Menyesal Menjadi Istri Simpanan Koko

Cerita istri simpanan

Sekarang aku berstatus sebagai istri simpanan seorang pria berusia 50 tahun. Aku tidak pernah mencita-citakan punya kehidupan seperti ini. Meninggalkan suami dan berpisah dengan anak, semua karena desakan ekonomi yang menghimpit.

Cerita istri simpanan
Cerita istri simpanan

Kisah ini bermula dari pekerjaanku di dunia malam sebagai gadis bilyar di sebuah klub malam di Jakarta Utara. Setelah menikah aku berhenti total dari pekerjaan itu dan menuruti permintaan suami untuk tinggal di rumah saja sebagai istri.

Kehancuran rumah tanggaku disebabkan faktor ekonomi, suamiku dipecat dari kantornya. Aku tahu dia sudah bersungguh-sungguh mencari pekerjaan lain tapi sepertinya pintu rejeki kami di dunia yang normal tertutup rapat-rapat.

Akhirnya aku meminta ijin suami untuk kembali kerja di tempatku yang dulu. Awalnya dia menolak dan tetap bersikeras dengan perjanjian kami dulu bahwa aku tidak akan kembali di kehidupanku yang lama. Tapi karena desakan ekonomi suami akhirnya mengijinkanku, tentu saja dengan beberapa persyaratan darinya.

Aku berkeja sebagai waitres yang memiliki jadwal pulang pergi yang ketat. Aku mulai mengenal banyak tamu orang kaya karena tempatku itu memang tempat yang ekslusif dan banyak dikunjungi oleh orang kalangan atas.

Baca juga: Akibat Menikah Siri Hidupku Menderita

Berkenalan dengan Koko

Dari sekian banyak tamu yang datang, aku akrab dengan salah seorang tamu separuh baya, usianya sekitar 50 tahun. Aku memang lebih senang dengan lelaki seusia itu karena aku merasa nyaman dan mereka biasanya tidak macam-macam.

Sebut saja namanya Koko, hubungan aku dengan Koko awalnya hanya sekedar antara tamu dan waitress saja karena dia pasti menelpon aku dulu kalo mau boking tempat. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia kepincut sama aku. Semua yang aku minta dia turuti.

Koko sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak, dia bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan besar di Jakarta Utara. Semenjak mengenal dia kehidupan ekonomiku berubah drastis.

Suamiku kadang bingung kenapa aku bisa membeli barang-barang mahal. Suamiku memang sudah curiga aku selingkuh karena pengeluaranku tidak sebanding dengan gajiku. Waktu itu suamiku masih menganggur sehingga semua biaya hidup dia aku yang tanggung.

Keributan pertama kami dimulai pada suatu malam ketika suamiku membuka ponselku. Dia membaca semua pesan mesra dari Koko. Sejak saat itu hampir setiap hari aku dan suami selalu bertengkar, sampai aku ngerasa udah gak ada kecocokan lagi di antara kami.

Hamil, Tapi Ini Anak Siapa?

Jujur saja aku pernah ML dengan koko dan selang satu bulan setelahnya aku hamil, suamiku sangat bahagia mendengar kabar itu tapi aku justru sedih karena aku bingung anak yang aku kandung sebenarnya anak siapa? tapi suamiku tak pernah membicarakannya. Suamiku selalu berkata, “Dede kalo udah keluar dari perut bunda maen sama ayah ya,” Ya Allah betapa sedihnya hatiku.

Sampai akhirnya Koko tahu aku hamil, Koko memintaku menceraikan suamiku dan menikah dengannya karena aku mengandung anaknya. Tapi aku jelaskan ke Koko kalau aku juga bingung ini anak kamu atau anak suami. Akhirnya kita memutuskan USG karena USG bisa dilakukan walaupun keadaan kita hamil dan hasilnya itu adalah anak suamiku.

Tapi Koko tetap bersikeras meminta aku untuk menceraikan suami dan menikah dengannya. Karena posisi aku sedang hamil, aku disuruh berhenti bekerja dan jatah bulanan aku selalu ditranfer Koko. Akhirnya aku memutuskan pulang ke kampung sampai dia membelikan aku sebuah rumah di kampungku untuk diriku.

Dari sinilah aku mulai merasa kehidupanku terasa hampa. Semenjak kepulanganku di kampung aku sudah gak pernah berkomunikasi dengan suami, malahan aku sudah mengurus cerai lewat pengacaraku. Sementara hubunganku dengan Koko semakin serius, kadang aku ke Jakarta dan ditempatkan di apartemen.

Tapi aku seperti burung yang dikurung, kemana-mana aku selalu di larang, keluar rumah pun harus bersama Koko, jujur aku merasa tersiksa karena kebebasanku sudah tak pernah kudapat, bahkan memakai ponsel pun dia batasi karena dia takut aku kembali seperti dulu.

Derita Menjadi Istri Simpanan

Hidupku bisa dibilang enak tapi hati aku gak bahagia, aku merasa tersiksa bahkan selalu di atur seperti gak punya suara untuk bicara, entahlah apa karena dia sudah menguasai aku karena sudah memenuhi semua kebutuhanku dan kebutuhan keluargaaku.

Bulan terus berlalu sampai akhirnya aku melahirkan, pas saat aku melahirkan proses ceraiku pun selesai. Suamiku kaget tapi keluarganya tidak sedikitpun marah kepadaku. Keluarganya hanya datang ke rumah dan meminta bayi yang baru aku lahirkan.

Baca juga: Derita Menjadi Istri Kedua

Ya Allah betapa hancur dan seperti ditusuk tusuk ketika aku menyerahkan anakku di bawa oleh mereka. Posisi aku waktu itu serba salah kalo aku gak kasih dia akan mengusut aku karena menggugat cerai saat aku sedang hamil dan berselingkuh.

Akhirnya aku dan mantan suami membuat perjanjian, setiap waktu aku diijinkan untuk menengok anak kandungku dan aku setuju, aku berharap suatu saat aku bisa mengambil anakku kembali.

Karena orang tuaku bisa di bilang matre mereka sangat mendukung hubunganku dengan Koko tapi mereka gak tahu gimana menderitanya aku. Boleh dibilang aku adalah boneka Koko, apa pun yang dia suruh aku harus nurut termasuk ketika aku disuruh berhijab karena Koko muak melihat pakaianku yang sedikit terbuka, Koko memang sangat pecemburu dan tempramental.

Ingin rasanya aku mengakhiri semua ini, aku ngerasa udah terjebak dalam permainanku sendiri. Buat temen yang bisa kasih saran pliss kasih tau. Terimakasih kepada ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

Aku Diculik dan Dipaksa Menikah

cerita sedih

Saat membaca semua cerita nyata di website ceritacurhat.com ini, aku jadi tertarik untuk ikut berbagi kisah yang selama ini masih membayangi pikiranku, cerita yang selalu membuatku merasa bersalah pada dunia, alam dan diriku sendiri, cerita sedih mengharukan yang sampai sekarang membuatku terkucilkan dari dunia dan merasa tak pantas untuk siapa-siapa, cerita yang menghancurkan segalanya dan sulit untukku bangun lagi.

Aku Diculik dan Dipaksa Menikah
Aku Diculik dan Dipaksa Menikah

Aku wanita umur 23 tahun, melalui tulisan ini aku ingin menceritakan kehidupan pahit yang kujalani beberapa tahun lalu.

Sudah lama rasanya, tapi cerita itu masih seperti sinetron panjang yang bergelayut di pikiranku dan tiada endingnya. Hanya selalu mengulang dan mengulang yang membuat hatiku semakin teriris dan sakit.

Saat itu aku duduk di bangku SMA kelas 2, seperti biasa aku jalani hari-hariku layaknya anak sekolah.

Di sekolah aku siswi yang cukup di kenal, selain aku adalah anggota OSIS aku termasuk siswi pandai dan memiliki bakat di bidang seni, salah satunya di bidang tarik suara.

Baca juga:

Banyak guru-guru yang terkesan dengan suaraku, sehingga aku sering mengikuti lomba nyanyi solo perwakilan kelas atau sekolahku dan alhamdulillah aku selalu meraih juara dan masuk 3 besar terbaik.

Aku bangga pada diriku saat itu, aku punya banyak teman, guru-guru yang menyayangiku, serta keluarga yang selalu mendukung bakatku, hingga aku punya mimpi untuk menjadi penyanyi yang terkenal nanti, dan aku yakin itu.

Awal Cerita, Impianku

Bersamaan dengan mimpiku itu, salah seorang guru kesenian mengajakku untuk bergabung di grup musik miliknya, guruku berjanji akan memberiku banyak pelajaran di bidang tarik suara dan menjadikan aku sebagai penyanyi yang baik.

Tentu saja aku tertarik, aku menerima tawaran guruku dan bernyanyi di grup musik miliknya, orang tuaku juga setuju dengan itu.

Tugasku serasa bertambah, pagi hari aku harus sekolah, dan malam hari aku harus bernyanyi, tapi hal itu tidak menurunkan prestasi belajarku, aku tetap menjadi yang terbaik di kelas, hanya waktu untuk beristirahat saja yang berkurang.

Setahun sudah aku menjadi seorang biduwanita muda, semua orang juga sudah mengenalku, penyanyi-penyanyi lokal dan berbagai grup musik juga sudah mengajakku bergabung.

Tapi aku hanya percaya pada 3 grup musik saja yang bisa menjaga keamananku, karena tujuanku sebenarnya bukan untuk mencari uang, tapi hanya untuk menggali potensi yang kumiliki karena obsesiku untuk meraih mimpi-mimpiku.

Di tengah indahnya alunan musik, malam itu sepasang mata tajam menatapku, sepasang mata yang seakan-akan ingin memangsaku, aku melihatnya dan aku menyadarinya, mata itu memandangku tiada hentinya.

Dia teman guruku seorang pemuda berpakaian rapi keliatan tegak dan seperti memilki jabatan, sebut saja namanya Raldi.

Aku berkenalan dan menjalin pertemanan dengannya, di sinilah awal kehancuranku. Raldi, dia sosok pria yang dikagumi banyak biduwanita, dia juga pernah menjalin hubungan dengan teman sesama panggungku namun entah kenapa mereka putus.

Dijebak

Aku menjalin hubungan baik dengannya, tidak ada yang spesial dari hubungan kami. Tapi entah mengapa dia selalu memberikan perhatian yang lebih bahkan sering kali mengirim pulsa di nomor ponselku dengan jumlah yang lumayan banyak.

Sebagai perempuan aku juga cukup paham maksud dari itu, tapi sikapku hanya biasa dan tidak pernah merespon tindakan itu.

Sampai suatu hari aku menjelaskan bahwa aku hanya ingin berteman dan tidak lebih, karena saat ini aku fokus pada sekolah yang sebentar lagi akan menajalani UAN lagian aku juga punya tunangan yang di jodohkan oleh orang tuaku, dia menerima penjelasanku.

Dan kesesokan harinya aku menerima sms dari Raldi yang isinya, dia ingin mengajakku makan siang sepulang sekolah nanti, awalnya aku menolak dengan alasan aku harus pulang cepat dan harus belajar, tapi dia membujuk dan berkata bahwa setelah ini dia tidak akan menggangguku lagi, dia berjanji akan itu, dan akhirnya aku iyakan.

Disinilah awal kehancuran itu, sebuah pesta makan siang yang menghancurkan segalanya. Raldi menjemputku sepulang sekolah, alasan untuk mengajakku makan, tapi mengapa dia membawaku terlampau jauh, pikirku jika hanya ingin makan di dekat sekolah juga ada, namun dia membawaku jauh dari kota, aku tak tahu tempatnya, yang kulihat hanya ada pantai dan banyak rumah-rumah kecil.

Baca juga:

Dia mengajakku memasuki rumah kecil itu, aku takut dan sempat menolak dan rasanya aku ingin kabur, tapi aku tak tahu tempat itu apa, aku mulai meronta dan menangis, dan dia mencoba menenangkanku lalu ia menjelaskan padaku, ternyata dia sudah merencanakan semuanya, dia menyewa salah satu rumah kecil itu dari jauh-jauh hari.

Dan yang paling menyakitkan lagi dia menipuku dan tak memperdulikan tangisanku, dia menarikku ke rumah itu, aku berteriak dan meronta tapi tak ada siapa-siapa di sana, kekuatanku tak sanggup mengalahkan keinginannya, nafsunya untuk menguasaiku semakin menjadi-jadi, semakin aku melawan semakin kuat pula dia berusaha mendapatkanku.

Sampai dia berhasil menarikku ke kamar dan mengunci pintunya, aku semakin takut ketika dia membuka semua pakaiannya di hadapanku, aku hanya bisa menangis, keringat dingin membasahi wajahku aku menggigil dan memohon agar tidak merenggut keperawanku, tapi kegilaannya untuk bercinta terlalu besar, sampai akhirnya pakaian sekolahku disobek, dia melucuti seragam yang menempel di tubuhku, usahaku untuk menghindar sia-sia, kekutanku tidak berbanding dengan hasratnya dan akhirnya…..

Keperawananku terenggut pada hari itu juga.

Aku tak tahu karma apa yang sedang menimpaku, saat itu rasanya aku ingin mati saja, serasa kehidupan tak bersamaku lagi, apa yang bisa aku banggakan lagi, di usia 18 tahun aku sudah tidak perawan lagi, siapa yang akan menerimaku dengan keadaan yang seperti ini.

Baca juga:

Aku merahasiakan hal ini dari semuanya, hanya aku dan dunia yang tahu betapa hancurnya kehidupanku saat itu, namun aku tidak pernah berpikir untuk bunuh diri, karena ku tahu pasti aku bisa melewatinya dengan sabar.

Aku mulai berpikir jernih, mengapa aku tidak meminta pertanggungjawaban atas perlakuannya, aku tidak mungkin menikah dengan orang lain sementara orang yang merenggut mahkotaku tertawa lepas.

Malam itu aku menelponnya, aku menceritakan keinginanku padanya, tanggungjawab yang kuminta darinya di terima dengan baik, tapi dengan syarat, aku harus mau menuruti keinginannya saat dia ingin bercinta, serasa sesak nafasku saat itu, laki-laki bejat ini benar-benar menguasaiku, jika tidak kuturuti siapa yang akan bertanggungjawab atas ini, tidak mungkin aku menikah dengan tunanganku dengan keadaan yang seperti ini.

Putus Asa

Tuhan… saat itu aku benar hilang arah, aku hanya ingin keadilan atas harga diriku tapi kenapa sangat sulit. Akhirnya aku menjalin hubungan dengannya, aku tak tahu apakah aku mencintainya atau tidak, yang aku tahu hanyalah aku hanya meminta hak atas harga diriku.

Sering dia mengajakku keluar dan aku tahu tujuannya apa, aku juga sering menolak, tapi jika aku sering menolak dia mengancamku untuk melepaskanku dan tidak akan bertanggungjawab, aku takut dan aku menurutinya.

Sampai pada akhirnya aku pun lelah dengan iming-imingnya, aku merasa aku di perbudak oleh nafsunya, aku merasa dia tak akan mau bertanggungjawab dia hanya menjadikanku sebagai mainan yang akan diambilnya kapan saja dia mau.

Aku sangat lelah dengan semuanya, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya, aku tidak lagi mengejar hak atas harga diriku, aku mengikhlaskan segalanya, aku pasrah kepada yang Kuasa, jika nantinya aku hanya aib di keluarga, maka aku siap untuk di buang, itulah keputusanku saat itu.

Raldy mengetahui keputusanku, dia mencoba menghubungiku dan mendatangi sekolahku, aku tidak ingin bertemu dengannya, aku selalu menghindar, aku tak mau lagi jadi budak nafsunya.

Dan pada malam itu aku menerima pesan singkat darinya bahwa dia akan bertanggungjawab atas perbuatannya, dia meminta maaf, di juga berjanji padaku tidak akan meminta hal itu lagi asal aku mau kembali padanya.

Tapi aku adalah wanita yang punya prinsip, sekali aku memutuskan sesuatu hal, maka aku tidak akan mengubahnya. Aku tak merespon sms Raldy, aku tidak ingin lagi menjalin hubungan dengannya, aku mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, bagiku ini takdir dan aku tidak ingin menambah dosa lagi karena ingin kembali padanya.

Diculik dan Dipaksa Menikah

Kisah panjang ini berlanjut, Raldi tidak menerima keputusanku untuk meninggalkannya, aku akui dia pria yang sangat egois dan tidak kenal putus asa, dia melakukan berbagai macam cara untuk menjeratku lagi, mulai dari mengantarkan makan siang di sekolahku, mengisi pulsa di nomor hp setiap hari.

Bahkan dia pernah diam-diam membayar semua tagihan buku-buku pelajaranku, namun aku tidak tergoda, aku tetap pada prinsipku, bahwa menjauh darinya adalah hal yang terbaik.

Usahanya untuk membujukku selalu gagal, sampai pada akhirnya dia bermohon-mohon di hadapanku dan menangis, hatiku tak tergerak sedikitpun, dan akhirnya dia berjanji, kali ini dia bersungguh-sungguh, untuk yang terakhir kalinya dia memintaku untuk makan lagi dengannya.

Dia memohon agar aku mau dia janji setelah ini dia akan pergi untuk selama-lamanya, karena aku ingin bebas darinya akupun mengiyakan tapi dengan syarat hanya aku yang menentukan tempat makan nanti.

Aku naik ke mobil dan pergi dengannya, di perjalanan dia memberiku sebotol air mineral untuk meminumnya, dan setelah aku meminum air mineral itu aku merasa tenang tak ada beban, semua beban di pikiranku serasa hilang, dan aku tertidur.

Baca juga: 

Dan saat aku terbangun betapa kagetnya aku saat kudapati diriku berada tengan-tangah laut dan di kerumuni orang-orang yang tak kukenal, aku panik, aku tak tak tahu tempat apa ini, aku berlari namun yang kutemui hanya anak tangga di setiap sudut, aku menaiki anak tangga itu dan setibanya di atas aku kaget serasa detak jatungku berhenti saat itu juga.

Tuhan… apa lagi ini, hatiku menangis saat ku saksikan ragaku berada jauh dari tempat tinggalku, aku di atas kapal penumpang yang akan menuju Jaya Pura.

Raldi bersamaku, sekali lagi dia menjebakku, kali ini dia benar-benar menguasaiku, aku sungguh tidak berdaya, aku merasa Tuhan tidak adil padaku, ujian ini begitu berat, aku hidup tapi serasa sudah melihat neraka dari dekat.

Di kota hitam manis itu, Raldi menikahiku, aku hidup dengannya, hanya berdua tak ada keluarga tak ada siapapun. Disana Raldi memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami, dia berkerja keras untuk memenuhi kebutuhanku.

Dia tidak ingin aku menderita, sampai dalam keadaan sakitpun dia memaksakan diri untuk bekerja, itu karena agar aku tidak tidur di emperan toko, di kota besar itu kita berjuang melawan nasib.

Tapi ada satu hal yang paling kubenci darinya, sikapnya yang cemburuan kerapkali ingin membunuhku, setiap kali rasa cemburu itu datang, dia mengurungku berhari-hari di kamar, tidak bisa bertemu dengan siapa-siapa, kadang aku merasa bahwa aku bukan istrinya tapi tawanannya.

Kembali ke Rumah

Sering kali dia hampir membunuhku hanya karena persoalan kecil. Aku tak tahan dengan sikapnya yang seperti itu, sudah sering kali aku coba untuk kabur tapi selalu saja gagal. Sampai pada suatu hari aku beranikan diri untuk mengabari keluargaku di kampung dan memberitahu keadaanku di Papua.

Keluargaku ingin aku pulang, mereka semua membujukku tapi aku takut, berbicara pulang saja Raldi sudah murka, akhirnya aku diam-diam memberikan alamat lengkap kepada ibuku. Dimana saat itu suamiku tidak sedang di rumah, dia juga membawa hp, dan memang dia tidak pernah membiarkanku menyentuh hp karena takut aku menelpon keluargaku, tapi hari itu Tuhan menolongku.

Aku tahu hari itu adalah hari terakhir aku bersamanya, aku melayaninya dengan baik, bahkan untuk pertama kalinya aku tidak meronta saat dia meminta berhubungan intim denganku, dengan senang hati aku turuti, pikirku ini adalah hari terakhirmu bercumbu denganku, dia juga tak heran dengan sikapku yang berubah drastis, kami menikmati permainan itu, dan harus aku akui untuk pertama kalinya aku merasakan kenikmatan saat berhubungan.

Dan sore harinya 5 orang dari kepolisian datang menjemputku dan berhasil membawaku pulang, awalnya ada pertengkaran antara polisi, suamiku dan pak RT, tapi pihak kepolisian sudah menjelaskan bahwa aku telah diculik dan dibawa kesini, setelah percakapan panjang lebar, akhirnya suamiku harus ikhlas melepasku.

Aku rasa 6 bulan adalah waktu yang cukup untuk memilikiku, dan sekarang saatnya aku kembali. Ada rasa sedih dan kasihan saat meninggalkannya, namun aku juga merasa sangat lega karena aku bisa lepas darinya.

Sekarang aku melanjutkan pendidikanku yang sempat tertunda, orang tuaku sangat menyayangiku dan selalu memberiku motivasi dalam menghadapi hidup yang keras ini, namun aku benci pada diriku sendiri, aku selalu menyesali perbuatanku dulu.

Aku tidak lagi menjadi seorang biduwanita, aku jalani hidupku dengan apa adanya. Dan mimpi-mimpiku dulu telah berakhir bersama kisahku kemarin, aku tidak tertarik lagi untuk menjadi seorang penyanyi terkenal, bahkan untuk bermimpi pun aku tak mau.

Sekarang aku hanya fokus pada kuliah yang tinggal beberapa semester lagi. Oh,, yah… Aku juga menutup diriku untuk pria, aku takut pria yang ingin mendekatiku hanya untuk main-main saja, aku pikir tak ada satupun dari mereka yang bisa menerimaku dengan status seperti ini.

Harus aku akui,,, hidup sebagai janda muda itu harus tahan banting. Tidak peduli berapa banyak hinaan yang penting aku hidup tidak menyusahkan orang, ada keluargaku yang menyayangiku, semoga cerita sedih ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua, jangan putus asa, dan tetap semangat. Allah bersama kita. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

Akibat Menikah Siri Hidupku Menderita

Menderita karena menikah siri

Berstatus sebagai istri siri membuatku tidak punya kemampuan apa-apa terhadap suamiku. Pilihan nikah siri dengannya mungkin adalah keputusan terburuk yang pernah aku lakukan.

Menderita karena menikah siri
Menderita karena menikah siri

Sebut saja namaku Sisi. Baru beberapa bulan aku berpacaran dengan Dio tapi hubungan kami sudah sangat dekat.

Apalagi dengan adanya dukungan dari keluarga kami membuat kami kami semakin nekat dan semakin jauh hingga akhirnya aku hamil.

Mengetahui aku hamil, Dio bukannya bertanggung jawab tapi malah memukuliku dan minta aku melakukan aborsi.

Lebih parah lagi Dio datang ke tempatku dengan seorang wanita yang dia sebut sebagai pacar barunya yang ternyata janda yang lebih tua dan telah beranak dua.

Mengetahui kabar kehamilanku orang tua Dio senang, beliau segera melamarku dan menikahkanku dengan Dio di kotaku. Pernikahanku dengan Dio berlangsung secara siri karena Dio masih dalam proses cerai dengan istri pertamanya.

Tapi setelah kami menikah Dio berubah drastis, hubungannya dengan janda tua itu terus berlanjut bahkan semakin dekat, sampai suatu hari aku mendengar kabar Dio menikahi janda tua itu tanpa sepengetahuanku dan orang tuanya.

Dio benar-benar meninggalkanku saat usia kandunganku menginjak 5 bulan, dia berkhianat ketika aku hamil muda. Bahkan malam sebelum aku melahirkan aku sengaja menghubunginya, tapi malah si janda tua itu yang mengangkat telponku.

Aku dimaki-maki habis-habisan olehnya, di bilang mengganggu suami orang, padahal nyata-nyata dia tau kalau aku istrinya Dio.

Akhirnya aku melahirkan seorang bayi laki-laki tampan yang sangat mirip dengan Dio tanpa Dio ada di sisi aku. Hanya orang tua dan saudara-saudara Dio yang menungguku saat aku melahirkan.

Mereka begitu menyayangiku dan merawatku sepenuh hati. Begitu berbanding terbalik dengan Dio yang menelantarkan aku. Mungkin ini dosa yang kutanggung karena telah nikah siri tanpa status hukum yang jelas.

Baca juga: Aku Berdosa.. Mencintai Kakak Ipar

Dio kembali kerumah saat putra kami berusia 3 hari. Ternyata Dio bertengkar dengan si janda tua dan di usir dari sana. Hidupku terasa lengkap dengan lahirnya putra kami dan kembalinya Dio, walaupun Dio tak kunjung mengesahkan pernikahan kami secara hukum.

Waktu berlalu begitu cepat sampai putraku Kenzo berumur 4 bulan. Tanpa sengaja aku menemukan pesan cinta dari si janda tua di ponsel milik Dio. Ternyata selama ini mereka masih berhubungan. Dio marah besar kepadaku karena dia anggap aku lancang ngebuka ponselnya.

Dio kalap, tidak memperdulikan teriakan ibunya yang menangis melihatku di pukuli olehnya. Dio terus saja memukuliku, menendangku sampai akhirnya aku pingsan. Dan semenjak kejadian malam itu, Dio pergi dan tak pernah kembali.

Nikah siri membuat posisiku sulit karena pernikahan kami tidak tercatat di Kantor Urusan Agama sehingga aku kesulitan menuntut hak-hakku sebagai istri.

Akhirnya aku memutuskan keluar dari rumah orang tua Dio. Aku mengontrak rumah dan membawa Kenzo bersamaku, aku meminta ibuku menemaniku agar aku bisa bekerja. Aku berharap bisa memulai hidup baru dengan putraku.

Tapi suatu hari, ketenanganku terusik. Janda tua yang telah di nikahi Dio mengirimkan foto dio memeluk seorang bayi yang ternyata anak Dio dan janda tua itu.

Aku tidak tau apa maksud janda itu mengirim foto itu kepadaku, apa kiranya belum cukup mereka menghancurkan hidupku dan anakku.

Hatiku sakit, hancur berkeping-keping, tapi aku berusaha kuat demi anak semata wayangku. Putraku yang tak berdosa, yang di sia-siakan oleh ayahnya sendiri.

Kemana Langkahku Kan Kubawa

Hai para pembaca semua, panggil saja aku Tie. Ini adalah cerita keluarga kami yang sangat miskin. Aku anak ketiga dari 3 bersaudara yang berarti aku anak bungsu. Sejak kecil aku hidup tanpa pernah melihat wajah sang ayah, entah sosok ayahku itu seperti apa, aku tidak tahu.

Cerita keluarga miskinAku dihidupi sang mama, dan sang mama pula yang membesarkan serta menjamin semua keperluan kami bertiga, Kami sekeluargasangat mencintai mama tapi waktu itu kami masih kecil sehingga mamalah yang menjadi tulang punggung keluarga kami.

Mama hanya bekerja sebagai borongan di sebuah perusahaan udang di Kalimantan. Aku dan kakak perempuanku masih bersekolah di sebuah sekolah di Kalimantan. Sementara kakak pertamaku namanya Zul, dia akhirnya berhenti sekolah setelah tamat SMP karna membantu mama mencari nafkah, dia bekerja sebagai kuli bangunan.

Kakak perempuanku namanya Suci. Aku akui Suci memang pintar di sekolah, dan Suci dapat beasiswa karna prestasi, tapi sayang kakak stop sekolah juga. Saya pun bingung, apakah saya harus mengikuti jejak kakak-kakak saya yang hanya lulusan SMP lalu bekerja?

Baca juga cerita keluarga lainnya:

Berhenti Sekolah

Ternyata benar setelah lulus dari SMP, mama saya yang sudah berumur 63 tahun mencoba menasehati saya yang ingin melanjutkan sekolah “Tie mama sudah tidak sanggup biayai kamu sekolah.” Blessssssttttttttt, hatiku kacau dengar kata-kata mama, karna saya kasihan melihat mama yang sudah tua masih bekerja, saya pun berkata “iya mak, Tie juga sudah bosan sekolah.” kata-kata yang keluar dari mulut saya bukanlah keinginan dari hati.

Tapi saya tidak patah semangat untuk mencari jalan agar saya bisa melanjutkan sekolah. Yang pertama saya datangi adalah guru BK saya, saya bercerita tentang keadaan saya yang sudah tidak mampu untuk melanjutkan sekolah lagi. Beliau berjanji akan membantu saya agar saya dapat melanjutkan sekolah. Maklum waktu itu sekolah belum gratis seperti sekarang.

Guru BK saya mendatangi rumah saya ingin membicarakan tentang masalah kelanjutan saya bersekolah, saat itu rumah saya masih gubuk beratapkan daun rumbia, mungkin dalam hati guru saya iba melihat keadaan kami.

Setelah bicara banyak kepada orang tua saya, alhamdulillah mama tergugah hatinya mengizinkan saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Ucapku dalam hati Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah membukakan pintu hati mama.

Setelah kisahku ku beritahukan pada guru BK, ternyata cerita itu di dengar juga oleh guru-guru yang lain. Mereka membantuku mendaftarkan sekolah gratis yang ternyata di luar pulau Kalimantan ini, namaku pun masuk dalam daftar siswa baru di kota Balikpapan.

Saya senang bercampur sedih harus meninggalkan mama dan saudaraku di kalimantan. Disini mulai aku merasa putus asa, ternyata mama tak mengizinkan aku bersekolah di luar pulau Kalimantan, demi mengejar cita-cita saya pun nekad pergi ke bandara dengan berjalan kaki lebih dari 10 kilo, perjalanan aku tempuh menuju bandara tanpa membawa uang 100 rupiah pun.

Mama Sakit

Cerita keluarga kami berlanjut, di bandara telah menunggu teman-teman dan guru yang mengantar ke asrama balikpapan. Seminggu masa mos ku lalui, datang surat dari Kalimantan yang mengabarkan, mama sakit dan terkena stroke. Tanpa kupedulikan guru yang memberiku surat, aku menangis dan merasa sangat berdosa.

Tanpa mempedulikan sekolah dan barang-barang di asrama aku mulai berjalan seperti anak yang terbuang menuju bandara tanpa uang dan ticket, sampai di bandara aku pun bingung, bagaimana cara agar aku dapat pulang kembali ke Kalimantan.

Dua malam tidur di bandara tanpa makan dan hanya minum air mentah di musholla bandara, saya duduk di ruang tunggu bandara, sudah banyak yang bertanya, kenapa gak pulang? rumahnya dimana? tapi hanya sebatas bertanya.

Tibatiba datang dari arah belakang bapak-bapak bertanya, “kemarin saya lihat kamu disini, sekarang ada lagi? kok gak ganti baju? kamu nunggu siapa?, ternyata bapak itu memperhatikan saya dari kemarin. Disitu saya memberanikan diri bercerita panjang lebar tentang masalah yang kuhadapi.

Alhamdulillah bapak ini baik dia membantu saya membelikan ticket yang kalau tidak salah harga ticket pada masa itu masih harga 75 ribu, masih terbilang mahal untuk ukuran keuangan pada masa itu.

Semoga bapak yang menolong saya pada masa itu membaca tulisan ini. Terima kasih bapak. (saya pun tidak tahu nama beliau). Setelah sampai dikalimantan, saya kembali berjalan kaki menuju rumah, sesampai saya dirumah, saya melihat mama yang terbaring lemah dengan tangan yang kaku dan mulut yang miring ke kiri.

Astagfirullah ucapku, akibat ulahku orang tuaku seperti ini. Dengan berbagai omelan yang ku dengar dari kakak tertuaku Zul. Sejak saat itu aku mengambil keputusan yang membuat aku menyesal sampai sekarang yaitu putus sekolah.

Sekolah Paket C

Tahun demi tahun berganti, 4 tahun silam ku lewati dengan bekerja serabutan, dari memulung sampai menjadi pembantu rumah tangga, keinginanku tetap bersekolah masih besar, sampai pada aku di pertemukan dengan teman kerjaku yang menawarkan sekolah paket C atau setara dengan SMA.

Akupun mengambil program pembelajaran paket C, setelah melalui pembelajaran paket C, Alhamdulillah aku lulus dan harus menunggu 1 tahun terbitnya ijazah paket C ku, selama setahun pun aku mengumpulkan uang sebesar Rp.800.000 ribu untuk menebus ijazah paket C ku.

Aku berterima kasih kepada Allah telah di beri jalan hidup yang mudah untukku, walau sulit awalnya tapi aku percaya Tuhan akan memberikan aku kekuatan melewati semua cobaan.

Aku ingin lanjut kuliah, tapi ekonomiku yang pas-pasan tidak bisa membantuku, apa lagi dengan keinginanku yang bercita-cita menjadi dokter. Aku hanya berharap ada dermawan yang mau membantuku mewujudkan cita-citaku dan membantuku mencarikan pekerjaan agar aku dapat membantu orang tuaku dan mewujudkan apa yang menjadi ambisiku menjadi seorang dokter.

Terimakasih sudah mau meluangkan waktu membaca curhatan dan cerita keluarga kami, wassalam.