Kepahitan yang Selalu Kurasakan

Menikah, mengurus suami, memiliki anak lalu merasa bahagia mungkin terlalu muluk bagiku. Alih-alih merasa bahagia, aku malah merasa menderita dengan perlakuan suami yang tidak peduli dengan kami, anak istrinya.

Kepahitan hidupkuNama saya Nadya, Saya hanya ingin sedikit curhat tentang kehidupan rumah tangga saya. Saya sudah mempunyai suami, dan sudah mempunyai anak satu.

Tetapi selama saya berumah tangga dengannya, saya tidak pernah merasakan hal yang benar-benar membuat saya bahagia seperti orang-orang lain yang sering berliburan keluar rumah bersama keluarganya.

Suami saya selalu beralasan sibuk dengan kerjaannya, padahal kerjaannya hanya seorang montir mobil dan bengkelnya di rumah orang tuanya sendiri.

Suami saya lebih senang ngumpul dengan teman-temannya, tertawa-tawa dan mabok-mabokan menghabiskan duit. Suami saya juga sering pergi ke cafe lalu dia bermabok-mabokan dengan cewek-cewek cafe. Kalau ada duit gak pulang-pulang, giliran kosong baru ingat anak istri.

Hati saya pun sakit seperti di injak-injak di depan semua orang. Suami saya gak cuman itu aja, ada lagi yang menyakiti hati saya, yaitu suatu malam saat dia gak pulang, dia mabok bersama dua cewek yang saya tahu suka jual diri dengan supir-supir di terminal.

Malam itu, suami saya pergi bersama teman-temannya dan dua perempuan murahan itu. Saya tidak bisa mengajaknya pulang karena malam itu hujan deras. Akhirnya pagi-pagi saya bangun dengan anak saya, saya sama anak mencari suami saya dan saya bertemu di dekat stasiun pangkalan angkot.

Saya liat suami saya sedang tidur dan saya bangunkan, disaat suami saya bangun bau mulutnya tidak seperti biasa, bau mulutnya seperti orang habis nete, dalem hati saya ‘Ya Allah kenapa begini’. Karena saya tidak mau berantem dengannya, saya hanya diam dan mengajaknya makan.

Masih banyak lagi hal lain yang menyakitkan dari suami, anehnya saya selalu saja memaafkannya. Saya cape memasalahinya karna setiap bertengkar dia selalu pukulin saya. Kepala saya sampe bocor dan dia sama sekali tidak menyesal.

Saya masih bertahan karna saya sudah terbiasa mengalaminya, bahkan sejak saya hamil pun dia sudah sering mukul, tetapi namanya seorang istri tetap selalu memaafkan semua kesalahan suaminya meskipun itu menyimpan luka yang tidak bisa di hilangkan.

Rumah Tanggaku Bagaikan Neraka

Rumah tanggaku di neraka

Aku nekat berselingkuh dengan M, seorang teman kantor. Suami yang mengetahui perselingkuhanku membeberkan aibku kepada keluargaku, Ayahku meninggal setelahnya. Kini, setelah aku semakin berharap dari M, aku dapati kenyataan kalau dia seorang gay.

Rumah tanggaku di nerakaIni adalah kisah nyata dalam hidup saya, sebut saja saya T. Saya seorang wanita yang menikah di usia yang terbilang muda yakni 20 tahun. Saya menikah dengan seorang duda anak 2 yang usianya 15 tahun di atas saya.

Kami berkenalan di pulau Bali dan memutuskan menikah dan hidup di Jawa. Tepat di hari pernikahanku, air mata itu tak henti menetes, penyesalan dan keraguan dalam diri sendiri terus menghantui. Entah apa yang sedang saya pikirkan, yang ada saya terus saja ingin menangis dan berteriak.

Hari berganti waktu terus berputar, saya jalani hidupku sewajarnya sebagai istri dalam rumah tanggaku. Tak ada kehangatan di dalam rumah tanggaku, saya seperti hidup dalam kesunyian padahal ada suamiku di rumah.

Suamiku sangat keras dan dingin, dia tak mau tau urusan dapur apalagi wanita. Di usiaku yang masih muda, dan masih ingin disayang atau dimanja. Sama sekali tak pernah ku dapatkan dari suamiku, dia beranggapan itu semua tak terlalu penting untuknya.

Cek cok terus terjadi di usia pernikahanku yang masih terhitung muda saat itu, sampai pada akhirnya suami saya memutuskan pergi dari rumah dan meninggalkan cincin kawin kami di lemari kamar.

Hancur seketika hatiku, sebagai istri yang tak pernah dihargai saya terus bertahan untuk anak dan rumah tanggaku. Terlebih lagi masa mudaku yang telah ku korban untuk menikah dengannya serasa hancur lebur tiada arti.

Sebulan lamanya saya ditinggal suami, akhirnya dia memberi kabar melalui mertua saya bahwa dia sedang di Bali bersama kedua anaknya. Akhirnya saya putuskan untuk menyusulnya ke Bali berdua dengan anak saya yang saat itu masih berusia 1 tahun.

Singkat cerita kami hidup kembali berdua di Bali, dan yang saya harapkan hanya perubahan terbaik untuk keutuhan rumah tanggaku dan anak.

Keuangan kami hancur, dan saya putuskan untuk bekerja dengan ijin suami. Seiring berjalannya waktu, saya lakukan sewajarnya sebagai pekerja sekaligus ibu.

Berangkat pagi pulang sore, ketemu anak ngurus rumah dan suami. Tapi tetap kebekuan dalam rumah tanggaku tak bisa dirubah, suamiku semakin asik dengan dunia gelapnya minum-minum, judi dan entah apa yang ada di kepalanya seketika kami cekcok hebat dan dia memukul saya sampai membekas.

Seumur kami menikah, dia memang suka main tangan tetapi baru kali itu dia memukulku sampai membekas di daerah mata, luka hatiku yang ditinggal pergi waktu itu saja masih membekas, ditambah lagi pukulan yang dia lakukan secara sadar hanya karena masalah sepele yang dia buat sendiri.

Dendam hanya dendam dan sakit hati yang saya rasakan setiap kali melihat suamiku, sampai akhirnya batas kesabaranku habis juga. Di usia pernikahanku yang menginjak tahun ke 4, saya yang lemah dan terinjak, akhirnya kalap dan berontak dengan keadaan yang saya alami.

Lalu saya putuskan membuka hati dengan teman kantorku. Usia kami tak jauh berbeda, dan dia tergolong pria tampan dan pendiam di kantorku, sebut saja namanya M.

Entah apa yang ada di kepalaku saat itu, saya berani melakukannya. Dia sangat berbeda jauh dengan suamiku, kebekuan dalam rumah tanggaku serasa terobati seketika karenanya.

Hidupku mendadak berubah, serasa menemukan diriku yang sebenarnya. Tak sedetik pun terlewatkan momen kebahagian kami, sampai pada akhirnya M mengetahui bahwa saya wanita bersuami dan M mengakui juga bahwa dia telah memiliki pacar yang hubungannya sudah tak sehat lagi.

Kita memiliki problem yang sama dengan kasus yang berbeda, dan itu pun pula yang membuat kami semakin nekat. Saya yang sedang dimabuk cinta mulai melupakan keluarga, saya sering pulang tengah malam dan sibuk dengan hp membuat suamiku mulai curiga.

Sampai pada akhirnya saya memutuskan keluar dari rumah dan hidup bersama M. Penyesalan suamiku tiada artinya bagiku, dan dia mengiklaskanku pergi dari rumah.

Sampai pada akhirnya musibah terbesar pun terjadi, karena kesal suamiku membongkar aib rumah tangga kami ke keluarga saya. Tak lama berselang, ayah saya meninggal karena serangan jantung.

Betapa hancurnya hidupku seketika melihat kenyataan bahwa ayahku meninggal di tangan suamiku, dendam campur sedih dan tak terima menyerubung erat di otakku kepada suamiku.

Semua keluarga besar menyalahkanku atas kematian ayahku, hujatan demi hujatan harus siap saya terima dan saya biarkan siapa pun menghujatku karena mereka tak pernah tau sebenar-benarnya apa yang telah terjadi di dalam rumah tanggaku hingga saya berani gila berselingkuh.

Saya sebagai anak tertua, harus bertanggung jawab menopang ibuku karena adikku belum bekerja dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Saya semakin frustasi dan semakin menjadi jadi, hubungan terlarangku masih terus saya lanjutkan.

Hidupku semakin bergantung dengan M, dan M masih saja belum bisa meninggalkan pacarnya dengan alasan hidup M di topang sama pacarnya.

Sampai pada akhirnya hal tak terduga terjadi, disaat kami sedang tidur tiba-tiba kami kepergok langsung dengan pacarnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pacarnya adalah seorang pria. Siapa yang tak hancur hatinya, orang yang ku cinta mati-matian ternyata seorang gay.

Oh Tuhan, seperti tak ada habisnya penderitaan yang saya alami ini. Tak tahu harus apa dan mesti kemana saya mengadu. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

Dendam telah membutakanku

Dendam membutakanku

Keputusanku untuk bekerja membuka jalan bagiku untuk membalas dendam ke suami. Usiaku yang masih muda dan wajah yang cantik memberi jalan bagiku untuk banyak mengenal pria-pria lain dan membuat suamiku cemburu. Dendam telah membutakan mata hatiku.

Dendam membutakankuAku seorang wanita, yang memutuskan menikah di usia muda dengan seorang pria yang usianya terpaut jauh denganku. Suamiku duda anak 2 dan kami di karuniai 1 orang anak.

Rumah tangga kami bagaikan neraka, tidak ada kehangatan dan komunikasi yang baik di antara kami. Cobaan demi cobaan yang aku hadapi membuatku murka.

Kadang aku berfikir apa karena usiaku yang belum matang membuatku merasa semua ini menjadi beban, ataukah ini semua karena kesalahan suamiku?

Sebagaimana kerasnya suamiku selalu ku terima setiap harinya, tanpa pernah sedikit pun aku membalas. Sampai akhirnya saya putuskan untuk bekerja.

Aku bekerja semata untuk melarikan diri dari kejenuhan di dalam rumah, saat itu aku mulai banyak mengenal teman dan dunia baru. Karena usiaku yang masi muda, membuat banyak pria tak menyangka bahwa aku sudah berkeluarga.

Dan kemudian aku memakai kesempatan itu untuk menghibur diri walau hanya sekedar lewat semata. Aku bekerja di salah satu distributor besar di kota B, disitu aku mengenal seseorang dari team lain.

Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku meng-iya-kan ajakan dia untuk jalan bersamanya. Aku mulai berubah di dalam rumah, cuek dan asik dengan hidupku sendiri.

Suamiku mulai curiga dengan perubahan sikapku, pertengkaranpun semakin menjadi jadi. Karena disisi lain, aku memang sengaja supaya suamiku tau kalo aku berselingkuh karena dengan melihat suamiku depresi, akupun merasa puas dan menang. Dendam telah membutakan mata hatiku.