Perjalanan Cinta Dunia Maya

Perjalanan cinta dunia maya

Tidak ada niat untuk mencari kekasih di dunia maya, semuanya terjadi begitu saja ketika aku dan Budhy bertemu sapa di ruang chat facebook dan akhirnya menjalin cinta hingga sekarang.

Perjalanan cinta dunia maya
Perjalanan cinta dunia maya

Ini ceritaku … Assalamu’alaikum. Tahu apa itu dunia maya? Yap, dunia yang tidak nyata. Seperti facebook, twitter, dan sebagainya.

Entah sejak kapan aku mulai menyukai dunia yang tak nyata itu, dunia yang samar yang tidak tahu dimana keberadaan sebenarnya.

Budhy Haw, temanku yang ku kenal di dunia maya. Budhy adalah orang yang mengisi hari-hari ku, mewarnai hidupku, dan ia tempat ku mencurahkan segalanya. Budhy adalah lelaki yang mungkin mulai kutaruh sebuah harapan besar pada dirinya.

Kebaikannya, kelembutan hatinya, kesopanan sikapnya, selera humornya, semuanya membuat suatu getaran halus menyapa hatiku. Getaran yang.. mungkin terdengar konyol jika itu benar-benar ada dan tumbuh bersemi di dalam dunia yang tak nyata.

Aku mengenalnya lewat sebuah akun facebook, saat itu..

13 Desember 2013

Kalo lagi bosen, buka Hp terus browsing. Salah satu yang dibuka itu, yaa facebook jejaring social yang akhir-akhir ini marak di bicarakan manusia di selubuk dunia.

Awal nya, punya akun facebook itu Cuma buat iseng-iseng ajah. Bikin status, comment status, like status, ya itu-itu ajah yang dilakuin. Chatting sama orang? Gak berminat banget.

Sedang asyiknya melihat koleksi foto yang menarik, tiba-tiba jendela obrolan muncul dilayar Hp ku. Tertulis nama Flamboyan Karawang, kulihat profilku, sebuah komenan tertulis, ada nama seorang laki-laki dengan tampang cool .. Lumayan sih, tampan.. Budhy Haw ikut coment dalam acara request’n..lalu ku Add dan 1 jam kemudian di konfirmasi lalu ku Inbox…

Aku : hay.. Makasih Udah di Konfirmasi..

Satu kata sapaan, yang biasa semua orang gunakan untuk mengajak kenalan..

Budhy : hay juga..iyah masama

dan beberapa detik kemudian sebuah balesan ku terima

Aku : Anak mana kka ?

Budhy : Aku anak Rengas Bandung tapi asli Tegal… kamu anak mana de ?

Aku : itu sih jauh banget. aku asli Bekasi di Pebayuran…

Dan obrolan pun berlanjut sangat lama dan saling menukar nomor kontak. Dari perkenalan yang singkat itu, kami mulai saling melontarkan lelucon, saling mengejek, dan tak terasa percakapan kami sampai jam 10 malam. Aku dan Budhy mulai akrab layaknya seorang teman yang sudah kenal lama.

Tepat jam 11, aku offline.

Malam itu, semua terasa aneh. Ada rasa bahagia yang diam-diam menemaniku, bibirku tersenyum tanpa henti, terkadang tertawa, terkadang cemberut. Apa ini? segitu cepatnya kah?

Lama semakin lama kita semakin sering telponan,, sms an.

Pada Suatu harinya ku buka akun Facebook ku dan kulihat ada 1 pesan dari Budhy.

Budhy : Mataku sepertinya mulai katarak, apa ini? Aku-cinta-kamu? Cinta?

Benarkah ia mencintaiku? mencintaiku seperti halnya aku mencintainya.

Aku : Kamu cinta aku benarkah ..?

Budhy : Serius berani sumpah .. aku cinta sama kamu.. kita ketemuan yuk.

Mendadak jantungku berdetak tak karuan..

Aku : Kamu serius? Beneran mau ketemuan, ntar kamu nyesel lagi ketemu sma aku.

Budhy : Iyah, aku mengenalmu bukan dari fisik tapi mengenalmu karena aku sudah nyaman.. aku akan terima kamu apa adanya.

Dan kita pun merencanakan tanggal dan hari untuk ketemuan, tepatnya berdekatan dengan ulang tahunku.

Sejak perkenalan tanggal 13 Desember 2013 itu, entah seperti ada dorongan yang membuat naluriku untuk setiap hari membuka akun facebookku.

Bercengkrama, bercanda ria, saling curhat, semua kulakukan bersama Budhy.. sindir saling sindir dalam status .. walau sempat debat dengan teman cewe nya.. karena tumbuhnya rasa cemburu.

01 Januari 2014

Kami bertemu di dunia maya, sebuah tempat yang kini menjadi tempat kenangan untuk kami… dan Profil Facebook pun berubah dari Lajang ke Tinggal Bersama.

Di situ ada bahagia yang menyelimuti hati ini. Aku.. aku.. baru kali ini merasakan apa itu cinta sebenarnya.

Cinta yang membuat semuanya buta. Cemburu karna hal yang tak jelas.

Kalian tahu? Ini cinta dunia maya, cinta ini tumbuh di dunia maya.

Aku tak tahu bagaimana rupa Budhy yang sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana sifat Budhy sebenarnya sebelum pertemuan itu, namun.. ada rasa yang mendorongku, meyakinkan diriku, bahwa cinta ini benar, Budhy adalah benar, Budhy adalah sesungguhnya, Budhy tak bersandiwara, ia kenyataan.

Aku dan Budhy sekarang sudah sepasang kekasih.

Tepat 1 tahun 3 bulan aku mengenalnya.

Mudah-mudahan kita bisa bersanding sampai pelaminan… Amin. Sekian Terimakasih jika ada kesalahan kata-kata dalam cerita ini mohon maaf. Wassalam.

Cinta Beda Agama

Cerita cinta menyedihkan

Cerita cinta yang kualami sangat menyedihkan. Setelah ayah meninggal, aku putus sekolah, dan akhirnya bekerja di pabrik sebagai buruh dengan gaji rendah. Kemudian aku jatuh cinta dengan bos sendiri yang beda agama. Sekarang aku tinggal di kota lain jauh dari keluarga, tinggal dengan pria yang bukan suamiku tapi melahirkan anaknya. 

Cerita cinta beda agama yang menyedihkan
Cerita cinta menyedihkan

Ceritaku dimulai dengan Ayah yang sakit keras dan butuh biaya besar untuk operasi jadilah aku putus sekolah. Akhirnya aku pun mencari pekerjaan karena tidak mungkin bagiku membebani orang tua untuk makan dan keperluanku sendiri.

Awalnya aku bekerja di pabrik dengan gaji yang sangat rendah dan tentu saja tidak mencukup kebutuhanku. Tapi karena tidak punya ijazah dan daripada menyusahkan orang tua di rumah aku tetap kerja disana dan berharap ada orang yang nawarin  lowongan kerja yang lebih bagus.

Tidak lama bekerja di pabrik itu Ayah meninggal, sedih sekali rasanya tapi itu sudah kehendak yang Maha Kuasa. Beruntung tidak lama setelah itu, seorang tetangga yang menaruh kasihan ke kami menawarkan pekerjaan di pabrik juga tapi dengan gaji yang lebih besar.

Menjalin Cinta dengan Bos

Akhirnya aku pindah kerja, bos ku yang baru seorang keturunan Tionghoa dan tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahku. Jadi setiap hari aku jalan kaki pulang pergi ke tempat kerjaku itu.

Selang beberapa bulan kerja disana, bos ku yang duda beranak dua itu menelpin ke hp ku yang jelas buat aku bingung, jadi tidak kuhiraukan. Tapi tiba-tiba sms nya masuk dan  menelepon lagi, jadi aku respon dengan sopan, tidak ada dalam pikiranku untuk mendekati bos ku, apalagi umur kami terpaut jauh.

Selain bosku lebih pantas jadi ayahku, kami juga beda agama, jadi dia sama sekali bukan tipe pria yang kucita-citakan akan menjadi pendampingku kelak. Masalahnya adalah, bosku semarin sering telpon dan sms ke nomorku, aku yang tadinya biasa saja akhirnya lambat laun timbul perasaan senang karena diperhatikan.

Bosku juga enak diajak ngobrol sehingga komunikasi kami selalu nyambung. Sampai suatu hari dia mengajak aku ketemuan di luar jam kerja. Aku mau saja karena kupikir bosku orangnya sopan dan tidak macam-macam. Dan akhirnya kami bertemu dan jalan bareng.

Sepanjang jalan aku merasa canggung dengan pandangan orang-orang karena perbedaan usia kami yang terlalu mencolok. Aku masih sangat belia dan bos ku sudah sangat dewasa dan dari suku Tionghoa lagi. Aku merasa seperti wanita tak benar yang jalan dengan oom-oom senang. Jadi selama di jalan aku merasa tak nyaman meski begitu obrolan kami tetap nyambung dan menyenangkan.

Dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya kami jalan berdua, aku pun mulai menyayanginya. Dia sangat baik dan pengertian, ngobrolnya pun nyambung dengan aku yang masih sangat muda ini. Setiap sms dan telponan dengan dia aku merasa asik dan senang. Bahkan kalau dia tidak sms aku merasa hariku jadi sunyi dan akhirnya gelisah sendiri.

Terjebak Antara Cinta dan Nafsu

Suatu hari bosku mengajak aku jalan, waktu aku tanya kemana dia gak kasih tau dan bilang ikut saja. Agak aneh tapi aku sama sekali tidak curiga kepadanya. Jadi saat nyampe tujuan aku kaget ternyata dia membawa aku ke hotel. Aku bilang, “loh mau ngapain kita disini,” tapi dia diam saja, jadi aku bilang yuk pulang aja, aku gak mau disini. Dia cuma bilang, udah gak apa-apa. Aku minta diturunin tapi dianya gak berhenti karena bawa mobil, udah gitu aku juga gak tau ini daerah mana, takut sekali rasanya perasaanku.

Akhirnya aku ikut bosku masuk ke dalam kamar hotel. Aku diajak berhubungan intim dengan sedikit paksaan, aku bilang padanya aku harus dinikahin setelah ini. Dia jawab Iya dan berjanji akan menikahiku segera. Sebenarnya aku sudah melawan tapi tenagaku kalah dengan dia, jadi mau tidak mau aku hanya pasran dan menangis. Aku takut sekali, takut kepada Tuhan, takut ke keluargaku dan aku takut ini jadi aib jika dia tidak bertanggung jawab.

Sejak kejadian itu aku jadi lebih sering mengunci diri di dalam kamar dan juga sering menangis sendiri sampai-sampai nyalahin Tuhan kenapa nasibku begini. Kalau sedang ribut dengan dia, dia selalu ngancam gak mau tanggung jawab. Ah rasanya seperti mau mati saja, sudah putus sekolah, Ayah juga meninggal, sekarang harus menghadapi masalah seperti ini. Nasibku kok jelek begini, bagaimana nanti Ibuku kalau dia tau yang sebenarnya.

Sikap bosku kepadaku sebenarnya tidak berubah, dia tetap perhatian bahkan aku merasa dia jadi lebih sayang kepadaku, hanya saja setiap aku tagih untuk dinikahin dia selalu ada alasan untuk mengulur-ulur waktu.

Baca juga: Pacar Minta Putus Setelah Kuserahkan Segalanya

Pernah dia bawa aku lagi ke tempat itu, kali ini dia mengancam aku tidak dinikahin jika tidak melayaninya. Aku pikir aku sudah terlanjur rusak karena dia jadi aku berikan juga yang dia mau. Di dalam hati aku juga takut dia lari dari tanggung jawab. Jadilah malam itu aku melayaninya dengan suka rela.

Sampai sekian lama, aku dan bos ku semakin sering melakukan hubungan suami istri tanpa status resmi, bahkan hubungan kami sudah seperti pengantin baru, rasanya manis banget dan romantis. Dia sangat perhatian sama aku dan juga romantis. Sayangnya dia tetap tidak bisa nepatin janjinya kaena satu alasan, beda agama.

Dia bilang kalau mau nikah dengan dia aku harus ikut agama dia. Ya jelas aku tidak mau, bagaimana pun aku akan tetap dalam agamaku ini. Padahal dulu dia pernah ngomong ke Ibu ku, bilang akan melamarku dan ikut agamaku. Dia pun sempat belajar buku-buku agamaku dan bahkan ikut puasa saat bulan puasa tiba, saat hari raya pun dia juga ke rumahku untuk merayakan.

Keluargaku tau kami pacaran tapi mereka tidak tau kalau aku sudah tidak perawan lagi. Sekarang, dia minta aku masuk agamanya, kalau tidak dia ngancam atau mungkin menakut-nakutin aku. Aku sering nasehatin dia, gimana rasanya kalau anak kamu yang diginiin orang, aku juga sering mengungkapkan beban yang kurasakan kepadanya, tapi dia diam saja.

Jika sedang ribut, dia selalu ngancam bahkan untuk urusan sepele pun dia akan ribut. Pernah terpikirkan olehku untuk mengakhiri hubungan ini, Ya sudahlah kalau dia tidak mau tanggung jawab, tidak apa-apa. Jika sudah begitu dia pasti sms dan telpon aku minta maaf.

Aku pun pernah mencoba berhenti berharap tapi aku gak bisa, aku sudah terlanjur sayang banget sama dia. Rasanya hati ini gelisah terus kalau tak menerima kabar atau tak bertemu dia. Begitu pun dia kepadaku, meski sedang marahan dia pasti akan menghubungi aku.

Pindah ke Luar Kota

Satu waktu, dia bilang mau buat usaha baru di luar kota karena usaha yang dijalaninya di kota kami sedang tidak bagus. Jadi aku bilang, “aku bagaimana?”. Dia bilang tetap berhubungan tapi jarak jauh, waktu itu aku sempat takut juga dia ga akan hubungi aku lagi atau pergi begitu saja tanpa kabar, tapi ternyata dia tetap hubungin aku dan selalu kasih kabar. Perhatiannya tidak berubah meskipun kami berjauhan.

Pernah aku tanya kenapa gak ninggalin aku karena disana dia bisa bebas, lagian dia juga sering ngancam aku gak mau tanggung jawab. Dia jawab, “aku bukan ngancam kamu tapi biar kami gak berani macam-macam di luar jadi aku sering ngancam kamu begitu. Karna kamu tetap baik dan bisa mengerti sifatku jadi yaa tetap aku pertahankan.”

Aku bilang kalau begitu kenapa gak dinikahin, dia bilang, bukan gak mau nikahin tapi terkendala di keluarga masing-masing. Dia bilang takut kalau keluarganya tidak bisa terima aku, begitu juga sebaliknya keluarganya akan sulit terima aku jika tidak pindah ke agamanya. Dia bilang, sekarang kita jalanin dulu apa adanya.

Setelah beberapa bulan tidak bertemu rasanya rindu menggebu-gebu. Karena sama-sama kangen dia menyuruh aku datang ke tempatnya di luar kota. Entah kenapa tanpa mikir panjang aku mau saja. Waktu itu di rumah aku juga merasa tertekan karena Ibu sering ngomelin aku. Jadi akhirnya aku putuskan berangkat ke tempatnya di luar kota.

Aku bilang ke Ibu dan keluarga dapat kerjaan di luar kota, tapi saat pergi aku langsung pergi saja tanpa pamit keluarga, karena mereka gak tau kapan aku perginya tau-tau akunya sudah gak ada di rumah. Aku takut mereka tidak mengijinkan aku pergi. Mungkin kepergianku lebih mirip kabur daripada ijin kerja di luar kota.

Bukan Istri Tapi Punya Anaknya

Akhirnya aku bertemu dengan bos ku di kota yang baru aku kenal. Berulang kali aku minta dinikahin tapi jawaban yang dia beri tetap saja sama, sampailah akhirnya aku hamil. Ya Allah gimana nasib anakku ini kelak? bagaimana pula tanggapan keluargaku kalau tau aku hamil di luar nikah. Mereka pasti kecewa banget.

Kadang aku merasa dia adalah suamiku tapi kami tjdak pernah menikah resmi. Ada rasa bersalah dan berdosa tapi kenapa cintaku dengannya begitu dalam hingga aku tak bisa melepasnya. Ya Allah bila dia memang jodohku kenapa jalan yang kulalui ini tidak benar.

Dia adalah laki-laki yang menyayangiku, sangat perhatian dan aku ingin dia menjadi suamiku tapi kami kok beda agama. Bila melepasnya aku takut tidak bisa mendapat laki-laki seperti dia yang bisa mengerti aku seperti dia. Hmm bimbang rasanya, gak tau harus bagaimana sekarang.

Aku bingung dengan statusku bahkan saat aku sudah melahirkan anak pertamaku. Bukan istri tapi punya anaknya. Pernah satu waktu aku pulang ke rumah membawa anakku. Waktu itu rasanya takut sekali melihat ekspresi keluargaku, apalagi ibuku sampai menangis sambil memelukku.

Aku hanya bilang, mama maafkan aku, aku gak apa-apa mama, jangan khawatirkan aku. Aku tak bisa ngomong banyak, aku tau saat itu akan tiba cepat atau lambat. Aku tau ibuku sedih sekali, dalam hati dia pasti hancur melihat keadaanku, apalagi saat pergi aku berbohong bilang dapat kerja di kota lain, betapa jahanya aku sebagai anak.

Ibu nanya siapa bapaknya, aku bicara sejujurnya dan bilang dia mau tanggung jawab dan kami sudah menikah siri. Ya aku berbohong lagi. Membohongi Ibuku. Aku tadinya tidak mau bohong tapi ibuku tidak mau aku melanjutkan hubungan dengan dia karena perbedaan agama. Tapi bagaimana dengan anakku yang tak punya bapak? serba salah jadinya.

Cinta Beda Agama

Akhirnya aku kembali ke kota itu, bertemu dengan ayah dari anakku ini. Sekarang fisikku sudah tidak sebagus sewaktu masih gadis, kulitku tidak mulus lagi, aku menjadi jelek. Tapi dia masih tetap sayang padaku, jika aku lepas dia apa ada laki-laki lain yang mau sama aku, apa bisa aku dapatkan laki-laki lain yang baik dan penyayang seperti dia.

Jika aku melepasnya, lalu dengan apa aku membiayai hidup anakku ini, keluargaku jelas tidak mampu karena aku bukan dari keluarga yang kaya. Jika kembali ke rumah bersama Ibu, bagaimana keluargaku menanggung malu yang kubawa ini?

Jadi aku putuskan hidup bersamanya meski kami tidak memiliki status yang sah. Dia mau bertanggung jawab kepadaku dan anakku, membiayai kebutuhan kami. Perhatian dan kasih sayangnya pun tidak berubah. Dan yang paling penting adalah kami saling mencintai.

Jika merunut hidupku yang dulu, tak pernah sedikit pun terpikir dan terbayang bakal begini hidup ku, mencintai laki-laki duda yang sudah punya anak, umur juga jauh dan beda agama. Apa memang sudah takdirku begini, kadang aku takut aku salah jalan dan menyesal di kemudian hari. Tapi aku bingung harus gimana menjalaninnya, aku hanya bisa berdoa dan mohon ampun dengan yang maha kuasa. Aku jalanin aja yang sekarang.

Dia juga ada beban, anak-anaknya tidak tinggal bersamanya tapi dirawat oleh Ibu dan adiknya, dia berbohong kepada keluarganya untuk menutupi aku, dia juga melarang keluarganya datang melihat usahanya. Ketemu anaknya pun hanya setahun sekali atau dua kali saat liburan lebaran atau imlek.

Bagaimana masa depan anakku nanti, aku tidak tau. Kuserahkan semuanya kepada Allah, Tuhanku yang Maha Mengatur urusan hambanya, aku hanya menjalani apa yang sudah ditakdirkan untukku. Semoga anakku menjadi anak yang baik dan berada di jalan yang benar. Semoga Tuhan meringankan beban yang kurasakan. Amiinn..

Mohon maaf ya apabila ada kata-kata yang salah dan kurang jelas.. semoga dapat dipahami. Terima kasih.

Mungkin Ini Karma Karena Telah Menyakiti Mantan Suami

Karma menyakiti mantan suami

Tanpa sengaja saya menemukan website ceritacurhat.com ini, dan berpikir mungkin inilah tempat dimana saya bisa mencurahkan segala isi hati saya selain kepadamu ya Rabb.. semoga saya diberikan jalan keluar dari penatnya pikiran dan hati ini.

Karma menyakiti mantan suami
Karma menyakiti mantan suami

Nama saya Nisa. Tahun 2009 yang lalu saya menikah, namun karena urusan studi, dan atas ijin suami.. sesaat setelah pernikahan, saya pergi ke negeri orang untuk menyelesaikan studi sehingga kami sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri.

Saat itu kami masih sama-sama mengejar karir, beberapa tahun tidak pernah bertemu, hanya saling tatap melalui skype. Cinta terpelihara karena terbiasa.. tapi diantara kami tidak ada kebiasaan untuk saling menghubungi, sehingga entah kenapa saya tidak lagi memiliki perasaan spesial kepada suami saya saat itu.

Tahun 2012 adalah tahun kepulangan saya kembali ke Indonesia. Namun melihat suami, seperti melihat sosok asing.. sama sekali tidak ada perasaan apa pun kepadanya, kecuali rasa penyesalan kenapa menikah dengan lelaki tersebut.

Baca juga:

Bercerai dengan Mantan Suami

Saat itu kami langsung tinggal serumah.. namun, saat-saat menanti malam pertama yang tertunda, saya justru merasa takut padahal malam itu sudah kutunggu 30 tahun usiaku. “Saya tidak bisa memberikan keperawananku kepadamu,” batinku selalu berkata begitu.

Air mata selalu mengalir saat suamiku meminta melakukannya, dan pada akhirnya saya berterus terang pada suami bahwa dalam hati ini sudah hilang perasaan cinta kasih kepadanya. Saat itu dia marah, kecewa pada saya hingga meninggalkan saya dalam kesendirian tanpa kabar berita (tidak sms/telp) selama dua bulan lamanya.

Walau saya bingung dimana dia berada, tapi di dalam hati saya merasa lega karena kejujuran adalah segalanya. Dan dua bulan tersebut pun saya siapkan untuk ajukan perceraian.

Dua bulan kemudian, datanglah suami saya meminta maaf karena sudah meninggalkanku tanpa kabar. Tapi saya tidak mau menambah duka untuk dia. Suamiku layak bahagia dengan siapapun wanita selain saya yang tidak mampu membuatnya bahagia. Dan sejak saat itupun, saat diikrarkan talak, kami tidak pernah bertemu.. walau mantanku sering mengirimkan sms perhatian tapi tidak pernah kubalas.

Menikah Lagi

Setelah beberapa bulan proses perceraian formal, saya bertemu dengan seorang pria. Dia tidak seganteng mantan suamiku.. dia tidak seputih mantan suamiku.. dan dia tidak semuda mantan suamiku. Dia seorang duda beranak satu. Duda yang menurut akta perceraiannya bercerai karena mantan istrinya selingkuh.

Ya.. lelaki ini memang tidak spesial. Sama sekali tidak istimewa. Yang membuatku terpesona hanyalah karena dia berasal dari lingkungan agamis. Tiga kali pertemuan dan dia langsung melamarku. Dan singkat kata, menikahlah saya dengannya.

Ini adalah pernikahan kedua bagi saya dan bagi suamiku sekarang. Mudah-mudahan menjadi pernikahan terakhir bagi kami. Namun.. yang menjadi permasalahan adalah mantan istrinya suamiku.

Dia selalu merongrong suamiku secara ekonomi dengan alasan untuk anak yang memang masih tinggal dengan ibunya karena masih dibawah umur. Padahal setiap bulan, suami saya sudah kirim banyak.. untuk uang makan, biaya sekolah dan biaya les.

Terkadang kejengkelan saya dengan mantannya membuat kami jadi beradu mulut. Bahkan suami tanpa sadarnya sering menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Dan yang membuat situasi semakin parah, suami saya senang membuat panas mantannya dengan memamerkan apa yang dia punya sekarang yang notabene adalah kepunyaan saya.

Mungkin Ini Karma

Saya memang memiliki penghasilan yang lebih banyak dari suami. Bersama-sama, kami berkecukupan secara ekonomi. Punya 2 mobil dan 3 rumah diawal tahun pernikahan. Tapi tidak pernah saya permasalahkan selama dia menghargai saya dan tetap bertanggung jawab.

Tapi, suamiku.. yang saya pikir lebih mengerti ilmu agama.. ternyata tidak sesempurna yang saya bayangkan. Setiap hari saya harus menahan diri, bersabar dan menerima untuk selalu kalah dengan apa yang dia berikan untuk mantan istrinya.

Lagi-lagi alasannya karena saya sudah mapan secara ekonomi. Padahal seorang istri, semapan apa pun dia, akan selalu merasa bahagia jika menerima nafkah dari suaminya. Sedikit, tapi itu tanda sayang. Pernah satu waktu saya sempat bilang mau keluar kerja, tapi dia bilang jangan. Jadi saya harus bagaimana?

Saat-saat tahun pertama pernikahan yang seharusnya penuh cinta kasih, sekarang harus kulalui dengan penuh kesabaran.. ya sampai nanti saya memiliki anak. Saya ingin tahu.. mampukah suamiku berlaku sama kepada anak dari mantannya dan anak dariku.

Mohon bimbingan dan doanya dari semuanya, para pembaca yang telah meluangkan waktu membaca kisahku ini. Kuingin yang terbaik untuk keluarga kecilku ini. Terkadang pikiran sering melayang kembali ke masa lalu, dan bagaimana saya telah menyakiti mantan suami saya dulu dengan kata-kata menyakitkan.. mungkin inilah karmanya.

Oleh karenanya saya sempat sms mantan suami saya untuk meminta maaf dan mendoakan dia untuk bahagia, tapi tidak dibalas. Saya mengambil hikmah dari kejadian ini, ternyata bahagia itu perlu perjuangan. Ya.. perjuangan.. kesabaran dan keikhlasan sering tidak sejalan.