Suami Tidak Mengakui Anak Keduanya

Suami tidak mengakui anak kandungnya

Kadang aku merasa hidup tak adil padaku, pada anakku, dan pada adik-adikku. Sungguh aku benci pada laki-laki yang hanya mau enaknya saja dan tidak mau bertanggung jawab seperti suami aku.

Suami tidak mengakui anak kandungnya
Suami tidak mengakui anak kandungnya

Namaku Tami berusia 24 tahun, rumah tanggaku sudah hancur bahkan sebelum aku menikah. Aku menikah karena anakku sudah lahir duluan, untunglah suamiku mau bertanggung jawab.

Setelah menikah, satu persatu kebohongan suami terungkap, hingga adiknya yang wanita juga harus merasakan apa yang aku rasakan. Akan tetapi dia tidak ada yang menikahi, hingga akhirnya anaknya lahir, aku dan suami mengambilnya sebagai anak.

Tetapi penerimaan aku terhadap anak adiknya tidak lantas membuat hidup kami bahagia, ada saja aku menemukan bukti perselingkuhan suamiku, dan ibunya tetap saja membela anaknya itu.

Hingga aku putuskan untuk kembali kepada Ayahku bersama anak kandungku. Berbulan-bulan kami tidak memberi kabar dan dia pun tidak pernah mencari kami..

Hingga Ayah wafat, aku pun mengabarinya. Dia pun datang dan kami rujuk, tapi ini awal dari kehancuranku berikutnya.

Aku masih punya adik 3 orang, mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain aku, tapi suamiku tidak mau menerima mereka. Jadi aku putuskan lebih memilih adik-adikku,, dan dia pun tak pernah datang lagi ke rumahku.

Namun saat itu aku sedang hamil dan iya pun tau. Tidak sedikit pun aku menerima uang darinya. Sampai akhirnya aku harus mengemis bersama anakku yang berusia 2 tahun dan adik-adikku dalam kondisi hamil.

Namun apa yang terjadi setelah anakku lahir dan dia melihatnya. Dia katakan itu anak hasil aku berselingkuh. Tanpa bukti mereka sekeluarga menganggap aku selingkuh padahal kenyataan yang aku terima justru sebaliknya, suamiku memiliki anak dengan wanita lain.

Apa salahku terhadap mereka. Aku putuskan anakku yang pertama kuserahkan kepadanya agar dia bertanggung jawab pada anakku. Sementara anakku yang kedua yang masih merah aku serahkan kepada orang yang selalu membantuku. Lalu aku hidup bersama adik-adikku.

Jatuh Ke Lubang yang Sama

Tidak lama setelah aku memberikan anakku,, aku berkenalan dengan laki-laki yang usianya 46 tahun, sangat jauh dari usiaku saat itu. Tapi aku nyaman dan dia tahu semua tentang aku dan mau menerimaku dan adik-adikku.

Satu tahun berlalu hubungan kami semakin jauh, hingga kami berhubungan intim. Tapi aku terhentak seakan tidak percaya, dia yang selama ini mengaku duda ternyata masih memiliki istri.

Tapi dia tidak mau lepas dariku sampai saat ini, tapi belakangan ini aku menemukan bukti bahwa dia punya wanita lain lagi. Kurang ajarnya sewaktu aku tanyakan, dia malah memberiku olesan yang dia ambil dari duburnya.

Sungguh aku benci sekali pada laki-laki, yang hanya mau kenikmatan sesaat tanpa pernah memikirkan perasaan wanita yang tulus menyayanginya.

Kepada pembaca ceritacurhat.com, aku mohon bantuannya apa yang harus aku lakukan dan bagaimana sebaiknya aku bersikap. Hidup ini rasanya sungguh tak adil.

Aku Rela Jadi Istri Kedua Ataupun Kesepuluh Asalkan Bersamanya

Rela jadi istri kedua

Aku tak pernah punya niat menjadi istri kedua, apalagi sampai merusak rumah tangga orang lain. Tetapi menjadi istri pertama dari pria tak bertanggung jawab jauh lebih menyakitkan. Suami keduaku, aku rela jadi istrinya yang kedua atau bahkan yang kesepuluh asalkan bersamanya.

Rela jadi istri kedua
Rela jadi istri kedua

Aku adalah seorang ibu dengan seorang putri dari suami pertama. Aku menikah ketika berumur 20 tahun karena terpaksa mengikuti kehendak orang tua yang sudah malu dan geram dengan kelakuan dan kenakalanku.

Bagaimana tidak, kelas 1 SMA aku sudah tidur dengan pacarku yang akhirnya jadi suami pertamaku dan itu kulakukan di kamarku sendiri, sampai akhirnya kami ketahuan oleh orang tuaku.

Akhirnya sesudah lulus SMA aku resmi menikah. Sebulan dua bulan kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja, namanya juga pengantin baru. Tapi beberapa bulan kemudian, banyak sekali perbedaan antara aku dan suamiku.

Suamiku orang yang sangat pemalas dan tidak mau bekerja. Selain itu, perhatian dan kasih sayangnya pun tak pernah ia tunjukkan. Hingga aku hamil dan melahirkan pun tetap saja seperti itu.

Dari sejak hamil aku terbiasa bekerja sendiri karna suamiku tak pernah mau menolong, dan kalau sudah bicara tentang uang, pertengkaran pun selalu terjadi.

Baca juga: 

Sepuluh tahun aku lalui hidup yang seperti itu, apapun pedihnya selalu kutahan karena tak ingin rumah tanggaku hancur. Aku selalu mencoba bersabar dan bersabar walaupun kadang muak dengan kelakuan suamiku yang tak pernah berubah.

Tapi ternyata keteguhanku luluh juga ketika aku berkenalan dengan seorang laki-laki beristri dengan tiga anak. Awalnya kami berteman kemudian bersahabat. Aku sering curhat dengannya dan sesekali meminjam uang untuk membayar hutangku.

Orangnya asyik dan nyambung diajak ngobrol. Dari sering curhat dan cocok satu sama lain, akhirnya terjadilah hubungan yang seharusnya tak boleh terjadi. Aku berstatus istri orang dan dia berstatus suami orang. Tapi kami seperti tak peduli karena sudah yakin dengan hati masing-masing dan saling mencintai.

Pernah sekali dia bertanya padaku apakah mau jadi yang kedua. Dengan mantapnya aku menjawab ” ya”. Dia dan suamiku sangat jauh berbeda, semua yang kuimpikan dari suamiku ada padanya.

Perhatian dan kasih sayang yang tulus darinya membuatku menjadi seorang wanita yang sangat bahagia. Dua tahun berlalu akhirnya suamiku tau juga, dia akhirnya pergi dari rumah.

Kesempatan ini tak kusia-siakan sedikit pun, karena dari dulu aku ingin pergi darinya tapi tak pernah ada kesempatan. Saat suamiku ingin kembali lagi aku menolaknya, walaupun dia telah menyesali semua kesalahannya aku tetap menolaknya.

Rasa cinta dan sayangku untuknya telah lama hilang, memudar seiring waktu. Bagiku kesempatan itu hanya sekali, kalau aku masih menerimanya maka selamanya aku takkan bisa lepas darinya. Untuk apa mempertahankan kalau akhirnya hanya akan saling menyakiti lagi.

Setelah setahun akhirnya perceraianku selesai, dan selama itu aku selalu didampingi olehnya. Dengan pertimbangan yang sangat matang dan keyakinan yang kuat, habis masa iddah ku akhirnya aku nikah siri dengannya karena sampai sekarang istrinya tak tau.

Kami sangat bahagia karena berbeda dengan pernikahan sebelumnya, sebelum menikah kami saling meyakinkan diri dan sangat banyak pertimbangan sampai akhirnya memutuskan menikah. Karena disini kami merasa saling mencintai dan dicintai.

Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati. Aku rela jadi istri yang kedua ataupun kesepuluh asalkan bersamanya. Walaupun banyak halangan dan cobaan selalu kami hadapi berdua dengan senyuman ataupun tangisan.

Maafkan aku maduku, kalau suatu saat kau tau entah apa yang akan terjadi. Tapi suamimu pun tak ingin meninggalkanku dan takut kehilanganku. Jadi aku bisa apa? karena aku pun begitu. Maafkan aku.

Merasa Rendah Diri Karena Jarang Disentuh Suami

Istri jadi rendah diri jarang disentuh

Entahlah apakah masalah yang kurasakan ini juga dialami oleh Ibu-Ibu lain, atau mungkin hanya saya saja yang mengalaminya. Setelah mengandung dan melahirkan anak pertama kami, suami jarang menyentuhku.

Istri jadi rendah diri jarang disentuhSaya sudah menikah selama 3 tahun dengan suami saya. Selama itu pula hubungan kami baik-baik saja. Setahun awal pernikahan kami mengusahakan memiliki anak, sehingga hampir setiap hari kami berhubungan suami istri.

Usaha kami berhasil, saya hamil. Dan semenjak usia kehamilan mencapai 9 bulan kami tidak pernah berhubungan suami istri lagi. Alasannya takut anak kenapa-kenapa di dalam perut.

Dan akhirnya hari itu pun tiba. Saya melahirkan. Sungguh bahagia rasanya kami saat itu. Anak yang kami idam-idamkan selama ini akhirnya lahir dan menjadi bagian dari keseharian kami.

Waktu itu saya berpikir setelah melalui masa nifas nanti kami akan kembali aktif berhubungan seperti dulu. Kenyataannya tidak, saya tetap tak disentuh suami sampai berbulan-bulan setelah masa nifas lewat, saya bingung.

Sampai anak kami berumur 6 bulan, suami masih malas-malasan untuk melakukannya, bahkan jika kami melakukan, itupun karena saya yang minta pertama untuk berhubungan.

Saya merasa galau segalau-galaunya, mengapa sikap suami jadi berubah, tidak lagi hangat seperti dulu. Sampai saat ini anak kami sudah berumur 1 tahun, hanya 2 kali kami berhubungan suami istri. Itupun sepenuhnya karena saya yang minta.

Sebetulnya saya sudah berusaha mengajak suami untuk komunikasi, berbicara dari hati ke hati. Tapi ketika saya bertanya pada suami tentang penyebabnya, dia hanya menjawab sedang tidak mood atau sedang lelah bekerja.

Waktu itu saya berpikir mungkin suami sedang stres dengan pekerjaannya di kantor sehingga kehilangan mood sama aku. Tapi jika memang begitu kenapa dia tidak pernah membicarakannya?

Jujur saya merasa sedih dan dan rendah diri. Apa saya sudah tidak cantik lagi? Apa saya sudah tidak menarik perhatiannya lagi? Apa suami sudah tidak cinta saya lagi? Apa suami selingkuh? Apa tubuh saya setelah melahirkan sudah gendut jadi dia tidak suka?

Sekarang saya bingung, apa yang saya harus lakukan?