Menjadi Lesbian, Hidupku Menderita

Hidup menderita menjadi lesbian

Kenalkan nama aku Yonk. Aku menjadi seorang lesbian tanpa aku sadari. Yah mungkin karena aku termasuk anak yang broken home. Tapi apa pun itu aku tak menyalahkan kedua orang tuaku, terutama mama yang sudah berjuang melahirkan aku (meskipun awalnya dia tidak mengharapkanku).

Hidup menderita menjadi lesbian
Hidup menderita menjadi lesbian

Aku juga tak menyalahkan papa yang menceraikan mamaku sesaat setelah aku lahir dan sampai sekarang tak pernah menemuiku bak pengecut.

Aku juga tak menyalahkan ayah tiriku yang tidak pernah memperlakukan aku selayaknya anaknya. Meskipun sampai detik ini aku belum mempunyai saudara dari mama, sedangkan dari papa aku sudah memiliki dua orang adik.

Aku sekarang sudah berumur 20 Tahun. Yah udah dewasa juga, dan yang kurasa bukan hanya umurku yang bertambah dewasa, tapi pemikiranku kian hari kian dewasa dengan semua cobaan, tantangan, rintangan dan rasa sakit yang aku alami.

Awal mula aku merasakan ada hal yang aneh dalam diriku adalah ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, aku mempunyai seorang teman yang sangat cantik dan manis, sebut saja namanya Devi.

Devi begitu manis ketika tersenyum, apalagi ditambah dengan tahi lalat dekat bibirnya, yang semakin membuat aku mengagumi kecantikannya. Terlebih lagi bau parfumnya yang begitu menggodaku ketika berada didekatku. Sejak saat itu, aku merasakan hal aneh. Aku begitu deg-degan ketika didekatnya. Aku dan dia tidak begitu akrab. Aku memiliki teman sendiri, diapun seperti itu.

Saat itu aku belum paham dan mengerti tentang lesbian, aku hanya merasakan ketertarikan yang menyenangkan kepada sesama wanita. Sementara perasaan terhadap cowok seusia bisa dibilang tidak ada.

Dilain sisi, aku juga merasakan hal tersebut pada salah satu sepupuku (namanya Unni). Dia jauh lebih tua dari aku. Umur dia 8 tahun lebih tua dari aku. Kronologis sehingga aku bisa memiliki rasa yang aneh terhadapnya adalah ketika dia sering datang kerumah buat nonton.

Dan entah kenapa, dia itu selalu suka memegang bagian-bagian tubuhku, tapi bukan yang intim yaaa, dia suka memegang bagian lengan aku. Aku gak tau, mungkin dia gemes dengan badanku yang agak chubby. Dia selalu melakukan hal itu, hingga suatu hari aku sadar, aku merasakan aneh.

Setiap malam, aku selalu terbaring ditempat dimana dia sering duduk dan menantinya datang, dan betapa kecewanya aku jika dia tidak datang. Sampai suatu ketika, dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, hal itu benar-benar membuatku terpuruk.

Berkali-kali dia datang dan kemudian pergi lagi, dan sekian kali itu juga aku merasa begitu kehilangan.
Berlanjut ke Devi, aku terus memendam perasaan aneh terhadapnya. Dan dalam hati aku terus bertanya, kenapa aku seperti ini? karna tak kunjung menemukan jawaban akhirnya aku biarkan saja perasaan aneh itu.

Dan kemudian aku naik ke kelas VIII, dan disitulah, perasaan aku semakin gila. Kelas aku kembali diacak, dan aku tetap sekelas lagi dengan Devi. Tapi kemudian ada seorang anak baru dikelasku. Namanya Ana, dia wanita yang cantik, wangi dan juga pintar.

Aku kembali mengagumi si Ana ini. Dengan kata lain, aku menyukai dua orang wanita sekaligus di dalam kelasku. Dan hal itu semakin membuat aku gugup menjalani hari-hariku di sekolah. Kubiarkan semuanya mengalir begitu saja.

Sampai akhirnya, naik ke kelas IX, takdir kembali mempertemukan aku dengan Devi. Ana saat itu masuk ke kelas khusus. Meskipun begitu, aku masih saja sering mencuri pandang padanya. Sedangkan si Devi yang saat itu masih satu kelas dengan aku, mungkin dia merasakan gelagatku yang aneh membuatnya sedikit tahu tentang perasaanku. Dan karena itulah kadang aku menjadi olok-olokan teman satu geng mereka.

Aku tidak tahu, mungkin mereka menyadari sikap anehku ini. Pernah suatu hari aku tanpa sengaja menulis nama Devi di walpaper hapeku, dan sejak saat itulah Devi dan satu gengnya seakan makin memperolok aku ditambah kecemburuanku saat itu karena Devi tengah dekat dengan seorang cowok satu sekolah.

Hari-hari yang kulewati terasa suram. Aku terus berharap masa Sekolah Menengah ini cepat berakhir. Dan tibalah dipenghujung masa-masa SMP berakhir, semua lulus, termasuk aku, Devi dan Ana.

Aku kemudian berharap agar tidak satu sekolah dengan Devi lagi tapi disisi lain, aku juga takut kehilangan senyum manis dan wajah itu yang biasa kutatapi dan menjadi penyemangatku ke sekolah.

Aku kemudian mendaftar di sebuah Sekolah Atas, dan betapa kagetnya aku. Kudapati wajah seorang gadis yang begitu aku kagumi itu sedang berjalan kearahku. Aku bahagia saat itu karena ternyata kami akan satu sekolah lagi.

Tapi sayang, setelah sekolah dimulai dan MOS dimulai, aku tahu Devi dan aku tidak berada dalam satu kelas. Yah, sedikit bersyukur, setidaknya itu akan membantu aku melupakan sedikit rasaku. Apakah aku sudah menjadi lesbian? ah entahlah.

Tapi, jauh dari perkiraan. Rasa itu malah semakin kuat dan kuat. Aku terkadang mencuri pandang dengannya. Dan kadang begitu salah tingkah di depannya. Akupun memiliki empat orang sahabat saat itu.

Masa-masa kelas X berlalu begitu saja. Datar, tak ada yang indah. Kecuali kesedihan aku harus putus dengan seorang kekasihku (cowok) yang sudah kujalani selama 4 tahun. Hubungan kami kandas begitu saja, tanpa penyebab pasti.

Tapi yah aku gak terlalu bersedih kala itu, karena perasaanku memang jauh lebih besar kepada Devi dan mantanku itu memang terlalu sering aku cuekin. Yah buanglah kisah tentang cowok itu, dia bukan bagian dari cerita ini.

Akhirnya aku naik ke bangku XI, sebelum naik kelas, kami diharuskan memilih salah satu jurusan, antara IPA dan IPS. Aku langsung memilih IPA, karena aku memang orang yang tidak terlalu suka atau boleh dibilang ilfill dengan pelajaran IPS.

Dari dulu, aku memang lebih tertarik dengan sesuatu yang berbau perhitungan dan membutuhkan ketelitian. Ditambah lagi, ke-3 sahabatku juga memilih IPA.

Semester ganjil pun dimulai, dan aku kembali dikagetkan dikala aku memasuki ruang kelas itu, kudapati wajah yang tak asing, wajah yang terkadang membuat aku begitu deg-degan, Yah Devi. Aku satu kelas lagi dengannya. Aku tidak menyangka dia juga memilih jurusan IPA, dan kami satu kelas lagi. Hal itu membuat aku kembali bersemangat menjalani hari-hariku di sekolah.

Bahkan, terkadang aku hadir lebih awal hanya untuk melihat wajah itu lebih awal. Kami pun semakin dekat, ketika kami dipertemukan dalam satu kelompok dalam sebuah pelajaran. Yah boleh dibilang, aku dan Devi lumayan dekat dibandingkan saat kami duduk dibangku SMA.

Tapi kemudian, hatiku kembali digoyahkan oleh seorang wanita, namanya Evi. Dia cewek yang kurang baik, dia bandel dan suka bertengkar dengan orang lain meskipun ihanya karena masalah kecil.

Aku kemudian naik ke kelas XII. Pertemanan aku dengan Evi malah semakin dekat. Bahkan pernah, sahabat-sahabat aku merasa jauh dengan aku karena kedekatan aku dengan si Evi. Dan kemudian aku sadar, aku sama Evi bukan berteman atau bersahabat tapi aku hanya menuruti nafsuku untuk terus dekat dengan EVI.

Sejak itu pun aku merasakan perasaan aku dengan Devi sedikit berkurang. Tapi kemudian aku kembali menyukai dua orang lagi, namanya Ira dan Ara, tapi perasaan aku jauh lebih kuat ke Ira. Tapi dia juga memiliki seorang cowok.

Semua berlalu begitu saja, terus aku pendam perasaanku dengan wanita-wanita yang aku sayangi itu. Masa Sekolah pun usai. Aku memulai perjalanan hidupku lagi di sebuah tempat perkuliahan. Disana aku tak lagi menemui salah satu diantara mereka. Aku tak lagi jatuh cinta dengan seseorang pun saat itu.

Tapiiii,, perasaanku dengan sepupuku tetap saja ada.

Aku kemudian memulai sebuah hubungan dengan seorang cowok. Cowok yang begitu spesial di mataku saat itu. Aku pertama kali bertemu dengannya dirumahku. Saat itu, aku kagum dengan keberanian dia dan keseriusannya.

Tapi itu tidak bertahan lama, Aku merasa dia berubah apalagi setelah dia sering keluar kota. Aku pun merasa dia bosan dengan aku, karena aku adalah seorang anak rumahan yang jarang keluar dan juga tidak diperbolehkan untuk pacaran. Dan kemudian hubungan itu berakhir.

Setelah hubungan ini berakhir, aku sering kali membuka profil facebook dia. Dan suatu ketika, aku begitu kaget melihat seorang perempuan mengomentari salah satu status dia dan memanggil dia sayang. Kala itu, aku benar-benar hancur.

Dan kemudian, aku memutuskan untuk mencari tahu tentang wanita itu. Dan kemudian aku membuat sebuah aku facebook lagi. Aku mulai berkenalan dengan pacar mantanku itu. Dia juga lumayan bisa diajak berteman. Lama kenal dia, aku mulai mengorek-ngorek tentang pacarnya, dan ternyata aku kembali merasakan sakit, pacarnya memang mantan aku.

Dan betapa kagetnya aku, mendengar bahwa meraka jadian di malam aku putus dengan si Doii.. Dalam hati, aku begitu marah, tapi kemarahan itu sudah tak ada artinya, karena dia bukan milikku lagi.

Aku kemudian mengikhlaskannya, tapi aku tak bisa berhenti terus ingin mengetahui tentangnya. Dan kemudian aku tahu, bahwa dia lagi tak ada dikota ini, dia diluar kota. Dan sejak itulah ceweknya sering curhat tentang dia ke aku.

Katanya dia berubahlah, dia jarang menghubungilah. Entahlah, aku tidak peduli lagi. Kemudian aku putuskan untuk memblokir cewek itu dan mantanku tersayang.

Suatu hari, usai teman aku meminjam flash disk milikku. Aku mendapatkan sebuah film didalamnya, film YES OR NO. Inilah yang kemudian membawa aku membuat facebook ini yang awalnya aku hanya iseng dan ingin ku koleksi foto-foto pemain yes or no di facebook ini.

Tapi lama kelamaan, aku makin banyak mengenal cewek-cewek belok. Pertama kenal, dengan inisial F. Cewek ini katanya begitu suka dengan aku. Tapi enggak tahu kenapa, aku gak bisa memiliki rasa sedikitpun dengannya. Hingga suatu malam, ada seseorang yang terus menerus me-LIKE setiap statusku. Aku kemudian memulai percakapan dengannya.

Inisial cewek itu R. Awalnya aku begitu risih dengan sms-sms’y yang selalu menceritakan pacarnya (BUTCHY) yang memiliki pacar lain. Hampir setiap detik dia menceritakan pacarnya itu. Dan aku bosan.

Tapi ketika suatu malam, dia mengirimkan aku pesan singkat sebelum dia tidur. “Kamu juga jangan begadang” yah kurang lebih isinya seperti itu. Saat itu aku senang membaca sms itu. Kemudian lama kelamaan, aku merasa cemburu setiap dia menceritakan tentang GF’y itu, apalagi kalau dia bilang GF’y mau datang kekost’an dia, dan aku semakin menggerutu dalam hati, ketika sms ku tak dihiraukan.

Aku dan R, makin hari makin kenal. Aku banyak menceritakan tentang hidup aku ke dia, begitupun sebaliknya. Dan aku begitu senang mendengar dia putus dengan GF’y. Aku mungkin jahat karena senang diatas penderitaan dia. Tapi, itulah yang kurasakan saat itu.

Senang itu tidak berlangsung lama, dia kembali menceritakan bahwa ada seorang Butchy yang menembaknya. Aku patah hati mendengarnya bahkan sampai meneteskan air mata, padahal dia seseorang yang tidak pernah aku temui.

Berulang kali aku bilang ke dia, kalau aku menyayanginya, tapi itu tidak pernah direspon dengan alasan dia tidak bisa Hubungan Jarak jauh.

Aku kemudian menerima alasan itu. Aku menerimanya hanya sebagai sahabat, tapi entah kenapa, setiap kali dia bercerita bahwa GF nya yang sekarang datang ke tempatnya, itu membuat aku sering marah-marah tidak jelas ke dia, bahkan terkadang aku melukainya dengan kata-kata kasarku.

Tapi dia selalu memaafkan itu. Dan kemudian, aku mengenal seseorang lagi, Namanya Shella (GF aku sekarang). Perkenalan kami cukup singkat. Aku awalnya hanya untuk memanas-manasin R. Tapi ternyata R tidak pernah menghiraukan itu. Dia malah senang aku menemukan seorang pacar.

Shella kemudian begitu perhatian dengan aku. Semua itu membuat aku begitu tersentuh dan akupun mulai menyayanginya. Karena adanya si Shella, perasaan aku dengan si R mulai berkurang.

Dan kini, aku benar-benar sayang dengan Shella. Meski aku tahu, dia memiliki kekasih yang lain, tapi aku menerimanya. Aku begitu menyayanginya sekarang hingga aku tak mau kehilangannya. Entah sampai kapan aku hidup sebagai lesbian.

Maaf, Kupinjam Suamimu Sebentar

Dear pembaca, Ini kisah nyata yang kualami 4 tahun yang lalu, tepatnya Oktober 2010. Sebut saja namaku Dea, aku karyawan swasta yang tinggal di salah satu kota besar di Jawa tengah. Empat tahun yang lalu aku menjalin hubungan dengan suami orang.

Maaf, Kupinjam Suamimu Sebentar
Maaf, Kupinjam Suamimu Sebentar

Kisah ini berawal ketika aku mengikuti kerja musiman di kota Solo. Disitulah awal perkenalan kami, mas David namanya. Umurnya jauh diatasku ketika itu.

Harusnya aku mengenalnya sejak dulu karena tahun angkatan kerja kami sama, namun memang aku baru melihat dan mengenal sosoknya ketika kami ditempatkan pada satu bagian pengurusan pasport.

Satu bagian, dan satu satuan kerja, membuat intensitas pertemuan kami begitu intim. Dalam sehari kami bisa 18 jam bekerja. Kami sering bercanda, menghabiskan waktu untuk sekedar ngopi, nongkrong di balkon, dan bercerita ngalor ngidul yang lebih dominan tentang kehidupanku.

Kehidupan nyata yang amat sangat menyiksa. Sedikit flasback kehidupanku yang memang aku rasa seperti di penjara, aku memiliki seorang kekasih Satya namanya, telah 6 tahun kami menjalin hubungan, kami tinggal dikota yang sama, Satya yang terlalu over protective, yang teramat kasar, membuat aku sama sekali tidak berani memiliki teman, bahkan 1 gelintir teman pun aku tidak punya di kotaku.

Tersiksa

Setiap waktu aku selalu bersamanya, dari pagi membuka mata, aku sudah dijemputnya untuk kuliah, di jam perkuliahan, dia menungguku di depan kelas, sambil mendengarkan mp3, ketika kelas usai, aku langsung diajaknya untuk meninggalkan kampus, itu aku lalui selama masa perkuliahanku.

Begitulah singkat cerita hubungan kami, sudah berulang kali aku ceritakan ini kepada orang tuaku, namun mereka hanya bisa menegurnya secara halus dengan embel-embel balas budi. Karena memang Satya berpengaruh besar pada kehidupan ekonomiku.

Tak jarang badan ini biru-biru lebam akibat cantiknya tangannya, telinga ini yang terlalu lebar mendengar semua makian kebun binatangnya, begitu menyenangkannya hidupku ini.

Itu yang selalu kami bahas dalam perbincangan santai kami, sambil minum kopi. Awalnya aku hanya menganggap mas David sebagai kakak, karena nasehatnya super dahsyat, super meluluhkan tulang belulang, bak Mario Teguh dalam dongeng.

Lambat laun kami berjalan, perbincangan kami mulai benar-benar serius, sampai pada fase ada sepucuk surat di dalam dompetku, dengan mengernyitkan dahi, aku baca surat itu, ternyata… puisi mas David yang diperuntukkan untukku, dengan bahasa yang menggetarkan jiwa, masuk dalam sukma arum, intinya ia simpatik kepadaku, dan ia mulai merasakan cinta, jujur.. aku menitikkan air mata.

Jatuh Cinta Dengan Suami Orang

Beberapa menit setelah aku membaca surat itu, telepon berdering, mas David menelpon… dengan tegas dan lugas ia menjelaskan semua isi surat itu, membenarkan apa yang tertulis. Aku terdiam, aku tahu pasti kondisinya, aku tau pasti statusnya, ia Ayah dari seorang anak, ia suami dari seorang istri, tapi rasaku memang berkata lain, AKU JUGA MENCINTAINYA.

Sejak saat itu, ia selalu menyapaku lembut, ia memanggilku “dinda”, menenangkan seluruh keraguanku dalam hidup, kami menjadi semakin intim. Kami diam-diam sering pergi berdua di sela-sela jam kerja. Hal yang membuat aku tidak pernah bisa mengelak, perlakuannya kepadaku sungguh sempurna menurut takaranku, ia menuntunku memperkuat iman, memperbaiki ibadah, memberikan pelajaran bagaimana cara melipat baju, cara membuat kopi, dia benar-benar memperlakukan aku sebagai istri.

Setan apa yang membawa kami pada kenyamanan ini, kenyamanan yang sebenarnya TIDAK PERNAH BOLEH terjadi. Kenyamanan yang akhirnya menuntun kami kepada batas yang terlewatkan. Aku tidak pernah merasa iri bila mas David harus menjalankan kewajibannya sebagai suami, bahkan tak jarang aku yang membalas sms-sms istrinya, yang mungkin hanya sekedar menanyakan kabar, atau menyatakan rasa kangen (hebatnya saya).

Begitu juga sebaliknya, mas David juga sering membalas sms dari Satya, aku bisa saja karena memang posisiku yang kedua. Pernah aku sampaikan kepada mas untuk menjadikanku sebagai istri kedua dengan menikah siri, dengan lembut ia menjawabku, “Dinda nya mas, mas tau dinda ingin, mas pun juga ingin, tapi mas belum mampu adil dalam keluarga Dinda, mas tidak akan pernah bisa adil karena mas sangat mencintai dinda, dinda berhak dapat kebahagiaan nyata”, aku diam tanpa kata. Aku mengerti.

Hubungan ini kami jalani hingga hampir 3 bulan, hidup rasanya sangat indah meskipun itu dari suami orang lain, sangat sempurna tanpa ada keterbatasan sikap kata dan perbuatan. Kami lupa daratan, namun kami tetap menjalankan kewajiban kami pribadi termasuk tetap manjaga hubungan baik dengan pasangan.

Berpisah

Karena kerja kami kerja musiman, ada saat kami harus berakhir, kami harus kembali ke kehidupan kami masing- masing, ia kembali pada istri, dan aku kembali pada Satya. Malam ini, bisa jadi malam terakhir bagi kami, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa hotel.

Sampai di hotel, mas menyuruhku bersih-bersih badan dan mandi sebab kami masuk hotel dalam keadaan basah kuyup diguyur hujan. Aku menurutinya dengan pamit, “mas, dinda mandi dulu”, tanpa menjawab, mas David menyusulku ke kamar mandi, dan bisa pembaca simpulkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya.

Kami selesai mandi, tanpa aku minta, mas David menggendongku menuju ranjang, ia lantas menidurkanku dan meletakkan aku dibawah tubuhnya. Mata nya yang tajam, memandangku dalam.. tanpa aku sadari air mata mas David menetes di pipiku, sambil mengusap rambutku ia berkata,

“Dinda, mas sungguh tidak sanggup berkata-kata lagi, mas bingung harus bagaimana, mas salah dinda, mas harusnya tidak menyeret dinda pada lubang kemaksiatan ini, awalnya mas hanya ingin membantu dinda bangkit dari keterpurukan hidup, tapi hati mas tidak bisa berbohong, mas jatuh cinta pada keanggunan dinda, mas tidak mampu melihat dinda terluka, tapi mas memang benar-benar belom mampu adil untuk menjadikan dinda sebagai istri kedua, mas sayang dinda, dinda yang kuat, dinda harus lebih bahagia, dinda harus lebih tegar”.

Aku tak mampu mengelak, jangankan mengelak, untuk mengucap satu kata saja aku tak mampu, hanya air mata jawabannya. Ia mencium dahi, kedua mata dan pipiku, juga bibirku. Ia kembali lagi pada dahiku, membacakan doa yang aku sendiri kurang jelas apa, sebab aku masih benar-benar down.

Tak terasa entah bagaimana tadi kelanjutannya, aku ketiduran, dalam pelukan mas David, tanpa mengenakan pakaian hanya berselimutkan bedcover hotel. Jam 11 aku terbangun, iseng aku buka handphonenya, aku baca-baca sms nya, sms terakhir, dari istrinya,

“Mas, kapan pulang, Ika kangen, Kenzhi juga sudah menanyakan kapan bapaknya pulang”. Balasannya, “sayang, disini hujan lebat, mas belum bisa pulang, ini mas nginep di rumah teman, besok pagi mas pulang, sabar ya sayang, peluk cium mas buat kalian berdua”.

Bisa pembaca rasakan apa yang saya rasakan saat itu, saya menangis, sangat sangat terpukul, ingin rasanya aku menjerit, pertanyaannya KENAPA?? kenapa bukan aku yang ditakdirkan menjadi istrinya, kenapa harus begini keadaan kami?? mengapa? Sadarkah istrinya bahwa suaminya malam ini tidur bersamaku..? TUHAN….. dosa apa aku?

Rindu Itu

Hmhh, pagi menjelang, kami bersiap untuk pulang. Sebelum pulang, kami kembali mengobrol mempersiapkan diri, ia bersimpuh di depanku yang tengah terduduk lesu, ia menangis dipangkuanku meminta maaf atas apa yang telah terjadi, aku hanya bisa memeluknya tanpa kata. Kami pun pulang, ia mengantarkanku hingga depan rumah tentunya tanpa sepengetahuan ibuku, ia mengucapkan salam perpisahan dengan mata syahdu, aku tidak menjawab, kutinggalkan ia dalam keadaan termenung.

Setelah hari itu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Hidupku hancur, hancur tanpa sisa, sehari-harinya aku lewatkan dengan tangisan di kamar, kuliahku berantakan, aku rindu mas David, aku ingin mas David, dengan segala curiga.. Satya datang, menemuiku menanyakan mengapa aku begini, kuceritakan semua yang terjadi, dan seperti yang aku duga, tangannya mendarat di pipiku, kakinya mengayun dilengan tanganku, aku terpojok di sudut kamar sambil menangis, aku meminta menyudahi hubungan kami, tapi ia malah bersujud meminta maaf dan tidak mau meninggalkanku.

Aku tetap pada pendirianku, aku memutuskan untuk sendiri, meskipun resikonya aku harus menahan diri dari hinaan banyak orang, aku terima. Suatu saat telepon berdering, dari mas David, aku girang bukan main, langsung aku angkat teleponnya, dengan sangat terkejut ternyata bukan mas David, tapi Ika istrinya.

Bak disambar petir, aku dimaki sedemikian rupa, dibentak sedemikian dahsyat, rasanya aku ingin mati saat itu, tapi memang semua salahku, aku hanya bisa meminta maaf, disela sela amarahnya mbak Ika bilang mas David mengigau namaku, dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai aku, aku menyesal, aku benar-benar menyesal.

Hidupku makin terpuruk, aku makin tidak tahu arah mana yang akan aku tapaki, aku mencintai mas David, hanya itu keyakinan yang aku tanamkan dalam pikiranku.

Dua bulan aku bertahan pada kondisiku seperti itu, orang rumah semakin menyalahkan aku, apalagi Satya terus terusan tidak mau melepasku. Ingin aku memberitahukan semua keadaan hatiku tapi aku tak mampu. Mas David,,, tolong dinda.

Juli 2011 aku mulai bangkit, dibangkitkan oleh seorang teman lama atau lebih tepatnya mantan pacar saat aku SMP, ia kembali dan berhasil meyakinkanku, singkatnya.. aku menikah dengannya, kutanggalkan semua masa lalu burukku yang telah kuceritakan semua ke suamiku. Sekarang, aku telah dikaruniai seorang putri cantik, kudengar mas David juga telah memiliki 1 orang putra kecil, syukurlah keadaan masa lalu itu bisa diperbaiki.

Dear Satya,
Terimaksih atas semua kenangannya, baik buruknya kamu, kamu tetap pernah menjadi orang terpenting dihidupku

Dear Fransisca,
Maaf, kupinjam dan kunikmati kesahajaan suamimu, maaf aku telah hadir di rumah tangga kalian, maaf, semoga karma tidak akan pernah menghampiriku

Dear Mas David
Dinda sayang sama mas, dinda tulus, biar semua masa lalu buruk itu dinda simpan, terimakasih mas mengajarkan dinda banyak hal tentang kehidupan, semoga mas selalu berbahagia.

Dear Suamiku, dan Kila Putri kecilku,
Kalian benar-benar harta terindahku, terimakasih pah telah hadir sebagi hero, terimakasih telah menerima semua masalalu ku, entah apa namanya, aku benar-benar takut kehilangan kamu pah.

Tak pernah ku pungkiri aku berdosa, tapi ini mungkin yang dinamakan proses pendewasaan, aku bertaubat, dan aku menyesal.

Terimakasih.