Kekasihku, Menjadi Suami Orang Lain

Kekasihku menikah dengan orang lain

Aku mencintai dia, dia mencintai aku. Tapi hubungan ini sulit dipersatukan. Sekarang dia sudah menjadi suami orang lain tapi kami tetap saling berhubungan dan mencintai. Aku tak tahu harus bagaimana, sampai kapan begini dan harus apa?

Aku mencintai kekasihku
Aku mencintai kekasihku

Terima kasih untuk team ceritacurhat.com yang sudah memberikan wadah bagi kami yang tidak bisa menceritakan masalah kami kepada orang lain tapi membutuhkan tempat untuk mengeluarkan unek-unek.

Aku, menjalin cinta yang tidak akan pernah bisa kulupakan dengan kekasihku, Bara. Kami bertemu di tempat kerja yang sama. Perkenalannya hanya sebentar tapi cinta begitu saja.

Aku sering ke kost-nya sepulang kerja. hubungan kami jadi terlampau jauh. Aku pun semakin mencintainya. Dia pun semakin sering menjaga dan memperhatikanku. Setiap hari kami selalu bersama entah hanya sekedar makan, atau mengantarku pulang. Begitu indah rasanya bersama dengannya.

Baca juga: 

Suatu hari seorang teman dari Belanda datang kembali ke Jakarta dan ingin sekali menemuiku. Aku ceritakan pada Bara tentang pertemanan kami dan permasalahan yang pernah hadir di antara aku dan dia.

Bara, meyakini dirinya bahwa aku pernah mencintainya. Maksudku untuk jujur dan terbuka berujung pada pertengkaran hebat yang tidak bisa kuterima.

Aku dengan pendapatku, bahwa berteman bisa dengan siapa saja dan tidak mungkin bagiku tiba-tiba menjauh dari teman lamaku ini. Sementara dia tidak bisa menerima pendapatku.

Dan kami juga memiliki perbedaan agama dan suku tidak mungkin kami bisa menikah, sehingga semakin menguatkanku untuk meninggalkan dia. Sungguh saat itu sedih sekali.

Tidak kusangka ia pun sedih sekali. Menangis ia di depanku. Hatiku sungguh berat, aku membatalkan janjiku dengan teman Belandaku. Aku menghubungi Bara untuk meminta maaf dan mengatakan tidak jadi menemui temanku itu.

Dalam beberapa hari, temanku kembali menghubungiku, memintaku untuk menemuinya walau hanya sebentar. Aku sungguh bingung saat itu. Karna tidak tega. Lalu, aku membicarakannya dengan Bara.

Aku memintanya untuk pergi bersamaku menemaniku bertemu dengannya sebentar saja. Tak kusangka, Bara mengiyakan.

Lalu, kami bertemu di salah satu mall dekat kantor kami. Saat itu aku sudah bisa melihat temanku dari kejauhan, dan Bara sepertinya mengetahuinya. Bara mencoba mencium pipiku entah apa maksudnya.

Namun kuelakan, karna malu apabila diketahui temanku tersebut kalau aku sudah punya kekasih. Mereka berkenalan. Lalu, Bara izin untuk Sholat. Aku dan temanku pergi mencari restoran untuk kami makan malam.

Setelah kami memesan makanan kucoba hubungi Bara. HP nya tidak aktif aku panik tapi berusaha tenang. Kucoba hubungi terus beberapa kali. Tanpa sepengetahuan temanku.

Kukatakan padanya Bara kembali ke kantor untuk bekerja. Lalu setelah 2 jam beasama aku pamit pulang. Kujumpai motornya sudah tidak ada di kantor. Aku naik taxi pulang dengan panik.

Keesokannya kudatangi tempatnya sungguh aku sedih sekali. Aku memohon maaf padanya. Menangis di depannya. Aku bersujud memohon agar dia tidak meninggalkanku karena aku sungguh mencintainya.

Bara mengangkat tubuhku dan bilang sudah tidak apa. Lalu kami bercinta sampai malam.

Tujuh hari sudah sejak peristiwa itu. Hariku sungguh dibuatnya bahagia. Ia membelikanku banyak hal, memperlakukanku dengan sangat baik. Pagi-pagi kuhubungi dia tapi tidak diangkat dia tidak masuk kerja. Ada apa? kemana? kepala ku sungguh kosong.

Berpisah Meski Mencintai

Ternyata, dia sudah pulang ke kampungnya untuk melamar seorang gadis pilihan ibunya karna ia terlampau sakit hati dengan sikapku. Aku ketahui itu setelah hp nya kembali aktif dan ia menghubungiku untuk menyudahi hubungan kami. Hancur sekali hatiku saat itu. Aku hanya bisa menangis dan memohon jangan tinggalkan aku.

Beberapa hari ia baru menghubungiku menanyakan cintaku padanya. bahwa ia tidak bisa melupakanku. Lama kami bertelepon. Di saat itu kami saling berjanji untuk saling membahagiakan dan memanfaatkan waktu sampai hari pernikahannya tiba.

Tujuh bulan kami selalu bersama, banyak pertengkaran tapi kami saling cinta. Semakin sering kulihat airmatanya. Hari itu pun tiba, orangtuanya sudah memaksakan dirinya untuk pulang mempersiapkan segalanya.

Aku benar-benar putus asa. Tidak tahu berbuat apa. Aku hanya menangis dan menangis mengantarnya pergi ku katakan berkali kali bahwa aku sangat mencintainya.

Ia berjanji akan kembali untuk ku, ia berjanji akan bertanggung jawab untuk hidupku dan membahagiakanku, kami berjanji akan cinta sampai mati kami. Aku hanya bisa menangis dan memohon kepadanya jangan pergi.

Sebulan kemudian aku pindah kerja, sungguh sangat tidak kuat mengingat semua kenangan di kantor tersebut bersamanya, dan juga berita tentangnya sudah tersebar.

Bara benar kembali, dengan cincin di jari manisnya. Ia memelukku menanyakan kangenku padanya. Sungguh perasaan yang sangat menenangkan. Tapi dicampur sedih saat itu. Aku hanya bisa menangis.

Ia tinggal mengontrak bersama istrinya di kotaku ini. Setiap hari kami bertemu membuat kami larut kembali dalam asmara kami.

Tapi cemburu tidak pernah hilang dari kepalaku membayangkan ia bercinta dengan istrinya seperti yang ia lakukan padaku, berkali-kali kami memutuskan hubungan namun selalu kembali bersama.

Ia mencintaiku aku sungguh mencintainya tapi kami sadar selain karna ia sudah menikah, perbedaan kami tidak bisa menyatukan.

Setiap kali kami bertengkar karna cemburuku atau karna rasa kasihanku terhadap istrinya yang tidak tahu apa-apa, ia hanya bisa mengatakan kepadaku untuk menikah yang aku tau dia berat sekali mengatakan itu. Karna hanya ingin aku untuknya. Aku juga tidak bisa mencintai orang lain walaupun sudah kucoba.

Sampai sekarang kami masih berhubungan, tidak tahu harus bagaimana, sampai kapan seperti ini. Harus apa?

Hidup Baru Bersama Hemodialisa

Hidup Baru Bersama Hemodialisa

Alhamdulilah…. Setelah dirawat selama 10 hari di Rumah Sakit PGI Cikini berkat dikabulkannya do’a dari teman-teman dan melakukan beberapa kali proses hemodialisa-HD (cuci darah), kini aku segar bugar dan bisa lagi aktif menjalankan tugas rutin di kantor.

Hidup Baru Bersama Hemodialisa
Hidup Baru Bersama Hemodialisa

Subhanalloh… Aku senang sekali makanya kutulis postingan ini, untuk menyampaikan berita baik pada rekan-rekan semua, bahwa jika Allah SWT sudah berkehendak walaupun ada gangguan penyakit yang dianggap berat, insyaallah bisa menjadi lebih baik jika kita berusaha dan berdoa.

Awalnya pada tahun 2011 ketika dokter mengatakan bahwa saat itu creatinineku yang ada dalam darah sudah mencapai 2.7. Yang berarti bahwa sudah ada sedikit gangguan pada fungsi ginjalku.

Jadi aku disarankan untuk berhati-hati dan menjaga agar hanya memakan makanan yang sehat, dan menghindari komsumsi suplemen makanan atau vitamin. Karena makan tersebut hanya membebani kerja ginjal.

Lima tahun berlalu, apa yang disampaikan dokter kurang kuperhatikan sehingga pada bulan Februari 2016, aku merasakan tubuh lemas tak bertenaga, nggak nafsu makan, mual, sering batuk, pusing, cegukan, jalan kaki hanya 100 meter saja nafasku tersengal-sengal, dada terasa sesak, badan dingin sekali padahal di ruangan yang tidak ber- AC.

Sehingga akhirnya pada hari Rabu tanggal 10 Feberuari 2016 pagi, aku merasa capek dan letih sehabis memarkirkan motorku di halaman kantor. Badan lemas sekali kemudian aku berjalan ke poliklinik BI Kebun Sirih dan minta tolong ke tenaga medis yang ada saat itu.

Setelah ditangani dokter dan memeriksa kondisi serta darahku, dokter berkesimpulan bahwa aku harus dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat, karena creatinine pada darahku mencapai angka 14, yang berarti sudah dalam kondisi berbahaya.

Aku pasrah pada keputusan dokter, kalau itu memang jalan terbaik untuk kesehatanku aku menurut saja, lalu aku diusung ambulan YKKBI ke RS PGI Cikini-Jakarta.

Setiba di rumah sakit, setelah dicek kembali kondisiku kemudian aku dioperasi untuk memasang doble lumen, alat bantu yang terhubung dengan aliran darah dibahu sebelah kanan.

Alat ini dipasang untuk sementara saja kurang lebih dipakai hanya tiga bulan, setelah tiga bulan tugasnya akan diganti dengan Cimino. Yaitu alat penyatuan pembuluh darah arteri dengan pembuluh darah vena, di pergelangan tangan kiriku.

Alat ini merupakan akses permanen untuk HD, tangan kiriku pun nggak boleh banyak dipergunakan untuk membawa beban, jadi aku harus menjaganya dengan hati-hati, baik di rumah maupun dimana saja berada. Oh my God… Penyakit ini sebelumnya tak pernah terlintas di benakku.

Malam harinya aku menjalankan hemodialisa-HD yang pertama kali, yaitu darah dalam tubuhku ditransfer ke mesin dialysis. Mesin ini yang akan menyaring limbah ataupun racun yang selama ini telah membuatku mengalami hal yang mengganggu kesehatan.

Darah disaring oleh mesin tersebut dan dikembalikan lagi kedalam tubuh, waktu pelaksanaannya kira-kira empat jam. Prinsipnya darah yang kotor dikeluarkan dan dimasukkan lagi ke tubuh jika sudah bersih, yang dikerjakan secara bertahap, tetes demi tetes hingga tidak bersisa kotorannya.

Jika dalam keadaan normal sebetulnya prsoses ini dilakukan oleh ginjal, namun karena fungsi ginjalku menurun tak sesuai lagi dengan rancangan yang Tuhan ciptakan, maka mesin HD yang menggantikan pekerjaan ini.

Selain itu aku harus menjalani diet ketat, minum secukupnya nggak boleh berlebihan maksimal hanya 600 ml sehari atau sebotol air mineral yang kecil. Makanan yang harus dihindari adalah kacang-kacangan termasuk tahu tempe, susu, keju, sayur-sayuran, pete, jengkol, ketan, buah-buahan.

Seminggu dua kali setiap hari Selasa dan Jum’at dalam beberapa jam aku harus terkurung dalam ruangan yang serba putih, diiringi irama detak-detak jarum jam dinding yang terpasang di dinding.

Didampingi istriku serta ditemani oleh perawat yang selalu siap membantu setiap waktu, kehidupanku tergantung pada mensin HD. Hemapo (erythropoetin) adalah obat injeksi agar hemoglobin darahku normal menjadi sahabat karibku sekarang.

Jadwal HD harus kupatuhi benar-benar, sebab mesin itulah yang dapat menjaga kondisi tubuhku tetap fit dan stabil. Makanan pun harus kuperhatikan kualitasnya, sebab dari asupan makan dengan protein tinggi kadar albumin didalam darah terkendali.

Kalau minum sudah pasti dibatasi sesuai anjuran dokter guna mencegah overload atau penumpukan cairan di tubuh, terutama di paru-paru yang bisa menimbulkan sesak nafas.

Yang sangat membahagiakan bahwa selama HD ini berlangsung, biaya yang dikeluarkan sangat tinggi namun BI telah memberi jaminan akan menanggung seluruh biaya yang timbul.

Aku hanya akan melalui hari-hari baru dengan derita sakit yang orang lain tak perlu mengetahuinya, walau kadang tulang-tulangku terasa ngilu mengganggu terutama saat menjelang tidur.

Jika sudah menjelang subuh aku harus memaksakan diri untuk segera bangun bersyukur pada Allah SWT, serta harus mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.

Rasa tidak nyaman dalam tubuhku dapat kuatasi dengan selalu berusaha untuk tidak mengeluh, aku belajar memahami kondisi tubuhku dan perubahan-perubahan yang terjadi sehingga tidak selalu memerlukan pengobatan dari dokter kecuali terpaksa.

Satu atau dua minggu pertama merupakan tahap proses penyesuaian dalam diriku, begitu juga terhadap interaksi dengan lingkungan di kantor. Kadang aku merasa rendah diri karena menderita sakit ini, walaupun hal tersebut dapat kututupi seakan-akan selalu terlihat tegar di hadapan orang lain.

Sebab orang lain melihat dari luar secara fisik kelihatannya aku baik-baik saja, mungkin teman-teman yang belum tahu penyakitku, mereka tidak percaya kalau aku adalah seorang pasien yang hidup dengan menjalani cuci darah.

Aku tidak ingin ada orang yang merasa iba, aku ingin mereka memandangku biasa saja, sehingga memberikan keleluasan bagiku untuk berinteraksi.

Dalam kondisi seperti ini aku nggak akan menyerah, harus harus tetap masuk untuk bekerja, aku harus tetap berkarya. Aku sadar bahwa gagal ginjal bukan akhir dari segalanya, proses HD ini bukan untuk menyembuhkan dan mengobati ginjalku yang berkurang fungsinya, tapi hanya untuk memperpanjang hidup.

Cuci darah ini dilakukan untuk memberi harapan padaku agar mempunyai semangat dan melakukan aktivitas. Saat ini proses HD kujalani dua kali dalam seminggu, walau dalam kondisi yang seperti ini aku tetap optimis dapat melaksanakan tugas rutin di kantor dengan baik, aku harus terus semangat, tegar dan tawakal agar semua yang menjadi beban dan tanggungjawabku dalam hidup ini tercapai.