengan Yudi yang jelas-jelas akan menjaga kehormatanku maka aku akan terkena balasan.

Sungguh aku pikirkan masak-masak. Kalau aku memilih untuk sendiri aku juga tidak yakin aku sanggup menjalani hari-hari itu.

Aku cukup pendiam dikalangan keluarga besar, aku tidak berani mengobrol dengan mereka. Aku juga hanya berani bercanda ria dengan sahabat dan teman-teman.

Aku tidak pernah berani menceritakan 100% kisah hidupku pada sahabatku. Aku sadar betul aku bisa jadi orang sakit kalau terus-terusan tampak menjadi orang normal dan tidak mengungkapkan semua yang menjejal kepalaku.

Oh iya, hampir lupa. Ketika aku merasa tidak sanggup lagi hidup dengan ayahku maka aku memutuskan hidup bersama keluarga paman-bibiku, kebetulan aku sangat akrab dengan bibiku ini.

Namun ternyata sama saja dengan ayahku, pamanku ini juga sering mengambil kesempatan untuk menyentuhku ketika malam hari saat bibi sudah tidur atau ketika bibi tidak dirumah.

Bahkan ketika aku jatuh sakit hingga 1 bulan lebih dikamar dalam keaadaan lemas dia masih mencuri kesempatan untuk menyentuhku dengan tidak sopan. Seharusnya aku dirawat dirumah sakit, namun karena biaya aku terpaksa harus dirawat dirumah. Saat aku sakit tubuhku bagai mayat yang benar-benar lemas, sedikit saja bergerak atau berjalan aku jatuh pingsan.

Kembali lagi ke cerita cintaku, aku sangat bingung dan merasa bersalah kepada mereka semua. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk jujur kepada Riko apa saja yang telah aku perbuat dengan selingkuhanku.

Namun ajaibnya dia masih menerimaku dengan syarat jangan berhubungan lagi dengan selingkuhanku itu. Tentu aku meng-iyakannya. Tapi aku masih saja merasa berdosa. Karena aku benar-benar ingin berhenti melakukan hubungan suami-istri ini, bahkan aku sering menawarkan Riko untuk menikahiku secara sirih tapi dia masih belum setuju.

Hingga akhirnya, aku mengatakan kepada Riko bahwa aku akan dijodohkan dengan Yudi oleh keluargaku (Kebetulan keluarga besar sangat menyukai Yudi ketika tau Riko dan yudi saling mengenal), aku mengatakan ini dengan harapan agar riko segera menikahiku agar kita dapat menjalani hidup normal.

Namun dia menolaknya. Aku katakan pada riko bahwa aku bersedia untuk bersetubuh dengannya asalkan riko mau menikahiku meski hanya sirih. Aku benar-benar ingin menyudahi masa lajangku.

Aku sadar aku ini ternyata tidak bisa menjaga diri dengan baik. Karena itu aku ingin dinikahi dengan harapan aku bisa ikhlas ketika ditiduri oleh suamiku, namun riko tetap tidak setuju.

Aku tanya kenapa, dia bilang belum siap. Aku jadi berpikiran bahwa dia siap menerima tubuhku namun tidak siap menerimaku seutuhnya. Cinta jenis apa ini? Dengan menyesal aku mengatakan kepadanya bahwa aku benar-benar mencintainya namun jika dia tidak mau menikah denganku maka aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.

Riko menerima keputusanku dengan tangisan aku juga menangis bersamanya. Riko bilang aku akan lebih bahagia jika bersama Yudi. Aku dan Riko resmi berpisah.

Yudi semakin menunjukkan keseriusannya padaku, dia mengunjungi keluargaku, dan keluarga besarku sudah benar-benar menerimanya dan meminta kami segera melanjutkan kejenjang berikutnya. Aku sadar siapa diriku, aku tau yudi itu sangat baik sekali bahkan jauh lebih baik dari pacar-pacarku sebelumnya.

Entah kenapa aku sangat yakin bahwa Yudi ini berbeda, dia takkan menyentuhku seperti mantan-mantanku terdahulu dan itu yang aku idam-idamkan. Aku tak ingin disentuh sebelum menikah karena itu aku sadar bahwa diriku terlalu kotor.

Selain aku masih mencintai Riko aku juga tidak mau hancur lagi karena Yudi, karena itu aku menceritakan semua aib ku pada Yudi. Karena meski baru 3 bulan kami berhubungan keluarga kami dan kami sendiri memang sudah memiliki niat untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius.

Dari A-Z aku ceritakan ke Yudi, aku tidak mau yudi salah paham dengan apa yang terlihat dari parasku. Aku ceritakan semuanya tanpa terkecuali tentang 3 mantan pacar yang sudah tidur denganku. Tentang 1 kakek kandungku, 1 ayah kandungku, 1 paman kandungku yang menyentuhku (tidak sampai menyetubuhi).

Aku tau akibatnya bisa fatal, tapi sudah jadi prinsip hidupku bahwa orang yang menikah denganku harus tau semua aib ku sebelum benar-benar menjadi suamiku karena aku merasa aku ini sudah terlalu berlumuran dosa untuk ditoleril.

Seandainya jika aib ku hanya 1 biji mungkin aku akan merahasiakannya. Namun ini sudah terlalu keterlaluan lagipula Yudi orang yang sangat baik rasanya tidak adil jika dia mendapatkan seorang istri yang tidak jujur akan perbuatannya selama ini.

Aku sadar kejujuran ini akan membuat dia berbalik membenciku bahkan muak padaku. Namun tetap harus aku lakukan. Tapi diluar perkiraan dia bilang semakin menyayangiku dan menerimaku apa adanya bahkan dia berjanji akan membawa aku pergi dari rumah keluargaku agar aku bisa memulai hidup baruku bersamanya.

Namun lidah tidak bertulang ucapan cinta mengiris kalbu. Suatu hari tiba-tiba dia menghilang tidak ada kabar. Aku kawatir pasti. Tapi, aku tidak tau harus mencari kemana. Aku belum hafal jalan menujuh rumahnya yang cukup jauh di daerah pegunungan.

Apalagi aku dan dia sedang long distance, berbeda pulau ini dikarenakan aku akan menyelesaikan sekolah SMA ku yang kurang dari 2 tahun akan lulus, dan yudi sedang menjaga ibunya di kampung karena kondisi sudah semakin lemah.

Tiga hari tiga malam dia menghilang aku berhasil menemukannya via telepon lewat sahabat karibnya. Bibiku sudah curiga bahwa dia sudah tidak bisa mencintaiku karena masa laluku.

Bibi juga bilang ” Apa ku bilang.. jangan cerita ke Yudi, sekarang kamu lihat sendiri kan dia meninggalkanmu”, jujur saja aku tidak percaya perkataan bibi kesayangan ku ini hingga akhirnya aku mendengarnya sendiri dari suara yudi ditelfon ketika dia menceritakan alasan sebenarnya mengapa dia menghilang dariku.

Telak aku jatuh lagi. Nafasku serasa berhenti mendengar obrolan mereka ditelfon. Benar kata tanteku dia ILFIL alias ilang filing, dan benar dugaanku, aku terkena karma. Ya sudah, sudah terjadi, aku akan tetap jalani hidupku. Life must go on.

Tidak lupa aku menggores silet ke pahaku (agar tidak terlihat) sebagai obat bius, karena disaat aku benar-benar terpuruk dan air mata tidak mampu mengobati luka basah dihatiku aku cenderung teringat semua yang terjadi dan kembali merasa hina, benar-benar hina.

Sejak putus dengan yudi aku menjadi sosok yang lebih pendiam baik dilingkungan keluarga atau disekolah. Terlebih lagi kejadian menjelang ujian kenaikan kelas 3 SMA, aku merasa mati rasa. Rasanya bumi telah berhenti berputar. Aku sendiri sekarang dan aku tidak berniat untuk mencari pengganti yudi, riko, atau siapapun.

Aku menertawai diriku sendiri. Meski Riko sudah tau bahwa aku tidak jadi menikah/tunangan dengan yudi dia tidak mencibirku bahkan dia malah minta balikan lagi.

Namun luka ini masih terlalu basah untuk mencintai lagi. Lagi pula aku juga punya prinsip sekali putus tidak mau nyambung lagi, kalau sekali-kali boleh, tapi kalau putus-nyambung-putus-nyambung-putus lagi itu bukan aku banget.

Aku kalau pacaran yaa selalu serius, aku tidak mau disakiti karena itu aku juga tidak mau menyakiti. Kembali berpacaran dengan riko sama saja aku menyakiti dia bertubi-tubi begitu pikirku. Aku putuskan untuk melewati semua ini sendiri, anggap saja ini sebagai hukuman bagiku.

Beberapa bulan aku menjalani hidup seperti patung, beberapa teman juga sedikit aneh melihatku. Namun aku bisa tersenyum, dan kadang-kadang bercanda juga dengan mereka. Setiap jam istirahat aku lebih suka menyendiri merasakan angin dilantai dua sekolah atau di atap sekolah tepatnya lantai empat.

Selama aku sendiri aku banyak memikirkan tentang hidupku, masa depanku, cita-citaku, aku juga sering berkhayal aku akan segera menikah.

Dengan menikah aku bisa lepas dari rumah paman dan ayah ku yang mesum. Toh untuk tinggal sendiri di kos aku tidak diijinkan. Mengaku pada bibi hanya akan membuat keluarga harmonis itu hancur, kasian keponakan-keponakanku yang masih SD.

Meski paman ku sudah aku tampar, pukul, tendang, usir dari kamar tetap saja dia selalu mencuri kesempatan. Rasanya aku benar-benar ingin mati saja, tapi aku takut siksaan yang akan menimpaku, kalau aku minggat aku takut malah menambah daftar hitam hidupku gara-gara diperkosa dijalan (amit-amit), kalau aku cerita kepada keluarga besarku aku takut mereka akan pecah.

Aku putuskan untuk menjalani hidupku dengan sabar, terkadang kalau sudah sampai down seperti ini aku merasa rindu pada ibu kandungku. Tapi ibuku juga tidak dalam keadaan baik dikampungnya. Aku dengar dari keluarga disana bahwa beberapa kali ibu-ku dirawat dirumah sakit jiwa.

Mungkin dia sangat sedih hidup terpisah seperti ini. Pernah aku berniat untuk hidup bersama Ibuku saja, tapi aku takut kalau disana aku akan bertemu dengan pria-pria hidung belang lagi terlebih lagi ibu ku kadang kalau lagi tidak kambuh bisa sangat baik sekali, kalau lagi kambuh bisa lempar-lempar barang atau teriak-teriak.

Pernah Ibuku datang kerumah ayah dan menginap selama beberapa minggu (akhirnya aku bertemu ibuku setelah 10 tahun tidak bertemu). Selama beliau menginap aku pernah dijambaknya, dipukul beberapa kali, dan didorong hingga nyaris jatuh.

Dia marah karena melihat aku berkerudung, kebetulan ibu-ayahku berbeda keyakinan. Aku sendiri pernah ganti-ganti agama dari islam-kristen ketika masih anak-anak. Tapi sekarang sudah islam dan tidak berniat pindah agama lain. Meski demikian islamnya aku juga jauh sekali dari sempurna.

Kembali kemasa percintaanku aku menjalani hari-hari dengan bersabar, aku semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kehidupan terus berjalan begitu terus yang ada dikepalaku. Hingga suatu hari akhirnya aku bertemu dengan pacarku yang sekarang, yang insya Allah kali ini dia benar-benar serius menikah denganku meski terpaksa harus nikah sirih dulu.

Tentu saja sama seperti dulu, aku telah menceritakan aib ku dari A-Z, aku tau secara kesopanan cowoku yang sekarang atau Dava sangat jauh dari Yudi.

Dari sisi tutur kata yang manis jelas jauh dari Yudi (calon tunangan), secara umur apalagi, dava berbeda 14 tahun dengan ku. Tapi aku merasa dia sudah sangat dewasa dan matang untuk aku jadikan seorang suami. Aku tidak lagi mencari pacar karena cinta saja.

Kini pencarianku lebih ke arah yang bisa menerimaku “apa adanya”, yang bisa nge”Mong”, yang benar-benar bisa menjagaku, yang nyambung dengan cara berpikirku, aku sadar apa yang terjadi dalam hidupku dimasa-masa belia – remaja hingga sekarang membuatku lebih keras dalam menatap dunia.

Aku tau aku sangat-sangat berdosa, namun aku berharap dengan memulai hidup baru aku bisa menjadi orang baru. Aku ingin memulai hidup baru. Aku ingin menjadi wanita normal seperti yang lainnya.

Namun tidak semudah membalik telapak tangan, hubungan ku dengan Dava tidak direstui oleh keluarga besarku ( dan beberapa kakaknya dava juga kurang setuju ). Aku bingung bagaimana menjelasakan pada keluarga besarku.

Apa iya aku harus bilang “Ayah, Paman-paman, Bibi-bibi, dan nenek, tolong ijinkan aku menikah dengan Dava, karena aku tidak sanggup tinggal dengan paman yang selalu mesum/cabul, aku takut tinggal sama ayah karena ayah pernah berbuat hal yang sama, aku juga takut tinggal sama nenek karena disana adalah tempat dimana aku dan indra bertemu (orang yang mendapat kegadisanku)- bisa saja indra dendam padaku, aku juga takut tinggal bersama ibu karena selain kalian tidak akan mengijinkan aku juga takut disana tidak ada yang menjagaku”

Kalau sampai kata-kata itu meluncur dari bibirku pasti keluarga besarku yang terkenal paling rukun dan kompak seantero kampung bakalan pecah belah, tonjok-tonjokkan, dan apalagi? Aku tidak ingin semua itu terjadi.

Aku tau benar mereka sangat menghormati Alm. Kakekku yang mesum itu kalau sempai mereka dengar ceritaku. Entah bagaimana perasaan nenekku. Aku tidak mau nenek sampai jatuh sakit. Jadi bisa dibilang meski aku sudah merasa lebih tenang jika bersama dava semua itu bukan tanpa perjuangan.

Aku harus berjuang. Ujian masih terus berlajut, kehidupanku masih banyak pilihan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa boleh aku kabur dari rumah dan menikah dengan dava dan memulai hidup baru?.

Aku Sedih… Anakku Direbut Keluarga Suami

Sebut saja nama ku Mulan, ini adalah cerita sedih yang kupendam selama ini. Anakku yang kukandung sembilan bulan direbut kakak iparku, aku sangat sedih karena mereka membatasiku untuk bertemu anakku sendiri.

cerita sedih istriAku menikah saat masih berusia 18 tahun, sebenarnya pernikahan ini terjadi karena aku telah hamil lebih dulu. Berat rasanya menjalani hidup ini karena aku selalu menjadi ejekan orang-orang di sekitarku, tapi aku berusaha tegar dan tidak mempedulikan omongan serta ejekan mereka.

Hari-hari kulalui dengan rasa penyesalan. Kujaga dan kurawat kandunganku agar selalu sehat tapi suatu hari, suamiku mengatakan bahwa kakaknya ingin merawat anak kami saat dia lahir nanti. Aku hanya terdiam dan tidak bisa menjawab, karena saat mendengar itu hatiku seperti teriris pisau, sedih rasanya jika nanti aku harus jauh dari anakku.

Sampai tiba waktunya, malam itu aku melahirkan seorang bayi laki-laki mungil. Kupeluk dia dengan erat dan penuh dengan kasih sayang. Bahagia rasanya karena aku telah menjadi seorang ibu. Tapi kebahagiaanku itu hanya sementara, karena tepat seminggu setelah kelahirannya, aku harus merelakan dia di bawah jauh dariku.

Sebenarnya aku tidak pernah mengizinkan mereka untuk merawat anakku. Tapi karena naluriku sebagai seorang wanita, aku merasa kasihan pada mereka yang telah menikah sepuluh tahun lebih tetapi belum mempunyai seorang anak. Aku berpikir apa salahnya membagi kebahagiaan, toh dia juga kakak kandung dari suamiku, saat aku pulang nanti aku juga bisa bersama anakku. Karena rasa kasihan dan pikiranku yang menganggap mereka baik maka aku mengizinkan mereka membawa anakku.

Tapi ternyata kenyataan yang kuhadapi berbeda, saat aku pulang dan ingin bersama anakku, semuanya terasa sulit. Mereka membatasiku untuk bertemu dan bersama anakku. Bahkan mereka mengatakan jika anakku bersamaku, dia selalu saja sakit, mereka mengatakan aku tidak bisa mengurus anak.

Bahkan mereka juga mengatakan hal itu pada orang lain. Sakit rasanya diperlakukan seperti itu, bahkan aku dan suamiku seperti tidak mempunyai hak atas anak kami. Aku mencoba bersabar dan berpikiran positif terhadap mereka, mungkin saja karena terlalu menginginkan anak mereka menjadi buta, mungkin setelah ini mereka akan sadar kalau apa yang mereka lakukan itu salah.

Tapi rupanya mereka makin menjadi, bahkan mereka membuat akta anakku atas nama mereka tanpa sepengetahuan dan seizinku. Anehnya keluarga dari suamiku tidak ada yang memberitahuku. Mereka seperti sengaja menyembunyikan semuanya dan mendukung apa yang di lakukan oleh kakak serta kakak iparnya tersebut.

Mereka semua tidak pernah ada yang mau mengerti dan memperdulikan perasaanku. Mereka semua mendukung apa yang dilakukan kakak dan kakak iparnya itu. Sampai akhirnya, aku tidak bisa menahan rasa sakit dan sedih ku lagi, aku menangis di depan suamiku, aku meminta dia untuk melakukan sesuatu, tapi dia hanya bisa diam dan balik marah kepadaku.

Air mataku seakan tidak bisa membuatnya luluh untuk membelaku. Aku tau dia berada di posisi yang sulit, karena jika dia membelaku, orang tua serta keluarganya pasti menyalahkan dia. Tapi apa aku yang harus di korbankan? Apa aku yang harus selalu mengalah?

Setelah semua perjuangan yang kulakukan untuk melihat anakku lahir ke dunia, apa aku tidak boleh bertemu dan bersama anakku? apa aku tidak boleh memiliki akta anakku atas namaku sendiri? apa aku tidak boleh menjadi orang tuanya yang sah secara hukum? aku bingung harus berbuat apa… di satu sisi aku menghormati suamiku dan keluarganya, tapi di sisi lain aku menginginkan mereka mengerti aku.

Aku bingung, pembaca tolong aku, beri aku masukan apa yang harus aku lakukan. Aku sangat rindu anakku..

Tolong… Aku Kencanduan Melakukan Hubungan Terlarang

Diusiaku yang masih terbilang muda ini aku sudah memiliki banyak pengalaman seks. Sungguh aku begitu terlena dengan kenikmatan sesat itu. Aku selalu merasa diri kotor dan hina terutama jika mengingat kedua orang tuaku.

Namaku Wahyu (nama samaran), usiaku kini hampir 20 tahun. Aku seorang pemuda yang aktif dan giat bekerja maupun mencari ilmu.

Aku dikaruniai oleh Tuhan ilmu yang cukup, rezeki yang bisa dibilang lebih walaupun dulu aku berasal dari keluarga yang sangat tidak mampu.

Di usiaku ini aku masih kuliah di salah satu universitas swasta di kotaku, selain itu aku juga sudah bekerja di salah satu perusahaan dengan gaji cukup gede.

Namun semua itu tak ada arti jika hidup berada dalam kecanduan. Bukan narkoba maupun miras yang aku puja, melainkan seks.

Aku begitu mendewakannya, semua yang berhubungan dengan hal tersebut sangat aku sukai. Bahkan aku melakukannya sebelum menikah. Bukan sekali tapi telah berulang kali.

Kehidupanku rasanya kosong tanpanya, tak ada orang yang bisa mengisi kekosonganku, tak ada yang mengerti aku. Entah kenapa yang ada dalam pikiranku hanya itu dan itu saja.

Hingga kini, aku belum bisa berhenti. Namun aku yakin, Tuhan akan memberi Hidayah-Nya kepadaku walau aku tak tahu kapan itu akan terjadi.

Kepada pembaca ceritacurhat.com, jangan pernah sekali pun mencoba hal yang dilarang agama, awalnya kita hanya mencoba dan iseng tapi pada akhirnya kita akan menjadi pencandu dan terus memburunya.

Tuhan, beri aku jalan Lurus-Mu. Semoga kedepan aku lebih baik. Amiin.