Setelah Menikah Suami Memperlakukanku Seenaknya

Aku robot suami

Sebenernya aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka menceritakan hal-hal buruk tentang keluargaku, aku juga bukan tipe wanita pengeluh. Tetapi memang benar bahwa berbagi cerita ke orang lain itu penting juga untuk sekedar meluapkan perasaan supaya tidak terlalu tertekan.

Aku robot suami
Aku robot suami

Masalahnya kepada siapa aku harus bercerita, pertanyaan itulah yang membuat aku semakin tertekan selama ini.

Oleh karena itu melalui tulisan ini aku berharap bisa berbagi cerita kepada para pembaca ceritacurhat.com agar aku bisa mendapatkan masukan positif dari pembaca dan mudah-mudahan ada hikmah dibalik cerita ini.

Sebut saja namaku Liyan (bukan nama sebenarnya), aku dilahirkan dari keluarga yang cukup dihormati di kampungku, mungkin itu semua karena ibuku masih keturunan darah biru, ayahku yang sangat santun dan nenekku juga seorang guru ngaji yang disegani.

Aku anak ke 4 dari 5 bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya. Masa kecilku cukup bahagia dengan dikelilingi 3 orang abang dan 1 adik laki-laki yang sangat protektif, sehingga ketika remaja tidak banyak pria yang berani mendekatiku karna mereka harus berhadapan dulu dengan abang-abangku.

Mungkin secara tidak disadari karna aku mengagumi sikap abang-abangku, membuat aku lebih menyukai cowok yang usianya lebih tua dariku untuk jadi pasanganku kelak.

Oleh karena itu aku tidak pernah tertarik terhadap cowok yang seusia denganku, dan faktor inilah yang membuat aku berfikir lebih dewasa daripada umurku serta teman-teman sebayaku.

Mengenal Cinta

Beruntung Tuhan memberikan aku otak yang lumayan encer, maka Sejak SD sampe SMA kalo gak ranking 1 pasti dapat ranking 2, tak pernah lebih rendah dari itu.

Maka Setelah tamat SMP aku melanjutkan sekolah ke SMA di kota Kabupaten yang jaraknya sekitar 60 KM dari kampungku, sehingga waktu SMA aku sudah kos dan belajar hidup mandiri.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Tentu saja pengalaman ini membuat aku makin dewasa dalam berfikir dan bertindak, maka tak heran walaupun saat itu aku baru kelas 2 SMA konon katanya orang-orang nyaman bertukar fikiran denganku, tak terkecuali seorang cowok Sarjana Ekonomi yang usianya lebih tua 9 tahun diatasku, sebut saja dia Habieb.

Habieb adalah tetangga ibu kosku, dia cowok yang baik, tampan, mapan, dan juga soleh. Dia lah yang menyemangatiku untuk istiqamah dalam menutup aurat.

Perlahan karna kami sering sharing cerita akhirnya kami dekat satu sama lain dan untuk pertama kalinya aku benar-benar jatuh cinta sama cowo, begitu juga sebaliknya aku sangat merasakan kalo diapun sangat mencintai aku.

Hal tersebut aku sadari saat dia mengungkapkan langsung kepadaku perasaannya dengan mengatakan, “Liyan, kamu bukanlah wanita pertama yang mengisi hatiku, tapi kamu benar-benar berbeda dengan mereka, oleh karena itu saat ini aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadikan kamu pacarku, tapi jadilah ibu dari anak-anakku kelak,” jederrrrr jantungku berhenti berdetak seketika dan aku benar-benar sangat bahagia disaat itu dan hari-hari setelahnya.

Singkat kata hari-hari kami lalui dengan perasaan bahagia kami saling support satu sama lain dan hubungan kami semakin dekat termasuk dengan keluarga kami masing-masing, tapi dialah Habiebku sampai aku lulus SMA
tak pernah dia menyentuh tanganku terkecuali saat menyebrang jalan dengan tujuan melindungiku, alasan dia adalah bahwa dia benar-benar mencintaiku jadi dia tidak mau menyentuhku sampai aku benar-benar halal untuknya.

Tetapi sayang prinsip dia terlanggar, dia menggenggam erat tanganku dan memelukku dengan hati yang terluka karna kami dipaksa berpisah oleh sebuah janji ibunya Habieb. Ibunya meminta Habieb menikahi anak perempuan saudara jauh dari pihak ibunya sebagai balas jasa akan kebaikan keluarga tersebut.

Dengan hati hancur aku mengantarkan Habieb ke pelaminan, dan tak kupingkiri mungkin lebih hancur perasaan Habieb saat itu karna dia merasa seperti sebuah barang yang dipakai untuk membayar hutang budi ibunya. Tak kusangkal sampai detik ini momen itu masih melekat dalam ingatanku,, momen dimana aku benar-benar kehilangan Habiebieku.

Menikah

Setelah kejadian itu aku memutuskan pindah kos untuk melupakan dia, hati ini hancur ketika berkali-kali dia menghubungiku untuk minta ketemu karna dia merasa tersiksa dengan pernikahannya, tapi berusaha keras aku menghindarinya, karena sekalipun aku sangat mencintainya aku tau bahwa sekarang dia adalah suami orang.

Dengan hati yang luka, lanjutan masa depanku kurajut di kota Bogor, disana aku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi negri yang terkenal.

Untuk melupakan Habieb aku melakukan banyak aktifitas dan fokus belajar, sampai suatu ketika aku mengenal seorang laki-laki dewasa dari pulau seberang yang terpaut usia 13 tahun diatasku melalui chating di YM.

Sebut saja namanya Andra, saat itu tujuan dia aktif di YM hampir sama denganku yakni melupakan sejenak masalah yang dihadapi, dari cerita-ceritanya dan cara fikirnya aku bisa menilai dia adalah laki-laki yang smart dan sudah pasti dewasa.

Karna dua faktor itu membuat aku nyaman berteman dengannya dan mulai bisa melupakan Habieb (walaupun tidak pernah benar-benar lupa), selain chating kami juga makin sering sms an dan bertelpon sampai 2 tahun lamanya, mungkin karna sama-sama merasa kesepian kami merasa saling cocok walaupun gilanya sampai saat itu kami tidak tahu wajah kami masing-masing.

Dan setelah 2 tahun untuk pertama kalinya kami bertemu di Jakarta dan setelah itu kami pun lebih sering ketemu dan lebih serius. Selama 5 tahun kami berhubungan jarak jauh, setiap 3 bulan sekali kami bertemu dan kami makin tahu sifat satu sama lainnya.

Akhirnya pada pertengahan 2010 kami memutuskan untuk menikah, maka setelah menikah aku meninggalkan pekerjaanku di salah satu Bank dan mengikuti jejak suamiku tinggal di Pulau Sumatra.

Sejak saat itulah aku mulai menjadi robot suamiku, bagaimana tidak 3 hari setelah kami menikah dia langsung menceritakan tugas-tugasku di kantornya nanti.

Menjadi Robot Suami

Boro-boro kami memikirkan bulan madu sekedar merasakan indahnya malam pertama sebagai pengantin baru saja rasanya tidak, semua berlalu datar saja.

Pada awalnya aku tidak mempermasalahkan hal itu karna memang sebelum menikah pun aku tahu bahwa sebagai seorang profesional, suamiku harus mengawasi ketat kantornya dan dia bekerja seperti tak kenal waktu, kondisi itu tak membuat aku heran karena aku memang tau dia tipe laki-laki yang perfeksionis dan ambisius.

Terlebih tuntutan keluarganya pun terlampau banyak yang memaksa dia harus kerja ekstra untuk memupuk harta. Maka setelah aku menjadi istrinya, dia pun seperti memiliki energi baru untuk lebih extra cari duit.

Siang malam kami bekerja tanpa kenal waktu, walaupun sebenarnya lebih banyak aku bekerja daripada dia, hampir setiap malam kami tidur diatas jam 12 malam tepatnya jam 1 atau jam  2, bahkan sering aku tertidur jam 3 pagi, dan harus terbangun saat solat subuh.

Setelah itu akupun melanjutkan pekerjaan yang tadi malam belum selesai, sementara suamiku setiap harinya terbangun sekitar jam 12 an siang.

Memang untuk pekerjaan rumahh tangga aku tidak pernah memikirkan karna ada asisten rumah tangga. Kebetulan kami tinggal di ruko jadi lantai 1 kami pakai untuk kantor dan kami tinggal di lantai 2. Jadi memudahkan aku untuk kerja kapan pun.

Rasanya tak pernah lagi aku merasakan tidur selama 8 jam dalam sehari setelah menikah dan bahkan sampai hari ini. Sekalipun aku sedang hamil anak kami, aku baru boleh istirahat setelah aku tak kuat lagi menahan sakit dan panas di pinggang.

Boro-boro aku merasakan enaknya dimanja suami saat hamil, yang ada setiap hari aku selalu menahan perasaan dan air mata.

Disaat aku hamil, aku jauh dari orang tua, suami pun seperti tak memahami akan susahnya seorang wanita yang hamil. Dia akan marah-marah kalau aku tak mau diajak kerja malam dan aku tidur sebelum jam 12.

Mulutnya akan mulai mengeluarkan kata-kata yang membuat hati ini hancur dan ketika itu terjadi aku hanya diam sambil menahan tangis, dan ketika tak kuasa menahan air mata maka aku akan lari ke WC atau ke kamar untuk menangis, dan dia akan berkata bahwa aku tak perlu mengeluarkan air mata buaya.

Baca juga:

Apa yang Harus Aku Lakukan

Tuhan apa maksud suamiku ini kenapa begitu kerasnya hati dia, tak punya kah rasa kasihan di hatinya, aku juga lelah, aku butuh istirahat, aku ingin merasakan tidur lama seperti dia.

Kalau aku mengganggu tidurnya dia pasti akan marah, sebaliknya jika dia membangunkan aku bisa sampai tangan dan kakinya yang dia pakai dengan kasar.

Sungguh rasanya aku telah mencurahkan tenaga dan pikiranku untuk mengurusi kantornya, tapi rasanya tak ada artinya perbuatanku dimatanya, yang ada dalam otaknya bahwa aku wanita yang bodoh dan pemalas. Padahal aku kerja setiap hari lebih dari 15 jam, itupun masih dibilang pemalas.

Tak kurang rasanya akupun berbakti pada orang tuanya, tapi apa yang aku dapat, dia sering melemparkan barang-barang ke mukaku, memukul kepalaku dan berkata-kata kasar, malah mengancam akan menceraikan aku kalau setelah aku mengurus urusan orang tuanya dan beralasan untuk tidak kerja di malam hari.

Tidak sadarkah dia kantornya berkembang setelah menikah dengan aku, dengan kemampuanku banyak klien yang datang ke kantor suamiku. Dan perjuangan kami berkerja keras tidak sia-sia, dalam kurun 2 tahun semua sudah kami miliki, mulai dari rumah, mobil, perhiasan yang tentu saja mewah dan jumlahnya lebih dari satu termasuk uang milyaran yang menetap di beberapa tabungan atas namanya, pergi berlibur ke beberapa kota dan luar negeri pun jadi agenda rutin kami.

Apakah aku bahagia atas limpahan harta itu, jawabannya TIDAK,, bukan aku tidak mensyukuri nikmat Tuhan, tapi apa arti semua itu jika suami memperlakukanku seperti robot, jika secara hati tertekan dan makna sebagai seorang istri dan ibu tak dapat aku rasakan.

Pedih hati ini ketika memikirkan anak semata wayang kami yang lebih banyak waktu dengan babysitter, sementara aku tak lebih dari mesin pencetak uang suamiku.

Walaupun tak kupungkiri suami ku pun banyak jasa terhadapku dan keluargaku, tapi lagi-lagi semua itu selalu yang berhubungan dengan materi dan harus ada pengakuan dari aku dan keluargaku bahwa jasanya banyak terhadap keluargaku.

Tuhan jika ini ujian untukku maka bantu aku melewatinya dengan ikhlas, tapi jika ini adalah bagian takdir hidupku kuatkan aku dan jauhkan aku dari rasa frustasi dan jauhkan aku dari godaan syaitan.

Sesungguhnya Engkau Maha tau apa yang terbaik untukku,, Duhai suamiku engkaulah imamku, aku sayang kamu tapi tolong perlakukanlah aku sebagai istrimu bukan anak buah bahkan robotmu.

Terimakasih telah membaca ceritaku ini, mohon masukannya apa yang harus aku lakukan?

Gadis Tapi Bukan Perawan

Gadis tapi bukan perawan

Salam kenal buat seluruh pembaca ceritacurhat.com. Namaku Lani aku berasal dari daerah Lampung. Aku punya masa lalu yang pahit di masa remajaku dulu dan berikut ini kisahku.

Gadis tapi bukan perawan
Gadis tapi bukan perawan

Sejak SMP aku tidak pernah punya pacar, bukan karna tidak ada yang mau menjadi pacarku tapi karna memang ibu melarangku berpacaran. Alasannya aku masih terlalu dini untuk tahu hal-hal seperti itu. Ibu selalu bilang tugasku adalah sekolah dan belajar.

Singkat cerita aku sudah lulus SMP dan melanjutkan sekolah di kota. Karna rumah dan sekolahku yang sekarang jaraknya cukup jauh yaitu 2 jam perjalanan maka aku memutuskan untuk ngekos.

Dan sejak kost itulah aku mulai mengenal yang namanya pacaran. Awalnya aku pacaran dengan tetangga kost ku. Dia anak Bali, saat itu aku kelas 1 SMK dan dia kelas 2 SMA. Tapi hubungan kami hanya sebatas cinta monyet saja. Dan semuanya berjalan wajar seperti pacaran anak remaja pada umumnya.

Cinta Pertama

Beberapa bulan setelah itu kami putus karna diam-diam aku tahu dia juga berpacaran dengan teman satu kosan ku yang lain yang juga satu sekolah denganku.

Selang beberapa bulan aku kenalan dengan cowok yang bernama Almu. Waktu itu dia datang bersama temanku kekosan. Almu sangat tampan, badannya tinggi, putih, dan bibirnya merah. Dia adalah cowok tertampan yang pernah aku kenal.

Hari-hari berikutnya Almu sering datang kekosanku tapi tidak lagi dengan temanku, dia datang sendiri. Kedatangannya yang semakin sering membuat hubungan kami semakin dekat dan akhirnya kami jadian. Aku sangat mencintainya. Aku pernah mengajaknya pulang ke kampungku saat libur sekolah dan orang tuaku yang biasanya marah kini sebaliknya sangat setuju. Bahkan Almu sempat menginap di kampungku beberapa hari.

Aku merasa nyaman dan senang bersama Almu. Satu hal yang aku suka dari dia, dia tidak pernah berbuat macam-macam terhadapku. Dia bahkan pernah kutantang untuk meniduriku tapi dia menjawab, “Kalau dede jodoh kakak, kelak semuanya pasti jadi milik kaka.”

Dari situ aku merasa semakin mencintainya dan tak ingin berpisah dan kehilangan dia untuk selama-lamanya tapi karna saat itu dia kelas 3 SMK dan aku sudah kelas 2 maka mau tak mau kita harus berpisah. Rasanya sedih banget kehilangan orang yang benar-benar aku cintai yang aku rasa dialah cinta pertamaku.

Sebelum pergi dia telah berjanji padaku akan tetap setia. Dia akan bekerja di Jakarta dan berjanji kelak jika dia sudah berhasil dan aku sudah siap dia akan kembali padaku.

Beberapa bulan sudah berlalu dan saat ini dia sudah berada di Jakarta. Aku terus menunggu kabar dari dia tapi sepertinya Jakarta sudah merubahnya dan dia melupakanku. Lama aku menunggu kabar darinya tapi masih juga hampa.

Berpisah

Rasa jenuh dan sepi membuat aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain, Reji namanya. Dia anak kuliah. Reji memang tak setampan Almu tapi dia mampu menciptakan hari-hari penuh warna dan yang aku tahu Reji adalah lelaki baik-baik.

Singkat cerita aku diajak pergi ke kosannya. Awalnya aku tidak merasa takut karna aku tidak sendiri. Disana ada teman-teman satu sekolah denganku. Rupanya dia bikin acara ngumpul bareng. Sesaat dia menyuruhku masuk ke dalam rumah kost yang berpetak kecil itu. Akupun menurut, disana aku dikenalkan dengan adeknya, Reja namanya.

Setelah berkenalan aku melihat Reja keluar rumah entah dia pergi kemana. Dan teman-temanku yang lain ada diluar. Kini hanya ada aku dan Reji di dalam kamar. Aku bingung harus ngapain, Reji datang menghampiriku dan menyuguhkan teh hangat. Maklumlah malam itu cuaca mendung jadi cukup dingin.

Reji duduk di sampingku dan betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba Reji meraih tubuhku, mencium bibirku dan meremas buah dadaku. Aku sungguh ketakutan tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Karna memang dia punya tenaga yang jauh lebih kuat untuk memegang tanganku yang mencoba menepis tangannya yang terus meremas buah dadaku.

Tapi aku bersyukur karna dia tidak melakukan hal yang lebih parah dari itu. Sejak peristiwa itu kami putus. Aku
tidak ingin masa depanku terkoyak karna Reji, lagi pula di dalam hati aku masih memikirkan Almu.

Bertemu Setelah Berpisah Lama

Tak terasa setahun sudah berlalu dan kini aku lulus SMK karna tak ada biaya untuk lanjut kuliah aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta, berharap dapat bertemu Almu, lelaki yang sangat aku cintai dan aku rindukan.

Tanpa sengaja saat itu aku sedang buka-buka facebook dan ada satu permintaan pertemanan. Betapa terkejutnya karna orang itu adalah Almu…. ya… Almu yang aku cari. Almu yang selama ini hilang dari hidupku yang sangat aku rindukan.

Kami pun bertukar nomor dan dia menjelaskan semuanya, menjelaskan mengapa dia tak pernah menghubungiku, dan aku memahaminya. Kami pun melanjutkan hubungan kami yang sempat terputus cukup lama.

Sejak saat itu aku merasa kembali ke jaman putih abu-abu. Aku sangat bahagia karna aku merasa hubungan kita sudah cukup serius maka aku menuntutnya untuk melamarku. Tapi dengan berbagai macam alasan dia menolak. Aku tetap sabar dan menunggu. Satu yang mengejutkan buat aku saat itu tanpa sengaja aku membuka akun fb nya dan disitu tertulis dengan jelas status hubungannya.

Dia telah bertunangan dengan orang lain. Dengan gadis Jakarta yang pastinya memiliki segalanya yang lebih dari aku, baik materi maupun fisik. Disana aku juga melihat foto-foto mesra mereka. Ya Allah rasanya begitu menyakitkan. Orang yang sangat aku cintai diam-diam telah bertunangan dengan orang lain. Parahnya lagi kekasihku itu tidak jujur padaku.

Setelah menutup aplikasi itu aku segera menelpon Almu dan dengan sangat tenang dia menjawab, “maaf de, kaka memang sudah bertunangan. Kaka hanya ga ingin nyakitin dede makanya kaka gak berani untuk jujur”. Aku menutup telpon dan menangis sejadi-jadinya.

Ya Allah kenapa orang yang sangat aku cintai tega melakukan ini padaku. Sekian lama aku menunggunya dan kini aku menemukannya tapi dia hanya datang dan memberi luka. Aku benar-benar terpuruk, tidak cukup satu bulan aku menyembuhkan luka karnanya.

Sejak saat itu aku tak mau lagi dekat dengan yang namanya laki-laki. Beberapa orang mendekatiku tapi aku terus menolak dan akhirnya merekapun menyerah. Tapi tidak dengan lelaki yang satu ini, sebut saja dia Upin. Dia salah satu cowok yang menyatakan perasaannya saat aku sedang terpuruk sakit.

Cinta yang Salah

Aku menolaknya tapi dia tak pernah menyerah. Dia terus memberiku semangat karna emosiku pikiran buruk pun datang. Aku terus menerima telponnya tapi bukan untuk membahas perasaan kami melainkan hanya untuk marah marah meluapkan emosiku karna kesal dengan nasibku.

Dia sangat sabar dan aku mulai luluh. Dua tahun kami berhubungan lewat telpon saling berkirim foto dan sms an. Semakin lama aku semakin nyaman. Dia sangat baik… sabar.. perhatian. Beda dengan Almu. Sosok Almu pelan-pelan mulai sedikit luntur dari hidupku. Semakin lama hubungan kami yang hanya lewat telpon itu semakin dekat dan kami pun memutuskan untuk ketemuan.

Pertemuan pertama di rumah sakit Abdul Moeluk Bandar Lampung. Saat itu saudaranya dirawat di sana. Aku pun datang kesana dan menemuinya. Kami memang sudah merasa sangat dekat sehingga pertemuan pertama kami pun rasanya sudah tidak asing lagi. Aku dikenalkan dengan keluarganya dan keluarganya menerimaku dengan amat sangat baik.

Selang beberapa hari setelah pertemuan itu, dia datang kerumahku. Tepatnya saat hari raya Idul Fitri tapi ibu ku tidak setuju. Dia masih terus berharap aku bisa kembali bersama Almu yang jelas-jelas sudah bertunangan dengan orang lain. Karna ibu selalu mengharapkan Almu aku pun memutuskan pergi bersama Upin. Diam-diam setelah Idul Fitri aku pergi ke kampungnya di Rumbia. Keluargaku tidak tahu, mereka hanya tahu aku kerja di salah satu pabrik di Jakarta.

Dua hari aku menginap di rumah Upin. Esok paginya aku diantar ke Batasena untuk kerja disana. Aku tinggal dikontrakan bersama temen Upin yang juga kerja di sana. Upin selalu mengunjungiku seminggu sekali.

Dikontrakanku semua bebas, sehingga peristiwa itu pun terjadi, sejak aku memutuskan tinggal bersama dia dan siap meninggalkan keluargaku, keluarganya semakin baik. Diapun semakin sayang padaku. Kamipun sudah seperti suami istri yang artinya dia selalu datang memberiku uang untuk biaya makan dan bayar kontrakan sampai aku menerima gaji.

Gadis Tapi Bukan Perawan lagi

Dia berjanji akan menikahiku setelah kakaknya lulus kuliah. Dan karna janji-janji manisnya itu kami pun melakukan hubungan suami istri. Selang 3 minggu aku tes pek dan hasilnya positif. Aku hamil, aku segera memberi kabar gembira itu padanya. Tapi apa yang dia bilang, “maaf kamu gak mungkin hamil. Mungkin itu bukan cuma anakku. Tapi juga anak dari laki-laki lain”.

Aku terkejut dengan pernyataanya, aku menangis dan menjelaskan semuanya tapi entah apa yang membuat dia tidak percaya padaku. Usut punya usut, teman-teman satu kontrakanku melaporkan padanya bahwa aku tidur dengan laki-laki lain.

Padahal aku tidak pernah melakukan itu, bahkan pernah suatu malam hari salah seorang sahabat Upin mencoba menggauliku tapi aku menepisnya karna memang aku hanya mencintai Upin. Soal hal itu aku juga gak berani cerita ke dia. Aku takut dia tidak percaya.

Kini dia tak pernah datang ke kontrakanku lagi dan naasnya lagi aku kehilangan bayiku. Ya… aku keguguran. Aku menelponnya berharap dia mau datang. Dia memang datang untuk menemuiku dan mengambil gumpalan darah yang kata orang itu adalah calon bayiku untuk dibawa pulang kerumah orang tuanya dan dikubur.

Orang tuanya sudah tahu semua hal ini tapi entah mengapa mereka tak menuntut Upin untuk bertanggung jawab. Upin memutuskan untuk pergi ke Kalimantan dan orang tuanya bilang Upin pasti datang. Upin juga bilang dia akan datang jika dia sudah berhasil.

Tapi faktanya nihil, dia tak pernah datang padaku. Dan aku kembali kepelukan orang tuaku dalam keadaan kotor dan hina. Aku menyembunyikan semua kejadian yang menimpaku, mengatakan kepada orang tuaku kalau aku baik-baik saja. Sampai detik ini orang tuaku tak juga tau bahwa aku adalah seorang GADIS BUKAN PERAWAN.

Jeruk Makan Jeruk, Sahabatku Menikahi Wanita yang Kucintai

Jodoh dijemput sahabat

Sebut saja namaku Lana, aku asli Bogor, namun aku dibesarkan di dua kota besar sejak lulus Sekolah Dasar (SD) dan menamatkan studi di sebuah Universitas Negeri di Ibukota Jakarta.

Sahabatku menikahi wanita yang kucintai
Sahabatku menikahi wanita yang kucintai

Cerita ini mungkin sudah banyak yang telah mengalaminya, sebagaimana anak muda pada umumnya.

Ya, patah hati dengan orang yang dicintai dan dikhianati sahabat sendiri memang menjadi kenangan tersendiri bahkan mengerikan dalam perjalanan hidup.

Sekadar ingin menumpahkan perasaan gelisah, aku menuliskan cerita ini dengan hati yang cukup tercacah.

Fitri (nama samaran) menurutku bukanlah gadis yang cantik. Hanya saja, dia terlihat sedikit lebih menarik dibandingkan wanita lainnya. Ya, dia adalah gadis pujaan banyak pemuda di rumahku.

Rumahku dan rumahnya yang hanya berjarak beberapa rumah, membuat kami selalu bertemu dan bersama. Awalnya tidak ada perasaan sama sekali kepadanya, namun lambat laun, perasaan peduli itu muncul yang menjadi bibit awal hubungan kami, aku benar-benar menginginkannya.

Namun, keinginanku untuk memilikinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Dirinya yang telah memiliki kekasih menjadi kerikil tersendiri di dalam perjuangan hidupku.

Baca juga cerita menarik lainnya:

Pucuk dicinta ulam pun tiba, kami semakin dekat usai dirinya putus dengan kekasihnya. Keakraban kami lebih dari sekedar teman. Namun, terkadang aku juga mempertanyakan, kami sadar, kadang kami adalah sahabat, kadang lebih dari sekadar teman, bahkan kadang kami merasa, kami bukanlah siapa-siapa.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa dan kami sadari, kebersamaan ini sudah menjadi buah bibir para tetangga. Terlebih, setiap acara keluarganya, aku selalu diajak untuk ikut, dengan senang hati aku selalu mengiyakannya.

Perkenalan Itu

Namun, petaka datang ketika tahun 2011 tiba. Ketika itu, aku yang memprakarsai sebuah acara di lingkungan rumah dengan mengundang beberapa teman sekolah dulu waktu aku menuntaskan studi. Ya, tanpa aku sadari kegiatan menjadi biang rusaknya hubunganku dengan Fitri.

Beberapa hari setelah acara tersebut usai, aku ingin memastikan soal hubunganku dengan Fitri yang entah tanpa tujuan. Aku menyatakan cinta kepadanya. “Fit, aku bingung, sebenarnya kita ini siapa dan tujuannya apa? Aku mau ada kepastian, kalau memang untuk serius, mari kita jalani,” ungkapku kepadanya.

Akan tetapi, seperti menelan air keras ketika kehausan, aku harus menerima jawaban yang tentu bukan harapanku. “Aku menganggap kita sebagai ade dan kaka saja dan tidak lebih,” jawabnya singkat.

Ya, sangat singkat, namun memiliki efek berantai terhadapku yang tidak menginginkan jawaban seperti itu.

Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, “Lalu apa arti kebersamaan ini?” gerutuku di dalam hati, namun aku sadar aku tak bisa memaksakan kehendak.

Lama aku terjeruji di ruang hampa tanpa tujuan, tanpa ikatan, tanpa arah dan tanpa harapan yang sesuai dengan keinginan. Hatiku hancur tak berbentuk.

Merasa janggal dengan semuanya, perlakuannya yang sudah kuanggap sebagai ’lampu hijau’ ke arah yang lebih serius namun bertolak belakang.

Aku tak tinggal diam begitu saja, rasa ingin tahu membuatku mencari tau sebab dirinya menolakku. Tidak disangka dan dinyana, akhirnya aku tahu siapa ’dalang’ di balik ini semua.

Jeruk Makan Jeruk

Ternyata seorang sahabat yang sudah aku anggap saudara sendiri. Ya, sebut saja Ma’mur (nama samaran), teman seperjuangan, sahabat yang selama enam tahun hidup bersama satu pendidikan di pesantren.

Ya, laki-laki yang mematahkan asaku adalah kawan yang aku kenalkan padanya pada 2011 lalu. Jeruk makan jeruk.

Kedekatan aku dan Ma’mur sudah tidak bisa diragukan lagi. Bahkan aku dan keluarganya sangatlah dekat, begitu juga dengan dia dan keluargaku, begitu dekat. Jangankan makan, bermain, berjuang, belajar bersama, tidur, curhat sering kami bersama.

Hingga pada 2011 lalu, ketika aku memperkenalkannya dengan Fitri, dirinya tinggal di rumah selama hampir satu bulan selama bulan puasa.

Makan, sahur, berbuka puasa, ke ladang untuk panen memetik buah. Namun semua kekuatan emosional itu harus luntur karena seorang wanita.

Sakit hati ketika Fitri bilang. “Maafin Fitri, tanpa sepengetahuan kaka, selama ini Fitri dekat dengan ka Ma’mur,” ucapnya lewat sebait SMS kepadaku saat itu.

Menggelegar perasaanku seketika, entah harus berbuat apa, walau pahit tapi itulah kenyataannya. Dia berhak untuk memilih dan aku yang telah ’terkelabui harapan’ hanya bisa pasrah dengan perasaan luluh lantah.

Cukup lama mereka berpacaran, hingga satu tahun lebih. Tepat pada perayaan 17 Agustusan yang aku prakarsai tahun lalu. Keluarga kawanku datang untuk melamar Fitri, mereka datang dengan perencanaan serta penentuan hari pernikahan.

Aku yang menjadi peserta lomba panjat pinang saat itu berhasil memboyong sahabatku menuju kemenangan diujung tiang pinang untuk jadi pemenang.

Ya, sangat persis dengan kemenangan yang diraih kawanku itu yang berhasil mengambil hati Fitri seutuhnya. Inilah kenyataannya, Fitri bukanlah ’jodohku’, melainkan jodoh sahabat baikku. Haruskah persahabatan itu hilang?

Di luar semua dugaan, penentuan hari pernikahan cukup cepat. Hanya berselang satu bulan usai lamaran. Mulai dari hari itu, aku terus menghitung hari, selalu aku hitung mundur dan aku torehkan di status BBM-ku. Ya, hingga akhirnya hari berbahagia bagi mereka tiba, aku tetap berupaya tegar dan tetap ada.

Namun, hati tidak bisa dibohongi, aku merasa tidak akan sanggup melihat secara langsung akad pernikahan ’adik’ dan ’sahabat’ dekatku itu. Bukan karena aku pengecut, hanya karena aku takut terlalu kuat kenangan yang ditorehkan dalam hati.

Aku tidak bisa membedakan, apakah ini tangis haru atau cemburu. Kendati demikian, aku tetap datang ke pesta perkawinan mereka dengan hati yang pasti terluka.

Namun, dengan besar hati aku ucapkan kepadanya “Selamat Berbahagia Kawan, Inilah yang Terbaik”.