Masa Lalu Suami Menghantui Hidupku

Aku adalah seorang ibu rumah tangga berusia 20 tahun, suamiku 24 tahun, aku mempunyai 1 anak perempuan yang kini sudah berumur 5 bulan.

Suamiku adalah pria yang sangat baik, pekerja keras, rajin ibadah, penyayang, lembut, dan memiliki wajah tampan, mungkin sebagian wanita akan berkata bahwa suamiku adalah pria idaman.

Hampir setiap wanita yang bertemu dengannya tertarik, bahkan meski pun wanita-wanita itu tau suamiku sudah beristri dan mempunyai anak, tapi mereka tetap saja mengaguminya dan sering melempar senyum kepada suamiku, tapi suamiku tak pernah membalas dan cuek dengan hal semacam itu.

Pernikahanku sudah 3 tahun lebih, kehidupan kami baik-baik saja, kami bahagia dengan keluarga kecil kami, namun hati dan pikiranku tak pernah bisa lepas dari masa lalu suamiku,selama 3 tahun itu aku terus hidup dengan bayang-bayang masa lalu suamiku.

Dulu sebelum kami saling kenal, suamiku memiliki banyak mantan, sebagian dari mantannya sudah pernah dia tiduri bahkan sampai perempuan itu hamil dan menggugurkannya.

Sebelum menikah suamiku sudah jujur dan mengakui semua perbuatan maksiatnya bersama perempuan-perempuan itu, dia menceritakan kemana saja mereka pergi berdua dan apa saja yang mereka lakukan selama mereka pacaran bertahun-tahun.

Mendengar semua pengakuan suamiku aku seketika muak, jijik melihat wajahnya yang begitu polos, alim, dan sopan, hatiku memilihnya menjadi pendamping hidupku selamanya sebab dia begitu sempurna di mataku.

Dia sopan, baik, ibadah tak pernah terlupakan, dan punya pekerjaan yang bagus, yang aku suka darinya adalah saat pertama kali melihatku dia langsung datang kerumah orang tuaku dan mengajakku tunangan dan berjanji akan menikahiku.

Aku seorang wanita lulusan pesantren, semenjak lulus SD orangtuaku menyekolahkanku di Madrasah Tsanawiyah, dan lanjut ke Madrasah Aliyah. Selama itu aku tak pernah merasakan yang namanya pacaran hingga aku bertemu suamiku.

Aku hanya pernah menyukai seorang lelaki namun tak pacaran karna prinsipku adalah”wanita yang baik untuk pria yang baik begitupun sebaliknya”aku hanya mengaguminya dalam diam dan tak pernah mengungkapkan apalagi menceritakan pada siapapun,

Aku merasa ini semua tidak adil bagiku, aku begitu menjaga diri dan kehormatanku dengan berharap kelak jodohku adalah pria soleh yang tak pernah pacaran apalagi menyentuh wanita lain.

Namun inikah balasan untukku? Aku sudah sebisa mungkin berusaha menjadi wanita solehah namun apa yang kudapat?? lelaki yang keperjakaannya sudah direnggut oleh wanita lain.

Sikapnya yang sopan dan alim,dan wajah yang polos telah membuatku tertipu, hatiku begitu hancur mengetahui masa lalunya yang begitu buruk seburuk-buruknya.

Sudah 4 perempuan yang telah dia tiduri, selama pacaran bertahun-tahun itu mereka juga melakukan hubungan maksiat itu selama bertahun-tahun juga. Tiada hari tanpa seks, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun yang mereka lakukan hanyalah seks, seks, dan seks.

Hatiku sangat hancur sehancur-hancurnya mengetahui calon suamiku adalah seorang pecandu seks, sudah banyak hotel, wisma, bahkan kost dan rumah perempuan-perempuan semua sudah mereka tempati berbuat perbuatan dosa, haram, dan keji itu.

Hatiku sakit, harapan hancur, hatiku seketika berubah menjadi benci dan dendam, ingin rasanya aku membatalkan rencana pernikahanku dan memutuskan pertunanganku dengan suamiku.

Namun aku sudah terlalu jauh mencintainya, melepaskannya aku tak bisa membayangkan hidupku tanpanya, hatiku sudah terpaut olehnya, aku sudah jatuh cinta terlalu dalam terhadap suamiku.

Sampai sekarang aku masih suka mengungkit masa lalunya, atau kadang bertanya,”mengapa kamu melakukan itu dulu, apa kamu tidak tau perbuatan itu dosa?

Apakah kamu tak tau bahwa kamu bisa masuk neraka karna berhubungan dengan perempuan yang bukan muhrimmu? jika dulu aku juga pernah pacaran dan sudah tak perawan lagi apakah kamu juga mau menerimaku seperti aku menerimamu?”

Dia bilang ”sayang, aku tau itu dosa, aku tau semua resikonya namun aku harus bagaimana jika takdir sudah seperti ini jalannya. Akupun tak pernah menginginkan itu terjadi, aku pun berusahan menghindari perbuatan itu namun semua terjadi begitu saja, dan semua lelaki di dunia ini pun pasti mendambakan seorang istri yang solehah dan belum pernah disentuh apalagi menjadi bekas pria lain, tentu suami pun tak ingin wanita yang keperawanannya sudah dinikmati banyak lelaki”

Aku menjawab ”tapi dirimu dan perjakamu sudah direnggut lebih dulu oleh wanita lain dan bukan istrimu, kamupun tau mereka belum tentu jodohmu, namun mengapa kamu mencari wanita solehah? apa kamu merasa itu adil?kamu tidak kasihan terhadap istrimu kelak jika dia harus memiliki suami yang memiliki masa lalu buruk dan suram sepertimu?”

Dia kembali berkata ”sayang aku minta maaf atas masa laluku, aku tau kamu merasa tidak adil, jika memang kamu membenciku karna masa laluku, mengapa dulu kamu menerimaku? mengapa kau tak menolak dan melepaskanku saat kau tau masa laluku.

Padahal banyak yang menyukaimu, keluarga dari pihak ayah dan ibumu banyak yang melamarmu, mereka punya kerja bagus, baik, tampan, bahkan mungkin lebih soleh dariku dan mungkin tak memiliki masa lalu kelam sepertiku, lalu mengapa kamu tak memilih mereka dan tetap memilihku meski kau sudah tau tentangku? kamu cantik dan solehah masih banyak yang menunggumu diluar sana yang lebih baik dariku?”

Aku betul-betul benci dengan masa lalu suamiku tapi aku hanya berkata ”mungkin karna inilah jodoh, mau bagaimana buruknya pasangan kita, jika itulah jodoh yang Allah pilih untuk kita, kita akan tetap bersatu dengannya selamanya”.

Suamiku kembali berkata”sayang mereka itu hanya masalaluku, aku sudah tak menyukai mereka, yang perlu kau tau aku hanya mencintai dan menyayangi kamu, aku hanya fokus sama masa depan keluarga kecil kita, aku sudah sangat bahagia dengan kehadiran kalian berdua (istri dan anakku)”.

Sampai sekarang jika aku melihat perempuan-perempuan itu yang sudah tidur dengan suamiku dulu, aku sangat benci dan dendam meski hanya melihat mereka semua lewat foto di akun sosmed mereka.

Sampai sekarang aku tidak bisa menerima masa lalu suamiku dan itu sangat menyiksaku, tiap detik, menit, jam bahkan hari, bulan dan tahun masalalunya itu selalu terbayang di pikiranku.

Aku ingin terbebas dari bayang-bayang masalalu suamiku dan tak pernah mengingatnya lagi, namun aku tak bisa sebab itu sudah menjadi benci dan dendam yang tertanam dalam diriku, entah mau sampai kapan adanya.

Meski sekarang aku sangat bahagia dengan keluarga kecilku namun masalalu buruk itu tidak akan pernah bisa aku maafkan.

Kini aku hidup di daerah dimana perempuan2 itu tinggal sebab suamiku ditugaskan di daerah ini. Itu semakin membuatku tak bisa melupakan semua ini.

Mohon solusi dan pendapat para pembaca yang baik.Terima kasih.

Assalamualaikum wr.wb..

Suami Selingkuh dengan Adik Ipar, Hidupku Sengsara

Suami direbut adik ipar

Maksud hati membantu adik ipar, apa daya orang yang dibantu tega selingkuh dengan suamiku. Mungkin ini takdir dari Allah, Aku hanya bisa pasrah dengan keputusan-Nya.

Suami direbut adik ipar
Suami direbut adik ipar

Pernikahanku sudah menginjak 12 tahun dan belum dikaruniai momongan. Dengan kondisi kita yang sama-sama berkerja, setiap aku bertanya pada suamiku Wahyu, “Apakah ikhlas dengan keadaan kita?” Dan dia selalu menjawab, “Kalau ini memang sudah digariskan ya harus diterima”.

Mendengar jawaban itu aku sangat bahagia dan bersyukur bahwa  suamiku menerima kondisi ini. Tapi tidak kusangka ternyata tidak demikian kenyataannya. Dia berselingkuh dengan adik iparku sendiri, Tri.

Awal kisahnya dimulai saat adik kandungku meninggalkan Tri dan anaknya main gila dengan perempuan lain, dan sebagai kakak dan sesama wanita aku merasa kasihan dengan Tri.

Aku bilang ke Tri klo dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, dan aku akan menyayanginya dan membantu mengurus anaknya yang masih berumur 2 tahun.

Kuhibur mereka, kami sering pergi bersama dari makan di mall, jalan-jalan dan bahkan berlibur ke luar kota. Kumanjakan keponakanku dan kuanggap dia seperti anakku sendiri.

Suamiku pun sangat sayang dengan keponakanku. Pada saat kita berlibur, aku mulai merasakan perasaan yang aneh dan Aku utarakan ke suamiku bahwa aku merasa takut kalo suamiku dan Tri ada hubungan terlarang.

Suamiku marah dan bilang, “Daripada dengan Tri aku bisa cari perempuan lain yang lebih lebih daripada Tri… ” .

Aku pun mengutarakan ketakutanku pada Tri, dia bilang, “Betapa jahatnya aku kalau sampe tega melakukan itu mbak.. ” Aku percaya kata-katanya dan aku mulai menghapus pikiran buruk itu.

Tapi kenyataan berkata lain. Aku ingat pasti saat itu hari ulang tahu keponakanku, kami berencana mengadakan acara tiup lilin di rumah.

Seharian itu aku merasa sangat tidak nyaman. Perasaanku tidak karu-karuan, seperti mau manangis. Sampe pada sore hari sekitar jam 4 aku ditelpon dan aku harus kembali ke rumah karena ada yang mau dibicarakan.

Aku sudah merasa ada akan ada hal yang buruk. Dan ternyata memang benar. Aku ditnjukkan bukti-bukti bahwa suamiku dan Tri memang ada hubungan. Bahkan mereka sudah berbuat zina. Rasanya hancur semua, aku lemas dan hanya bisa menangis.

Aku merasa seperti wanita yang amat sangat bodoh sampe bisa dibohongi oleh orang-orang yang kusayangi. Semua yang telah kuberi dan kulakukan untuk mereka dibalas dengan perselingkuhan.

Saat itu aku menelpon suamiku menanyakan dia dimana. Dia menjawab sedang membeli kado untuk keponakanku. Dan ternyata mereka berdua pergi bersama untuk membeli kado.

Gak kebayang bagaimana sakitnya perasaanku saat itu. Aku mencoba bersabar menunggu mereka datang. Dan ternyata mereka datang tidak bersama, hanya beda beberapa menit saja.

Karena tidak kuat lagi menanggung sakit aku berteriak ke suamiku dan Tri. Suamiku hanya diam, Tri berulangkali minta maaf padaku. Rasanya ingin kutampar dan kujambak tapi tidak bisa. Aku hanya bisa memandang mata suamiku.

Setelah 2 hari kami tidak bicara. Akhirnya suamiku menyampaikan minta maaf kepadaku dan alasan kenapa sampai terjadi perselingkuhan itu.

Dia menyalahkan aku karena aku tidak mematuhi keinginannya untuk tidak bekerja. Dan dia ingin mempunyai momongan. Aku tambah marah karena dia beralasan itu semua terjadi karena kesalahanku.

Baca juga: Sedihnya.. Kakak Kandung Tega Merebut Suamiku

Sungguh egois sekali. Yang tidak bisa aku terima kenapa harus dengan adik sendiri. Dan dia juga berkata bahwa perasaanya saat ini lebih banyak ke Tri daripada ke istrinya sendiri.

Sungguh itu sangat menyakitkan. Seperti peribahasa Air susu dibalas dengan air tuba.

Aku pun akhirnya menanyakan ke suamiku bagaimana nasib rumah tangga kita, dia bilang akan tetap mempertahankan rumah tangga kita. Dan berjanji tidak akan berhubungan dengan Tri.

Tapi ternyata dia tidak jujur. Karena aku memergoki sendiri mereka ngobrol di telepon. Bahkan suamiku berharap mereka bisa menikah secara sah. Astaghfirullah.

Aku tanyakan ke suamiku apa maunya. Aku tanyakan apa mau poligami? Dia jawab tidak. Aku tanyakan lagi apa maunya? Dia hanya bilang ingin tetap denganku. Aku sudah tidak tahu lagi apa bisa percaya lagi padanya.

Tapi sudah 2 bulan berjalan setelah peristiwa itu, dan saat ini kita tidak banyak bicara. Kita lebih banyak diam dan sibuk dengan kegiatan kita masing-masing. Entah sampai kapan ini akan berlangsung.

Semuanya kupasrahkan ke Allah swt.  Hanya Dia harapanku satu-satunya. Kadang kutanyakan pada suamiku apa masih berhubungan dengan Tri. Dia menjawab tidak.

Tapi aku juga tidak tahu apa itu jawaban jujur. Aku hanya bisa berdoa dan memohon pada Allah swt agar diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian ini.

Dan aku yakin Allah tidak akan menguji lebih dari kemampuan umatnya. Dan semoga pasa akhirnya ujian ini hasilnya terbaik untuk semuanya.

Untuk suamiku, semoga Allah memberikan hidayah kamu benar2 membuktikan janjimu ke istrimu. Untuk Tri, semoga Allah memberikan hidayah sehingga kamu sadar yang kamu lakukan itu adalah dosa.

Secara tidak sadar perbuatan kalian telah merusak banyak keluarga. Terutama kalian telah menyakiti ibu kalian. Yang harusnya kalian bahagiakan justru malah kalian sakiti. Semoga kalian sadar.

Dan untuk para pemirsa, aku mohon saran apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Terimakasih

Suamiku Tidak Pernah Tulus Mencintaiku

Suami tidak mencitaiku

Sudah 14 tahun lamanya aku berumahtangga dengan seorang aparatur negara. Meski gajinya kecil aku tetap bersyukur dan tidak pernah menuntut yang lebih.

Suami tidak mencitaiku
Suami tidak mencitaiku

Aku hidup dengan sederhana tapi tidak dengan suamiku, justru dia yang tidak bisa hidup apa adanya. Belum lagi dengan kebiasaannya yang suka ke diskotik dan karaoke.

Sebenarnya sudah sejak awal menikah suamiku sudah mulai berselingkuh. Waktu itu hatiku hancur tapi aku berusaha memaafkannya. Karena kupikir selingkuhannya berada jauh di Aceh sedangkan suamiku di Jawa, mungkin semua itu hanya untuk selingan saja.

Setelah anak pertama kami lahir kelakuan suamiku tambah parah. Dia mulai gila judi, BPKB motor digadaikan, hutang bank tanpa sepengetahuanku.

Bertahun tahun gajinya selalu tinggal sedikit, untuk mencukupi kebutuhan hidup harus dibantu orangtuaku. Meski keadaan ekonomi sulit, suamiku masih saja tergoda perempuan lain di diskotik.

Hatiku yang dulu belum sepenuhnya sembuh sekarang harus merasakan sakit lagi. Aku tidak dicintai suamiku, inginnya aku bercerai tapi orangtua melarang karena kasihan anak akan jadi korban dan niat itupun aku urungkan, semuanya demi anak.

Seiring berjalannya waktu kelakuan jelek suamiku tidak bisa berubah. Lagi lagi anak yang membuatku bertahan karena aku ingat untuk punya anak bagiku tidak mudah.

Tiga tahun menikah baru punya anak, kalau anak disia siakan sungguh aku berdosa sama Allah karena dulu aku begitu mengharapkannya.

Waktu terus berjalan hingga tiba saatnya suamiku mengikuti ujian seleksi masuk pendidikan guna menaikkan karirnya. Setiap hari siang dan malam aku berdoa untuk keberhasilannya. Tapi di tahun pertama suamiku gagal karena dia buat masalah.

Aku tetap memberinya semangat, menguatkan hatinya untuk tidak putus asa. Aku tidak pernah berhenti berdoa karena aku yakin dibalik kesuksesan suami ada istri. Setahun kemudian dia berhasil lulus dan aku juga hamil anak kedua.

Semua anugerah itu sepertinya tidak bisa mengubah kelakuan buruk suamiku. Semakin tinggi jabatannya semakin tinggi pula level perempuan karaoke yang dikencaninya, hingga suamiku terlilit hutang begitu banyak dan mengancam pekerjaannya.

Disitu aku benar benar sudah capek dengan tingkahnya. Aku bersikukuh ingin pisah tapi tetap saja orangtuaku melarang karena kasihan anak-anak.

Hingga keluarga sepakat untuk melunasi hutang suami. Semua tanah hak ku dijual untuk melunasi hutang-hutangnya. Keluarga berpendapat mungkin kejadian kali ini bisa membuatnya sadar.

Meski hutang tinggal sedikit kita gadaikan sertifikat rumah, nanti kalau orangtua sudah dapat lagi uang, sertifikat akan ditebus. Tapi Allah berencana lain, ibuku jatuh sakit dan butuh biaya pengobatan, sehingga sertifikat rumah tidak tertebus.

Kini malah suamiku lari pergi meninggalkan hutang padaku dan meninggalkan pekerjaannya. Akhirnya ini yang aku terima setelah semua pengorbananku.

Aku bingung bagaimana nanti aku harus menghidupi kedua anakku. Mohon doanya semua pembaca, semoga Allah memberi jalan keluar bagiku.

Pernikahanku Hampir Batal Setelah Calon Istri Menceritakan Masa Lalunya

Istri tidak perawan

Perkenalkan, nama saya Bramantio, saya berusia 25 tahun pada saat tulisan ini saya publikasikan. Saya adalah seorang Manajer dan wirausahawan kecil-kecilan. Saya seorang pria yang sudah menikah dan istri saya sedang mengandung anak pertama saya.

Istri tidak perawan
Istri tidak perawan

Nah, disini saya ingin cerita bagaimana pengalaman hidup saya yang bisa dibilang sangat pahit.

Saya telah menikahi seorang wanita yang baik, cantik, terdidik, ramah tetapi ada 1 hal yang membuat saya seperti jantungan kala mendengar kata-kata tersebut.

Ketika kami (saya dan istri saya) masih dalam tahap pacaran, istri saya tidak pernah bercerita dan saya juga tidak pernah bertanya tentang masa lalunya.

Hingga pada suatu ketika, saya hendak melamarnya dan menjadikannya pasangan hingga tua, ternyata pada saat yang bahagia kala itu terdapat momentum yang sangat mengecewakan.

Dia menyatakan bahwa dirinya sudah pernah melakukan percumbuan, video call s*ks, ataupun aktivitas s*ks lainnya tetapi belum sampai berhubungan badan.

Berat batin ini mendengarnya, cincin yang saya suguhkan kepadanya saya tutup lagi, akhirnya saya meminta waktu untuk memutuskan selama 7 hari.

Selama 7 hari saya berfikir, bukan maksud menganggap saya ini pribadi sempurna, tetapi saya dari dulu sampai sekarang tidak pernah berbuat hal seperti itu.

Memang dahulu saya punya mantan, tetapi saya tidak pernah melakukan hal berbau s*ks atau lainnya yang mana saya anggap itu sangat terlarang.

Ditambah lingkungan saya yang sangat disiplin dan Islami. Ingin rasanya saya membatalkan pernikahan ini, tapi ada cinta dan sayang di lubuk hati kecil saya, ingin rasanya melanjutkan hubungan tapi kekecewaan saya terlalu besar.

Hingga 7 hari berlalu dan tibalah saatnya saya menyampaikan keputusan.

Akhirnya saya melamarnya dan menerima masa lalunya tetapi dengan syarat dia harus menceritakan detail dengan siapa, berapa banyak, dimana, bagaimana rasanya perbuatannya di masa lalunya kepada saya.

Lalu dia mengangguk terharu tanda menyanggupi dan menerima lamaran saya. Kemudian saya berkata “Tetapi sebelum kita menikah kamu harus ikhlas dan rela saya berbuat sebanyak, seperti yang kamu lakukan kepada wanita lain, setelah itu masalah masa lalu ini selesai dan kita buka lembaran baru”.

Dia hanya terdiam, lalu matanya mulai meredup dan menangis cukup lama, tetapi akhirnya dia menyanggupinya.

Lalu mulailah saya membalas dan melakukan perbuatan tersebut, awalnya saya merasa canggung karena melakukannya dengan wanita bayaran yang mana sudah pasti lebih ahli daripada saya, tetapi akhirnya saya mulai terbiasa.

Hingga akhirnya saya menyadari saya mulai menikmatinya dan saya coba berganti wanita, mulai dari teman, rekan kerja bahkan client, tetapi tetap saya menjaga untuk tidak melakukan hubungan badan, walaupun jujur saja seringkali tidak mampu menahannya.

Lalu setiap saya melakukannya saya selalu melaporkannya kepada tunangan saya (sekarang istri), hingga selesailah perjanjian ini.

Akhirnya setahun setelah saya lamar saya menikahi dia dan Alhamdulillah istri saya memang masih perawan, mungkin ini jalan yang bejat tapi menurut kami berdua ini jalan terbaik.

Tetapi ada alasan tersendiri saya tetap menikahi istri saya walau masih banyak wanita di luar sana yang masih perawan 100%. Pertama, istri saya tidak materialistis, dia selalu mau diajak makan dimana saja atau tetap bersama saya bagaimanapun kondisinya.

Kedua, istri saya tidak menuntut saya ataupun penghasilan bahkan yang lainnya. Ketiga, saya telah merasakan sosok keibuan pada dirinya semenjak awal pacaran. Keempat, istri saya mau diajak berkomitmen.

Mungkin itu saja cerita saya dan mungkin saja dari pembaca ada yang kurang berkenan, itu wajar saja karena di dunia ini selalu berpasangan, tentu saja bila ada pro ada pula kontra.

Terimakasih atas waktu pembaca sekalian.I

Aku Tidak Bahagia Dengan Keluarga Suamiku

Aku tidak bahagia keluarga suami

Aku tinggal di Bekasi, terlahir dari keluarga sederhana. Ayah seorang kuli bangunan dan ibuku dagang warung. Aku anak satu-satunya namun walaupun aku seorang wanita aku sangat bercita-cita menjadi orang yang sukses ataupun membanggakan keluargaku. Sampai akhirnya aku lulus kuliah D3 dan bekerja di perkantoran. Sekarang usia ku genap 25 tahun dan aku sudah menikah. Begini kisahku…

Aku tidak bahagia keluarga suami
Aku tidak bahagia keluarga suami

Tahun 2011 aku pacaran dengan seorang pria di perkantoran sampai akhirnya putus di tahun 2014 karena tidak adanya kepastian untuk kedepannya dan kemapanan pun sangat cukup jauh.

Walau begitu dia adalah pria pekerja keras hasil dari gaji ditabung dan dia tidak pelit, apapun yang aku minta pasti dibelikan entah itu jam / tas yang harganya sesuai dengan kemampuan dia.

Soal makan pun dia sangat loyal, tapi memang dia masih tidak punya apa-apa namun aku sangat bahagia dengannya, pacaran seperti teman sendiri. Apa mau dikata kembali lagi ke cita-citaku adalah membanggakan kedua orangtuaku maka akhirnya aku memutuskan untuk pisah.

Tahun 2015 aku pindah bekerja di Jakarta dan aku bertemu dengan seorang pria bernama Nanda di minimarket. Saat itu aku bingung pulang ke Bekasi dan pria itu menawarkan pulang bareng karena satu arah dan inilah awal mula ku bertemu dengan suamiku.

Semenjak sering pulang bareng dan kami telpon-telponan smsan, Nanda pun akhirnya menyatakan cinta kepadaku, awalnya aku menolak karena aku ingin tahu lebih dalam bebet bobot nya, dan akhirnya dia membawaku untuk berkenalan di keluarganya .

Awalnya aku melihat rumah yang cukup besar dengan mobil-mobil dan motor-motor mewah, berkenalan dengan keluarganya pun cukup baik-baik. Setelah itu aku menerima cintanya dan lamarannya kami pun menikah di tahun ini 2017.

Kesadaranku muncul ketika aku telah menikah dengannya, aku belajar bahwa jangan pernah melihat keindahan dari luar saja karena terkadang dalamnya busuk, dan ini aku alami.

Ketika tidak ada Nanda disampingku dan aku berkumpul sendiri dengan keluarganya, mereka seakan tidak menganggap aku ini ada. Aku selalu di cuekin dan diperbudak dan apapun yang aku lakukan selalu salah, selalu dibanding-bandingkan dengan menantu-menantunya yang lain, padahal aku sudah berusaha kuat untuk 1 level dengan mereka.

Mungkin Nanda tau tapi dia diam karena aku berpikir dia jika suruh memilih aku apa keluarganya pasti keluarganya.

Pernikahanku tidak mewah seperti apa yang aku impikan di gedung-gedung, pernikahanku hanya di depan rumah saja karena kelurganya dan Nanda tidak memberikan hantaran uang yang cukup untuk resepsi di gedung padahal aku yakin mereka banyak uang namun apa mau dikata kami ikhlas menerima karena lamaran sudah diterima dan tanggal pernikahan sudah ada.

Aku banting tulang untuk menutupi itu semua walaupun hanya menikah di rumah aku mau pernikahanku tetap meriah. Aku bekerja keras sampai lembur kadang diomeli oleh Nanda jangan pernah memaksakan karena menikah itu ibadah. Walaupun begitu aku ingin membahagiakan orang tua ku dengan pesta yang meriah.

Resepsi itu pun berlangsung dengan meriah hampir 90% tamu undangan datang, aku bahagia walaupun tidak di gedung menurutku menikah di rumah dengan apa yang aku usahakan sudah cukup puas dan orangtuaku senang.

Dua Hari setelah menikah aku berkunjung ke rumah mertuaku. Di sana sedang kumpul keluarga, dan apa yang terjadi aku tidak habis fikir acara pernikahanku di hina oleh mereka sekeluarga, mereka bilang tendanya tidak bagus, makanannya keasinan dan kepanasan karena kipasnya hanya satu, Nanda pun membelaku dan mengajakku pergi dari sana.

Aku menangisi itu semua di belakang suamiku, kenapa apa yang salah denganku apakah mereka tidak sadar hanya kasih uang sedikit hingga aku berusaha sendiri untuk memenuhi acara pesta, tidak ada 1 kata pun yang mereka katakan yang baik-baik buat aku.

Dan harta mereka yang terlihat pun itu hanya menutupi kesedihanku, ya bagai mana tidak setahu orangtuaku, teman-temanku – tetangga-tetanggaku, sekarang aku sudah berubah jadi orang kaya dengan hidup yang lebih baik (padahal tidak).

Tinggal di rumah mertuaku tidak sampai 1 bulan aku rasanya ingin pindah, karena aku merasa adanya ketidak adilan, aku tidak diperhatikan aku sakit pun mereka tidak tahu, karena Nanda hanyalah karyawan di perusahaan orang tua nya kadang dia di perintahkan yang tidak wajar seperti berangkat kerja gelap pulang gelap dan siang Nanda harus mencari customer-customer yang mau join.

Soal gaji pun ternyata hanya sedikit yang di berikan oleh orang tuanya bahkan lebih besar gajiku perbulan. Aku sadar ternyata mertuaku hanya memperkaya dirinya sendiri dan anak-anaknya maupun menantu-menantunya yang bisa ambil hati mertuaku dengan cara-cara yang licik.

Aku dan Nanda tidak bisa seperti itu kami hanya pasrah dan sabar.. 2 bulan kemudian pada akhirnya tabungan kami dikumpulkan untuk DP rumah dan mobil.

Allhamdullillah sekarang kami sudah pindah rumah dan punya mobil sendiri tanpa harus pinjam-pinjam mobil mertua. Walaupun masih kredit cukup bisa bangga sama diri sendiri dan orangtuaku pun senang melihat ku dan suami terlihat sukses.

Namun apa yang terjadi dengan keluarga mertuaku, mereka hanya mengomentari yang jelek-jelek. Ukuran rumah 72 yang sangat kecil, mobil sekenan lah.

Aku pun dan suami berusaha sabar dan tetap tersenyum, mungkin mereka iri dengan kami, tanpa kami harus mengemis ke mereka kami terbukti bisa mandiri dibandingkan yang lainnya rumah besar mobil mewah tapi hasil dari meminta ke mertua dengan cara-cara yang licik.

Dan intinya aku masih bersyukur memiliki suami yang baik menyayangiku, walaupun kadang dia tetap membela keluarganya tapi Allhamdullillah ada usaha dia untuk membahagiakanku.

Jika dibandingkan dengan mantanku yang sebelumnya, mungkin aku akan hidup biasa-biasa aja tapi bahagia dengan kesederhanaan, susah maupun senang tidak ada percekcokan antar keluarga karena aku tahu keluarganya menganggapku sebagai anak sendiri.

Dan sekarang aku harus terima hidup seperti ini dengan keputusan aku yang terdahulu walaupun senyumanku ini adalah kebohongan tapi ini untuk mereka yang aku sayangi. Mungkin jika mereka tahu akan begini, aku tidak akan diijinkan menikah dengan Nanda.

Aku dan Nanda sekarang ingin memiliki anak, semoga kami di berikan kepercayaan oleh Tuhan yang cepat sehingga kami bisa bertambah bahagia, walaupun aku tau pada akhirnya nanti anak aku akan dibanding-bandingkan dengan cucu-cucunya yang lain. Dan kakak-kakak ipar, adik ipar tidak rela jika uang-uang dari usaha keluarganya, aku dan Nanda menikmatinya.

Sekarang kami hanya bisa fokus bekerja, buang-buang jauh omongan jelek mereka dan terima saja yang bagus-bagusnya.

Suamiku Selingkuh Karena Aku Tidak Perawan

Awalnya suami mau menerimaku apa adanya meski aku sudah tak suci lagi. Tapi setelah melahirkan anak pertama kami, sikapnya berubah. Dia mulai selingkuh dan bahkan mengambil kesucian wanita lain. Alasannya karena aku sudah tidak perawan dan dia ingin merasakan wanita virgin

Aku mengenal pacaran saat aku sekolah SMK. Aku merantau di kota dan tinggal bersama bibiku. Kemudian aku kenal dengan laki-laki. Sungguh aku sangat polos. Aku tergoda. Aku diajarkan ciuman dan diajarkan yang lain olehnya.

Sebut saja namanya D. Aku selalu putus nyambung dengannya. Dan hingga aku lulus sekolah, aku masih berhubungan dengannya tapi status kami tetap seperti itu, putus nyambung.

Tahun 2015 aku mulai kerja di Jakarta, aku ngekost dengan teman-temanku. Meski begitu aku selalu pulang sebulan sekali ke Serang untuk menemui D.

Tetapi aku dan dia statusnya tidak pacaran. Hanya mantan, tetapi dekat. Hingga pada akhirnya, di bulan Februari 2015 keperawanan aku dia renggut. Entah kenapa aku merelakannya. Padahal saat itu aku gak pernah mau. Tetapi dipaksa. Nasi sudah jadi bubur. Sejak kejadian itu, aku sudah melakukan 3x bersamanya.

Hingga pada akhirnya bulan April 2015 aku menemukan laki-laki lain di Jakarta, sebut saja namanya R. Dia sangat membuatku nyaman. Tidak seperti mantanku yang teramat cuek. Tetapi saat aku dekat dengan Si R. Aku masih kontakan dengan Si D.

Entah apa yang terjadi pada diriku.

Dua kali bertemu dengan R. Aku maen kepuncak dengannya. Entah apa yang ada dipikiran aku. Aku mau saja diajak menginap di penginapan di puncak. Awalnya aku sudah bilang aku tidak ingin macam-macam. Iya dia iyakan. Tapi mungkin setan sedang merayu. Kami melakukan hubungan yngg tidak seharusnya dilakukan.

Sungguh.. sangat hinanya diri ini. Melakukan hal itu dengan 2 laki laki yang berbeda.

Singkat cerita. Si R sudah mengetahui bahwa aku tidak perawan. Dia juga tahu yang melakukan itu adalah mantanku, si D. Tetapi dia mau menerimaku. Dan bahkan dia suruh aku memilih. Pilih dia atau si D.

Aku berpikir aku sangat nyaman dan bahagia bersama si R. Aku selalu merasa sakit hati ketika bersama si D..

Aku pun memutuskan untuk menjauh dari si D. Dan berhubungan tanpa status dengan Si R.

Setahun kami menjalani hubungan ini. Setiap Minggu kami melakukan perbuatan hina itu. Hingga pada akhirnya. Aku mengajak dia menikah. Aku tidak ingin seperti ini terus. Terus-terus melakukan dosa.

Dia setuju. Maret 2016 aku dilamar olehnya. Lalu pada bulan April aku telat haid, aku positif hamil. Untunglah pada akhir April aku menikah dengan si R.

Singkat cerita. Desember 2016 aku melahirkan. Sangat bahagia memiliki anak yang sangat manis. Laki laki. Sangat lucu.

Sekarang anakku sudah berumur 5 bulan. Tetapi hal yang buruk terjadi dalam keluargaku.

Suamiku selingkuh dengan teman wanita dikerjaannya. Awalnya aku hanya tau dia hanya jalan-jalan saja. Tetapi.. Satu hari kemudian suami saya jujur. Bahwa dia merawanin wanita itu.

Sungguh hati saya sangat hancur. Hancur. Hingga saya buta hati dan buta pikiran. Saya mencoba bunuh diri dengan menggoreskan pisau di tangan saya. Saya mencoba menyakiti diri saya sendiri. Saya tidak terima.

Dia berkata, “Aku kan nerima kamu, kamu tidak perawan. Sekarang kamu harus nerima apa yang aku lakukan.”

Sangat hancur hati saya. Astagfirullah. Saya sudah tobat. Saya kira suami saya nerima saya apa adanya. Tapi itu semua bohong..

Dia beralasan bahwa dia melakukan itu karena ingin merasakan wanita virgin. Entah saya harus berkata apalagi. Saya rasa semua ini kesalahan saya.

Kemudian. Saya memaafkan dia. Tapi dia tidak bisa menjauh dari wanita itu. Saya tersiksa. Saya sakit hati Tuhan..

Dia bilang dia sangat mencintai wanita itu. Dia bahagia bersamanya. Sangat sedih hati ini mendengar kata-kata itu.

Oke saya mencoba berlapang dada. Saya tau ini kesalahan saya dimasa lalu. Saya meminta cerai kepada suami saya. Tetapi dia tidak mau.

Saya ingin dia tanggung jawab kepada wanita itu. Dan cerai dengan saya. Tapi dia tidak mau meninggalkan saya.

Di situ saya sangat hancur. Saya dilema. Apa yang harus saya lakukan. Setiap hari saya melihat chat-chatan mesra suami saya bersama wanita itu.

Saya tidak ingin seperti ini terus. Merasakan sakit hati melulu. Saya bertanya. “Sampai kapan kamu seperti ini. Tolong tegas. Jangan menyakiti saya terus”

“Sampai saya resign dari pekerjaan dan bisa menjauh dari wanita itu.”

Alhamdulillah suami saya akhirnya resign. Selama 3 tahun dia bekerja dan akhirnya resign hanya karena wanita.

Akan tetapi suami saya ternyata tidak bisa meninggalkan wanita itu. Selalu chat lagi chat lagi. Ya Allah. Cobaanmu.

Hingga pada akhirnya. Wanita itu sendiri yang bilang tidak ingin seperti ini terus. Dia menjauh dari suami saya. Tidak chat-chat lagi. Dan suami saya setuju jika memang itu kemauannya.

Sekarang. Suami saya kembali ke pelukan saya. Tapi mungkin tidak hatinya. Hatinya masih dengan wanita itu.

Sikapnya berbeda. Tidak seperti dulu yang selalu bersikap manis denganku.

Aku selalu memposting status tentang perselingkuhan di FB dan IG. Dan menceritakan kepada keluarga saya bahwa suami saya selingkuh. Tetapi hanya jalan-jalan doang. Tidak menceritakan bahwa mereka melakukan hubungan terlarang.

Kemudian… Dia memposting foto berdua dengan wanita itu di FB. Keluarga saya melihat itu dan mencaci maki suami saya. Saya menjelaskan bahwa dia memposting itu dengan seizin saya.

Suami saya tidak terima jika keluarga saya mencaci dia. Kemudian.. hal yang sangat memalukan terjadi.

Dia meng-SMS mamahnya atau mertua saya, dia mengatakan, “Istri saya tidak perawan.”

Kontan saya menjerit. Melihat itu semua. Kenapa dia melakukan itu. Kenapa dia melakukan itu. Saya hancur kembali.

Itu aib saya. Saya tidak terima.
Kata cerai dia lontarkan. Tetapi saya diam..
Saya hanya bisa menangis dan menangis.

Kemudian mertua saya berkata, “itu bayi anak siapa,”

Aku jawab, “itu anak suami saya.”

Kemudian saya bilang ke mertua saya, “Iya saya tidak perawan dan kemarin anakmu selingkuh dan merawanin wanita lain.”

Sontak mertua saya berkata kepada suami saya, “Kenapa kamu menikah dengannya jika tahu dia sudah tidak perawan”.

Mertua saya juga menanyakan, “Apa wanita lain itu tidak meminta pertanggungjawaban setelah kamu merawanin dia?”

Suami saya diam sementara saya menangis sejadi-jadinya, saya malu. Malu. Sungguh malu.

Suami saya cuek. Dia terus memarahi saya. Karena keluarga saya juga mencaci maki dia.

Ya Allah. Ujian apa ini..

Hati saya mulai tenang saat mertua saya SMS, “Masalalu istrimu lupakan. Dia kan sekarang sudah jadi istrimu. Dan sudah ada anakmu juga. Terima dia apa adanya.”

Sujud syukur saya membaca SMS mertua saya. Tetapi suami saya malah ketawa. Kenapa ibunya tidak memarahi saya.

Dia masih saja cuek. Dia mencoba menghubungi wanita selingkuhannya itu kembali. Saya menangis lagi sejadi-jadinya. Dan saya kemudian meminta maaf. Saat tidak ingin bertengkar. Alhamdulillah hati suami saya tersentuh. Dia mulai baik terhadap saya. Dan meminta maaf.

Tapi saya malu kepada mertua saya.
Saya tidak ingin bertemu dengannya..
Malu..

Hingga sekarang suami saya tidak bekerja. Kami tidak mempunyai uang. Hingga HP harta kami satu satunya dijual. Buat bayar kontrakan. Sakitt..

Perselingkuhan menyebabkan hilang pekerjaan. Kehilangan rezeki. Dan itu nyata….

Tetapi cerita hidup saya sangat berguna buat para pembaca. Agar para pembaca menyadari apa artinya kesucian. Jaga keperawanan. Jaga. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.

Untuk pria. Tolong jangan pernah kalian menodai orang yang kamu cintai.

Doakan aku. Supaya aku sabar dan selalu tabah. Hingga pada akhirnya. Bahagia itu datang.

Terimakasih redaksi ceritacurhat.com sudah memuat tulisan saya dan thanks pada pembaca sudah membaca.

Merasa Rendah Diri Karena Jarang Disentuh Suami

Istri jadi rendah diri jarang disentuh

Entahlah apakah masalah yang kurasakan ini juga dialami oleh Ibu-Ibu lain, atau mungkin hanya saya saja yang mengalaminya. Setelah mengandung dan melahirkan anak pertama kami, suami jarang menyentuhku.

Istri jadi rendah diri jarang disentuhSaya sudah menikah selama 3 tahun dengan suami saya. Selama itu pula hubungan kami baik-baik saja. Setahun awal pernikahan kami mengusahakan memiliki anak, sehingga hampir setiap hari kami berhubungan suami istri.

Usaha kami berhasil, saya hamil. Dan semenjak usia kehamilan mencapai 9 bulan kami tidak pernah berhubungan suami istri lagi. Alasannya takut anak kenapa-kenapa di dalam perut.

Dan akhirnya hari itu pun tiba. Saya melahirkan. Sungguh bahagia rasanya kami saat itu. Anak yang kami idam-idamkan selama ini akhirnya lahir dan menjadi bagian dari keseharian kami.

Waktu itu saya berpikir setelah melalui masa nifas nanti kami akan kembali aktif berhubungan seperti dulu. Kenyataannya tidak, saya tetap tak disentuh suami sampai berbulan-bulan setelah masa nifas lewat, saya bingung.

Sampai anak kami berumur 6 bulan, suami masih malas-malasan untuk melakukannya, bahkan jika kami melakukan, itupun karena saya yang minta pertama untuk berhubungan.

Saya merasa galau segalau-galaunya, mengapa sikap suami jadi berubah, tidak lagi hangat seperti dulu. Sampai saat ini anak kami sudah berumur 1 tahun, hanya 2 kali kami berhubungan suami istri. Itupun sepenuhnya karena saya yang minta.

Sebetulnya saya sudah berusaha mengajak suami untuk komunikasi, berbicara dari hati ke hati. Tapi ketika saya bertanya pada suami tentang penyebabnya, dia hanya menjawab sedang tidak mood atau sedang lelah bekerja.

Waktu itu saya berpikir mungkin suami sedang stres dengan pekerjaannya di kantor sehingga kehilangan mood sama aku. Tapi jika memang begitu kenapa dia tidak pernah membicarakannya?

Jujur saya merasa sedih dan dan rendah diri. Apa saya sudah tidak cantik lagi? Apa saya sudah tidak menarik perhatiannya lagi? Apa suami sudah tidak cinta saya lagi? Apa suami selingkuh? Apa tubuh saya setelah melahirkan sudah gendut jadi dia tidak suka?

Sekarang saya bingung, apa yang saya harus lakukan?

Kepahitan yang Selalu Kurasakan

Menikah, mengurus suami, memiliki anak lalu merasa bahagia mungkin terlalu muluk bagiku. Alih-alih merasa bahagia, aku malah merasa menderita dengan perlakuan suami yang tidak peduli dengan kami, anak istrinya.

Kepahitan hidupkuNama saya Nadya, Saya hanya ingin sedikit curhat tentang kehidupan rumah tangga saya. Saya sudah mempunyai suami, dan sudah mempunyai anak satu.

Tetapi selama saya berumah tangga dengannya, saya tidak pernah merasakan hal yang benar-benar membuat saya bahagia seperti orang-orang lain yang sering berliburan keluar rumah bersama keluarganya.

Suami saya selalu beralasan sibuk dengan kerjaannya, padahal kerjaannya hanya seorang montir mobil dan bengkelnya di rumah orang tuanya sendiri.

Suami saya lebih senang ngumpul dengan teman-temannya, tertawa-tawa dan mabok-mabokan menghabiskan duit. Suami saya juga sering pergi ke cafe lalu dia bermabok-mabokan dengan cewek-cewek cafe. Kalau ada duit gak pulang-pulang, giliran kosong baru ingat anak istri.

Hati saya pun sakit seperti di injak-injak di depan semua orang. Suami saya gak cuman itu aja, ada lagi yang menyakiti hati saya, yaitu suatu malam saat dia gak pulang, dia mabok bersama dua cewek yang saya tahu suka jual diri dengan supir-supir di terminal.

Malam itu, suami saya pergi bersama teman-temannya dan dua perempuan murahan itu. Saya tidak bisa mengajaknya pulang karena malam itu hujan deras. Akhirnya pagi-pagi saya bangun dengan anak saya, saya sama anak mencari suami saya dan saya bertemu di dekat stasiun pangkalan angkot.

Saya liat suami saya sedang tidur dan saya bangunkan, disaat suami saya bangun bau mulutnya tidak seperti biasa, bau mulutnya seperti orang habis nete, dalem hati saya ‘Ya Allah kenapa begini’. Karena saya tidak mau berantem dengannya, saya hanya diam dan mengajaknya makan.

Masih banyak lagi hal lain yang menyakitkan dari suami, anehnya saya selalu saja memaafkannya. Saya cape memasalahinya karna setiap bertengkar dia selalu pukulin saya. Kepala saya sampe bocor dan dia sama sekali tidak menyesal.

Saya masih bertahan karna saya sudah terbiasa mengalaminya, bahkan sejak saya hamil pun dia sudah sering mukul, tetapi namanya seorang istri tetap selalu memaafkan semua kesalahan suaminya meskipun itu menyimpan luka yang tidak bisa di hilangkan.

Rumah Tanggaku Bagaikan Neraka

Rumah tanggaku di neraka

Aku nekat berselingkuh dengan M, seorang teman kantor. Suami yang mengetahui perselingkuhanku membeberkan aibku kepada keluargaku, Ayahku meninggal setelahnya. Kini, setelah aku semakin berharap dari M, aku dapati kenyataan kalau dia seorang gay.

Rumah tanggaku di nerakaIni adalah kisah nyata dalam hidup saya, sebut saja saya T. Saya seorang wanita yang menikah di usia yang terbilang muda yakni 20 tahun. Saya menikah dengan seorang duda anak 2 yang usianya 15 tahun di atas saya.

Kami berkenalan di pulau Bali dan memutuskan menikah dan hidup di Jawa. Tepat di hari pernikahanku, air mata itu tak henti menetes, penyesalan dan keraguan dalam diri sendiri terus menghantui. Entah apa yang sedang saya pikirkan, yang ada saya terus saja ingin menangis dan berteriak.

Hari berganti waktu terus berputar, saya jalani hidupku sewajarnya sebagai istri dalam rumah tanggaku. Tak ada kehangatan di dalam rumah tanggaku, saya seperti hidup dalam kesunyian padahal ada suamiku di rumah.

Suamiku sangat keras dan dingin, dia tak mau tau urusan dapur apalagi wanita. Di usiaku yang masih muda, dan masih ingin disayang atau dimanja. Sama sekali tak pernah ku dapatkan dari suamiku, dia beranggapan itu semua tak terlalu penting untuknya.

Cek cok terus terjadi di usia pernikahanku yang masih terhitung muda saat itu, sampai pada akhirnya suami saya memutuskan pergi dari rumah dan meninggalkan cincin kawin kami di lemari kamar.

Hancur seketika hatiku, sebagai istri yang tak pernah dihargai saya terus bertahan untuk anak dan rumah tanggaku. Terlebih lagi masa mudaku yang telah ku korban untuk menikah dengannya serasa hancur lebur tiada arti.

Sebulan lamanya saya ditinggal suami, akhirnya dia memberi kabar melalui mertua saya bahwa dia sedang di Bali bersama kedua anaknya. Akhirnya saya putuskan untuk menyusulnya ke Bali berdua dengan anak saya yang saat itu masih berusia 1 tahun.

Singkat cerita kami hidup kembali berdua di Bali, dan yang saya harapkan hanya perubahan terbaik untuk keutuhan rumah tanggaku dan anak.

Keuangan kami hancur, dan saya putuskan untuk bekerja dengan ijin suami. Seiring berjalannya waktu, saya lakukan sewajarnya sebagai pekerja sekaligus ibu.

Berangkat pagi pulang sore, ketemu anak ngurus rumah dan suami. Tapi tetap kebekuan dalam rumah tanggaku tak bisa dirubah, suamiku semakin asik dengan dunia gelapnya minum-minum, judi dan entah apa yang ada di kepalanya seketika kami cekcok hebat dan dia memukul saya sampai membekas.

Seumur kami menikah, dia memang suka main tangan tetapi baru kali itu dia memukulku sampai membekas di daerah mata, luka hatiku yang ditinggal pergi waktu itu saja masih membekas, ditambah lagi pukulan yang dia lakukan secara sadar hanya karena masalah sepele yang dia buat sendiri.

Dendam hanya dendam dan sakit hati yang saya rasakan setiap kali melihat suamiku, sampai akhirnya batas kesabaranku habis juga. Di usia pernikahanku yang menginjak tahun ke 4, saya yang lemah dan terinjak, akhirnya kalap dan berontak dengan keadaan yang saya alami.

Lalu saya putuskan membuka hati dengan teman kantorku. Usia kami tak jauh berbeda, dan dia tergolong pria tampan dan pendiam di kantorku, sebut saja namanya M.

Entah apa yang ada di kepalaku saat itu, saya berani melakukannya. Dia sangat berbeda jauh dengan suamiku, kebekuan dalam rumah tanggaku serasa terobati seketika karenanya.

Hidupku mendadak berubah, serasa menemukan diriku yang sebenarnya. Tak sedetik pun terlewatkan momen kebahagian kami, sampai pada akhirnya M mengetahui bahwa saya wanita bersuami dan M mengakui juga bahwa dia telah memiliki pacar yang hubungannya sudah tak sehat lagi.

Kita memiliki problem yang sama dengan kasus yang berbeda, dan itu pun pula yang membuat kami semakin nekat. Saya yang sedang dimabuk cinta mulai melupakan keluarga, saya sering pulang tengah malam dan sibuk dengan hp membuat suamiku mulai curiga.

Sampai pada akhirnya saya memutuskan keluar dari rumah dan hidup bersama M. Penyesalan suamiku tiada artinya bagiku, dan dia mengiklaskanku pergi dari rumah.

Sampai pada akhirnya musibah terbesar pun terjadi, karena kesal suamiku membongkar aib rumah tangga kami ke keluarga saya. Tak lama berselang, ayah saya meninggal karena serangan jantung.

Betapa hancurnya hidupku seketika melihat kenyataan bahwa ayahku meninggal di tangan suamiku, dendam campur sedih dan tak terima menyerubung erat di otakku kepada suamiku.

Semua keluarga besar menyalahkanku atas kematian ayahku, hujatan demi hujatan harus siap saya terima dan saya biarkan siapa pun menghujatku karena mereka tak pernah tau sebenar-benarnya apa yang telah terjadi di dalam rumah tanggaku hingga saya berani gila berselingkuh.

Saya sebagai anak tertua, harus bertanggung jawab menopang ibuku karena adikku belum bekerja dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Saya semakin frustasi dan semakin menjadi jadi, hubungan terlarangku masih terus saya lanjutkan.

Hidupku semakin bergantung dengan M, dan M masih saja belum bisa meninggalkan pacarnya dengan alasan hidup M di topang sama pacarnya.

Sampai pada akhirnya hal tak terduga terjadi, disaat kami sedang tidur tiba-tiba kami kepergok langsung dengan pacarnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pacarnya adalah seorang pria. Siapa yang tak hancur hatinya, orang yang ku cinta mati-matian ternyata seorang gay.

Oh Tuhan, seperti tak ada habisnya penderitaan yang saya alami ini. Tak tahu harus apa dan mesti kemana saya mengadu. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

Dendam telah membutakanku

Dendam membutakanku

Keputusanku untuk bekerja membuka jalan bagiku untuk membalas dendam ke suami. Usiaku yang masih muda dan wajah yang cantik memberi jalan bagiku untuk banyak mengenal pria-pria lain dan membuat suamiku cemburu. Dendam telah membutakan mata hatiku.

Dendam membutakankuAku seorang wanita, yang memutuskan menikah di usia muda dengan seorang pria yang usianya terpaut jauh denganku. Suamiku duda anak 2 dan kami di karuniai 1 orang anak.

Rumah tangga kami bagaikan neraka, tidak ada kehangatan dan komunikasi yang baik di antara kami. Cobaan demi cobaan yang aku hadapi membuatku murka.

Kadang aku berfikir apa karena usiaku yang belum matang membuatku merasa semua ini menjadi beban, ataukah ini semua karena kesalahan suamiku?

Sebagaimana kerasnya suamiku selalu ku terima setiap harinya, tanpa pernah sedikit pun aku membalas. Sampai akhirnya saya putuskan untuk bekerja.

Aku bekerja semata untuk melarikan diri dari kejenuhan di dalam rumah, saat itu aku mulai banyak mengenal teman dan dunia baru. Karena usiaku yang masi muda, membuat banyak pria tak menyangka bahwa aku sudah berkeluarga.

Dan kemudian aku memakai kesempatan itu untuk menghibur diri walau hanya sekedar lewat semata. Aku bekerja di salah satu distributor besar di kota B, disitu aku mengenal seseorang dari team lain.

Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku meng-iya-kan ajakan dia untuk jalan bersamanya. Aku mulai berubah di dalam rumah, cuek dan asik dengan hidupku sendiri.

Suamiku mulai curiga dengan perubahan sikapku, pertengkaranpun semakin menjadi jadi. Karena disisi lain, aku memang sengaja supaya suamiku tau kalo aku berselingkuh karena dengan melihat suamiku depresi, akupun merasa puas dan menang. Dendam telah membutakan mata hatiku.