Aku Tak Pernah Dicintai Suamiku

Sembilan tahun usia pernikahan kami dan saat ini aku dikarunia 3 putri. Saat ini usiaku 31 dan suami 30 tahun. Awal pernikahan aku kira dia mencintaiku karena dia begitu lembut kepadaku, tapi semakin lama usia pernikahan kami semakin tercium bau-bau tak sedap.

Suami tidak mencintai akuSuatu malam dia manggil sebuah nama di tidur lelapnya, ketika dia terbangun kutanyakan siapa yg dia panggil-panggil malam itu. Dia pun menutupi dan menjawab bukan siapa-siapa.

Aku pun berharap dia bukan siapa-siapa. Tapi kenyataan berkata lain saat dia mengungkap kebenaran itu. Wanita itu adalah dia yang selama ini mengisi hatinya dari jaman dia sekolah sampai saat ini.

Dan yang bikin nyesek itu dia mengatakan kalau wanita itu tak bisa tergantikan oleh siapapun, cintanya cuma buat wanita itu sekalipun status dia suamiku, dan diapun tak bisa mencintai saya sekalipun aku ibu dari anak-anaknya.

Dia itu suami yang sangat menyayangi anak-anaknya tapi tidak denganku, aku berusaha ikhlas menerima kenyataan ini. Sekalipun dia tak pernah mencintaiku tapi aku sangat mencintai dia.

Kuhabiskan waktuku untuk mengurus kebutuhan suamiku dan anak-anakku dengan harapan rasa cinta itu tumbuh perlahan karena kebiasaan bersama, tapi tidak dengan suamiku dia tetep gak bisa mencintaiku. Cinta memang ga bisa dipaksakan ya sudahlah aku terima keadaan ini.

Baca juga: Mantan Pacar Ingin Kembali Setelah Aku Menikah

Hingga suatu hari saat aku dan anak-anak menetap di kampung halamannya, dia memutuskan untuk kos sendiri di kota. Waktunya pun dia habiskan bersama wanita penghibur di tempat karaoke.

Seperti ada petir yang menyambar di hatiku ketika terungkap suamiku selalu mengunjungi tempat lokalisasi terbesar di kota itu. Kembali aku menenangkan diriku sendiri demi anak-anak.

Aku semakin gak kuat dengan keadaan ini hingga akhirnya aku jatuh sakit dan masuk rumah sakit karena pembengkakan hati,,, Ya Allah cobaan apalagi, saat aku sakit pun dia terus kasar dan menyakiti hatiku dengan kata-kata yang gak enak di dengar.

Ya Allah kuatkan aku. Aku memang istri yang tergolong cerewet, aku selalu berani kalau dia kasar sama aku. Pernikahan kami bagaikan gelas yang sudah retak, kami sering bertengkar karena banyak hal.

Tiap kali aku ngomong pasti selalu salah dan bikin kemarahan dia,, tubuh ini seakan sudah kebal dengan pukulannya, hati ini sudah kebal dengan makiannya.

Aku sudah tidak kuat dan aku ingin pisah dengannya,,, dalam hati Tuhan maafkan aku. Dia ga mau menceraikan saya dengan alasan anak-anak. Ya sudah aku harus kembali menerimanya.

Tahun 2017 dia dipertemukan dengan wanita yang dia cintai selama ini,,, selalu berkirim pesan di messenger, selalu kirim foto dan hal yg menyakitkan ketika aku ingin tau dia malah marah dan aku jadi korban keganasannya.

Ya Allah aku harus gimana selanjutnya, dia mencintai teman sekolahnya dan tak bisa mencintai aku.

Sifat Asli Suamiku Baru Kusadari Setelah Tujuh Tahun Hidup Bersama

Sifat asli suami jelek

Dahulu aku pernah mencintai seorang lelaki. Dia bukan orang berada. Tetapi kasih sayangnya luar biasa, hampir sama seperti kasih sayang orang tuaku.

Sifat asli suami Setelah dua tahun menjalani hubungan, aku pun tamat sekolah SMA, tepatnya sekitar tahun 2012. Saat itu juga aku mengetahui bahwa orang tuaku tak merestui hubungan kami.

Singkat cerita, aku pun diajak ibuku pulang ke desa tanpa sepengetahuan pacarku itu. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku pun kembali ke kota dengan alasan mengambil ijazah, padahal aku pergi kerumahnya.

Namun lama kelamaan ibuku curiga dan lekas menyuruhku kembali pulang ke desa. Setelah selang beberapa minggu, rasa rinduku padanya tidak terbendung. Begitu juga dirinya. Akupun kembali ke kota dengan berbagai macam alasan.

Alhasil, aku ketahuan kalau selama ini aku berbohong. Kakak laki-laki ku marah besar dan mengancam akan melaporkan pacarku ke polisi. Aku ketakutan, jadi aku kembali lagi ke desa dan tidak boleh pergi kemanapun juga.

Selama di desa aku terus dipojokkan oleh keluargaku karna aku dianggap mencintai orang yang salah dan itu bertentangan dengan apa yang aku rasakan saat itu.

Akupun meminta dijemput oleh pacarku secara diam diam, namun tetap ketahuan jua. Tetapi aku berkeras dan pergi dengan pacarku itu hanya dengan memakai sesetel baju tidur tanpa membawa apapun.

Tetapi tidak sampai disitu. Sesampai dirumahnya, rupanya orang tuanya juga marah akan kelakuan kami berdua. Kami hanya berpelukan, percaya bahwa suatu saat kelak mereka akan mengerti perasaan kami.

Hari pun berganti, pagi itu aku terkejut saat ibuku datang ke rumah pacarku. Ibuku mengetahui dari orang lain. Dan akhirnya pacarku ikut pulang ke desa bersamaku dan ibuku. Dengan janji bahwa orangtuaku akan membenarkan hubungan kami dengan kata lain menikahkan kami.

Sesampai di rumahku, aku terkejut bahwa kenyataan bertentangan dengan apa yang dijanjikan. Malah pacarku dihina dan dicaci, begitu juga diriku. Aku dan pacarku menuntut agar kami dinikahkan.

Namun akhirnya janji itu tinggalah janji. Pacarku kembali ke kota dan aku tinggal di desa. Saat itu juga pacarku mengatakan bahwa hubungan kami takkan bisa menyatu dan kulihat keputus asaan di raut wajahnya.

Sejak saat itu diriku makin dipojokkan. Setiap hari tiap detik aku menjadi tersiksa batin. Sejak kecil aku selalu menderita batin, namun aku cuma memendam sendiri tanpa mencurahkannya kepada siapapun.

Derita batin itu tak lain adalah saat aku berbuat sedikit kesalahan, mulailah orang tua main tangan, kakak perempuan atau kakak lelakiku menyentuhkan benda ke tubuhku.

Saat aku tidak tau apapun dan aku disalahkan, maupun saat aku dinyatakan bersalah namun kesalahanku itu diperbanyak entah darimanapun datangnya. Setiap hari aku hanya dipojokkan terus menerus.

Aku berfikir mungkin setelah meninggalkan rumah dan memulai kehidupan dengan dia yang aku sayangi, begitu pula dia yang amat menyayangiku. Akupun lari dari rumah hanya dengan membawa baju yang terlekat di badan serta uang yang hanya pas untuk ongkos.

Akhirnya aku menikah secara wali hakim (nikah siri). Walau kehidupan kami susah dan kekurangan, tetapi kami tetap bersemangat menjalani semuanya.

Kami yakin kami bisa memulainya dari angka nol. Akupun hamil anak pertamaku. Saat usia kandunganku 2 bulan, suamiku mendapat pekerjaan sebagai teknisi.

Sejak saat itu kehidupan kami mulai sedikit demi sedikit berubah. Kami tidak lagi kekurangan, namun Juga tidak lebih. Melainkan cukup. Aku pun sudah bersyukur akan hal itu.

Namun… Saat aku mengandung anakku yang kedua, saat itu usia kandunganku sekitar 4 bulan, aku mendapati bahwa suamiku sangat dekat dengan akrab dengan teman perempuan sekantornya.

Saat itu kami belum memiliki kendaraan. Rupanya selama beberapa bulan terakhir ini dia diantar jemput oleh teman wanitanya itu, padahal suamiku bilang dia diantar pulang oleh teman lelakinya.

Saat itu pikiranku mulai kotor. Aku kotak katik hp nya, dan aku mendapati suamiku mengomentari status facebook wanita itu dengan mesra dan penuh perhatian.

Wanita itu pun membalas komentarnya dengan menawarkan pulang bareng dan mengatakan bahwa wanita itu masih dikantor saat itu kulihat waktunya sekitar pukul tujuh malam.

Ku buka aplikasi bbm suamiku. Kubaca chat grup kantornya, di chat grup itu aku mendapati wanita itu mengobrol di grup menggunakan hp suamiku. Ditambah lagi obrolan di grup itu adalah obrolan yang tidak senonoh.

Dan aku lihat foto suamiku tidur duduk dengan kepala terkelungkup di atas meja. Berarti betul memang wanita itu yang mengambil gambar suamiku itu.

Hp suamiku memakai kata sandi, jadi tidak mungkin wanita itu memakai hp suamiku secara diam diam. Pastinya suamiku yang memberi izin.

Aku baru sadar, obrolan itu hari minggu, Tepatnya saat libur. Aku ingin mengajak suamiku jalan-jalan. Namun dia menolak karna ingin kondangan dan dijemput oleh teman laki-laki sekantornya.

Segera ku buka sms, ku lihat di berita terkirim, dia mengirim pesan ke wanita itu “aku sudah di depan” saat itu aku terdiam. Berarti wanita itu yang menjemputnya untuk pergi kondangan.

Aku ingat, waktu hari minggu itu aku bertanya kapan pulang kondangannya? Suamiku jawab sore. Jadi aku menunggu alhasil dia pulang jam 9 malam dengan alasan mengantar bosnya ke bandara.

Sekejap aku sadar… Suamiku telah membohongiku… Dia bukan dijemput teman lelakinya, melainkan wanita itu, dia pulang malam bukan mengantar bos ke bandara, tetapi pulang kondangan dia nongkrong dikantor bersama teman-temannya, hingga malam.

Dia tak berpikir aku di rumah menunggu dia pulang. Hatiku hancur saat itu.

Kembali ku buka bbm, ku geser chatingan grup kantor itu keatas. Aku melihat ada foto wanita itu sedang menungging… Dan apa komentar suamiku dan temannya?? Aku tidak mau mengatakannya, aku malu. Yang jelas komentar itu sangat kotor dan tidak senonoh.

Alhasil aku emosi, kami pun bertengkar hebat. Masalah ini pun sampai ke kantor dan aku pun dipanggil oleh bosnya. Bosnya bilang wanita itu diperintahkan oleh menager nya untuk mengantar jemput suamiku.

Dan antara mereka tak ada hubungan. Dan suamiku minta maaf dan berjanji tak akan mendekatinya lagi. Aku pun percaya akan hal itu.

Aku melahirkan anak keduaku, saat itu umur anakku belum 40hari, malam itu aku meminjam hpnya karena ingin mengirim lagu dan foto. Namun aku tak sengaja membuka folder.

Seketika aku terkejut, di folder itu terdapat foto paha wanita itu sedang mengangkang dan memakai rok pendek. Ya Tuhan. Berarti selama ini dia hanya janji palsu belaka kepada ku. Ternyata dia masih saja mendekati wanita itu.

Dia tidak bisa bekerja secara profesional. Saat aku bertanya, dia menjawab foto itu ingin dimasukkannya ke grup bbm kantor. Itu berarti suamiku masih mengobrol kotor tentang wanita itu.

Dia menjawab dia hanya melakukan itu sekedar hiburan semata, cuma sekedar bermain main saja. Dan dia menganggap itu hal sepele. Tapi bagiku??? Hal itu membuat hatiku hancur kembali…

Kami kembali bertengkar hebat dan aku minta dicerai. Tapi dia kembali minta maaf dan berjanji kembali. Aku pun luluh dan kembali memaafkannya. Tetapi Allah begitu adil padaku. Aku kembali mendapatinya melakukan hal yang sama. Saat itu aku lelah dan putus asa, dan aku merelakan apapun yang terjadi.

Suamiku pun kembali meyakinkan aku… Tetapi percuma aku sudah tidak percaya lagi. Kata maaf dan kata janji tidak akan kudengarkan lagi. Dan setelah itu sekali lagi aku mendapati suamiku berbuat hal yang sama. Aku sudah tidak kuat lagi… Aku tidak sanggup lagi.

Aku tidak ingin lagi menjalin hungungan ini. Aku pun mengajak suamiku menemui orang tuaku untuk menyelesaikan masalah ini. Namun semua orang beranggapan sama. Hal itu hal sepele. Cuma anggapan ku yang berbeda. Ibuku berkata maafkan suamimu. Dan ibuku berkata bahwa aku harus ‘menahan rasa’ aku mengerti akan arti perkataan itu. Aku yang memilih suamiku. Jadi aku harus menjalani semua ini.

Kutarik sebuah kesimpulan. Yang dilakukan suamiku itu bukanlah kesalahan, bukan juga kekhilafan. Melainkan itu adalah sifat dan kebiasaannya, dan itu mustahil untuk dirubah. Suamiku akrab dan dekat dengan wanita lain memang sebagai hiburan semata tanpa hubungan apapun.

Entah ini salahku atau bukan. Yang jelas aku baru mengetahui sifat aslinya setelah hal ini terjadi, yaitu pada saat 7 tahun sudah kami bersama.

Saat ini posisiku terjepit. Disini aku tidak tahan lagi menjalin hubungan ini, rasa cinta dihati ini telah pudar sepudar pudarnya, di sisi lain ibuku menangis karena tidak sanggup melihat anaknya bercerai, di sisi lain juga anakku masih kecil, satu 4 tahun, satu lagi 5 bulan.

Anakku belum mengerti akan perceraian. Di sisi lain juga suamiku menuntut ku mengubah sifatku yang seperti ini. Tapi aku tidaklah bisa.

Sekarang… Yang bisa kulakukan hanya mencoba menerima apapun yang akan terjadi kelak… Aku akan berusaha untuk tidak marah kepada suamiku lagi… Aku berusaha memendam sendiri tanpa mencurahkan kepada siapapun… Demi anakku orang tuaku.

Dan lagi… Tersiksa batin akan kembali kurasakan. Memendam sendiri kesedihan, namun kali ini akan ku rasakan seumur hidupku. Aku meminta ketegaran dan kesabaran kepada-Nya. Agar aku bisa melewati hari esok demi anakku. Tersenyum manis pada dunia untuk menutupi segala kesedihan yang aku pendam. Dan menunjukkan bahwa aku bahagia.

Suamiku Selingkuh Karena Aku Tidak Perawan

Awalnya suami mau menerimaku apa adanya meski aku sudah tak suci lagi. Tapi setelah melahirkan anak pertama kami, sikapnya berubah. Dia mulai selingkuh dan bahkan mengambil kesucian wanita lain. Alasannya karena aku sudah tidak perawan dan dia ingin merasakan wanita virgin

Aku mengenal pacaran saat aku sekolah SMK. Aku merantau di kota dan tinggal bersama bibiku. Kemudian aku kenal dengan laki-laki. Sungguh aku sangat polos. Aku tergoda. Aku diajarkan ciuman dan diajarkan yang lain olehnya.

Sebut saja namanya D. Aku selalu putus nyambung dengannya. Dan hingga aku lulus sekolah, aku masih berhubungan dengannya tapi status kami tetap seperti itu, putus nyambung.

Tahun 2015 aku mulai kerja di Jakarta, aku ngekost dengan teman-temanku. Meski begitu aku selalu pulang sebulan sekali ke Serang untuk menemui D.

Tetapi aku dan dia statusnya tidak pacaran. Hanya mantan, tetapi dekat. Hingga pada akhirnya, di bulan Februari 2015 keperawanan aku dia renggut. Entah kenapa aku merelakannya. Padahal saat itu aku gak pernah mau. Tetapi dipaksa. Nasi sudah jadi bubur. Sejak kejadian itu, aku sudah melakukan 3x bersamanya.

Hingga pada akhirnya bulan April 2015 aku menemukan laki-laki lain di Jakarta, sebut saja namanya R. Dia sangat membuatku nyaman. Tidak seperti mantanku yang teramat cuek. Tetapi saat aku dekat dengan Si R. Aku masih kontakan dengan Si D.

Entah apa yang terjadi pada diriku.

Dua kali bertemu dengan R. Aku maen kepuncak dengannya. Entah apa yang ada dipikiran aku. Aku mau saja diajak menginap di penginapan di puncak. Awalnya aku sudah bilang aku tidak ingin macam-macam. Iya dia iyakan. Tapi mungkin setan sedang merayu. Kami melakukan hubungan yngg tidak seharusnya dilakukan.

Sungguh.. sangat hinanya diri ini. Melakukan hal itu dengan 2 laki laki yang berbeda.

Singkat cerita. Si R sudah mengetahui bahwa aku tidak perawan. Dia juga tahu yang melakukan itu adalah mantanku, si D. Tetapi dia mau menerimaku. Dan bahkan dia suruh aku memilih. Pilih dia atau si D.

Aku berpikir aku sangat nyaman dan bahagia bersama si R. Aku selalu merasa sakit hati ketika bersama si D..

Aku pun memutuskan untuk menjauh dari si D. Dan berhubungan tanpa status dengan Si R.

Setahun kami menjalani hubungan ini. Setiap Minggu kami melakukan perbuatan hina itu. Hingga pada akhirnya. Aku mengajak dia menikah. Aku tidak ingin seperti ini terus. Terus-terus melakukan dosa.

Dia setuju. Maret 2016 aku dilamar olehnya. Lalu pada bulan April aku telat haid, aku positif hamil. Untunglah pada akhir April aku menikah dengan si R.

Singkat cerita. Desember 2016 aku melahirkan. Sangat bahagia memiliki anak yang sangat manis. Laki laki. Sangat lucu.

Sekarang anakku sudah berumur 5 bulan. Tetapi hal yang buruk terjadi dalam keluargaku.

Suamiku selingkuh dengan teman wanita dikerjaannya. Awalnya aku hanya tau dia hanya jalan-jalan saja. Tetapi.. Satu hari kemudian suami saya jujur. Bahwa dia merawanin wanita itu.

Sungguh hati saya sangat hancur. Hancur. Hingga saya buta hati dan buta pikiran. Saya mencoba bunuh diri dengan menggoreskan pisau di tangan saya. Saya mencoba menyakiti diri saya sendiri. Saya tidak terima.

Dia berkata, “Aku kan nerima kamu, kamu tidak perawan. Sekarang kamu harus nerima apa yang aku lakukan.”

Sangat hancur hati saya. Astagfirullah. Saya sudah tobat. Saya kira suami saya nerima saya apa adanya. Tapi itu semua bohong..

Dia beralasan bahwa dia melakukan itu karena ingin merasakan wanita virgin. Entah saya harus berkata apalagi. Saya rasa semua ini kesalahan saya.

Kemudian. Saya memaafkan dia. Tapi dia tidak bisa menjauh dari wanita itu. Saya tersiksa. Saya sakit hati Tuhan..

Dia bilang dia sangat mencintai wanita itu. Dia bahagia bersamanya. Sangat sedih hati ini mendengar kata-kata itu.

Oke saya mencoba berlapang dada. Saya tau ini kesalahan saya dimasa lalu. Saya meminta cerai kepada suami saya. Tetapi dia tidak mau.

Saya ingin dia tanggung jawab kepada wanita itu. Dan cerai dengan saya. Tapi dia tidak mau meninggalkan saya.

Di situ saya sangat hancur. Saya dilema. Apa yang harus saya lakukan. Setiap hari saya melihat chat-chatan mesra suami saya bersama wanita itu.

Saya tidak ingin seperti ini terus. Merasakan sakit hati melulu. Saya bertanya. “Sampai kapan kamu seperti ini. Tolong tegas. Jangan menyakiti saya terus”

“Sampai saya resign dari pekerjaan dan bisa menjauh dari wanita itu.”

Alhamdulillah suami saya akhirnya resign. Selama 3 tahun dia bekerja dan akhirnya resign hanya karena wanita.

Akan tetapi suami saya ternyata tidak bisa meninggalkan wanita itu. Selalu chat lagi chat lagi. Ya Allah. Cobaanmu.

Hingga pada akhirnya. Wanita itu sendiri yang bilang tidak ingin seperti ini terus. Dia menjauh dari suami saya. Tidak chat-chat lagi. Dan suami saya setuju jika memang itu kemauannya.

Sekarang. Suami saya kembali ke pelukan saya. Tapi mungkin tidak hatinya. Hatinya masih dengan wanita itu.

Sikapnya berbeda. Tidak seperti dulu yang selalu bersikap manis denganku.

Aku selalu memposting status tentang perselingkuhan di FB dan IG. Dan menceritakan kepada keluarga saya bahwa suami saya selingkuh. Tetapi hanya jalan-jalan doang. Tidak menceritakan bahwa mereka melakukan hubungan terlarang.

Kemudian… Dia memposting foto berdua dengan wanita itu di FB. Keluarga saya melihat itu dan mencaci maki suami saya. Saya menjelaskan bahwa dia memposting itu dengan seizin saya.

Suami saya tidak terima jika keluarga saya mencaci dia. Kemudian.. hal yang sangat memalukan terjadi.

Dia meng-SMS mamahnya atau mertua saya, dia mengatakan, “Istri saya tidak perawan.”

Kontan saya menjerit. Melihat itu semua. Kenapa dia melakukan itu. Kenapa dia melakukan itu. Saya hancur kembali.

Itu aib saya. Saya tidak terima.
Kata cerai dia lontarkan. Tetapi saya diam..
Saya hanya bisa menangis dan menangis.

Kemudian mertua saya berkata, “itu bayi anak siapa,”

Aku jawab, “itu anak suami saya.”

Kemudian saya bilang ke mertua saya, “Iya saya tidak perawan dan kemarin anakmu selingkuh dan merawanin wanita lain.”

Sontak mertua saya berkata kepada suami saya, “Kenapa kamu menikah dengannya jika tahu dia sudah tidak perawan”.

Mertua saya juga menanyakan, “Apa wanita lain itu tidak meminta pertanggungjawaban setelah kamu merawanin dia?”

Suami saya diam sementara saya menangis sejadi-jadinya, saya malu. Malu. Sungguh malu.

Suami saya cuek. Dia terus memarahi saya. Karena keluarga saya juga mencaci maki dia.

Ya Allah. Ujian apa ini..

Hati saya mulai tenang saat mertua saya SMS, “Masalalu istrimu lupakan. Dia kan sekarang sudah jadi istrimu. Dan sudah ada anakmu juga. Terima dia apa adanya.”

Sujud syukur saya membaca SMS mertua saya. Tetapi suami saya malah ketawa. Kenapa ibunya tidak memarahi saya.

Dia masih saja cuek. Dia mencoba menghubungi wanita selingkuhannya itu kembali. Saya menangis lagi sejadi-jadinya. Dan saya kemudian meminta maaf. Saat tidak ingin bertengkar. Alhamdulillah hati suami saya tersentuh. Dia mulai baik terhadap saya. Dan meminta maaf.

Tapi saya malu kepada mertua saya.
Saya tidak ingin bertemu dengannya..
Malu..

Hingga sekarang suami saya tidak bekerja. Kami tidak mempunyai uang. Hingga HP harta kami satu satunya dijual. Buat bayar kontrakan. Sakitt..

Perselingkuhan menyebabkan hilang pekerjaan. Kehilangan rezeki. Dan itu nyata….

Tetapi cerita hidup saya sangat berguna buat para pembaca. Agar para pembaca menyadari apa artinya kesucian. Jaga keperawanan. Jaga. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.

Untuk pria. Tolong jangan pernah kalian menodai orang yang kamu cintai.

Doakan aku. Supaya aku sabar dan selalu tabah. Hingga pada akhirnya. Bahagia itu datang.

Terimakasih redaksi ceritacurhat.com sudah memuat tulisan saya dan thanks pada pembaca sudah membaca.

Suami Tidak Mengakui Anak Keduanya

Suami tidak mengakui anak kandungnya

Kadang aku merasa hidup tak adil padaku, pada anakku, dan pada adik-adikku. Sungguh aku benci pada laki-laki yang hanya mau enaknya saja dan tidak mau bertanggung jawab seperti suami aku.

Suami tidak mengakui anak kandungnya
Suami tidak mengakui anak kandungnya

Namaku Tami berusia 24 tahun, rumah tanggaku sudah hancur bahkan sebelum aku menikah. Aku menikah karena anakku sudah lahir duluan, untunglah suamiku mau bertanggung jawab.

Setelah menikah, satu persatu kebohongan suami terungkap, hingga adiknya yang wanita juga harus merasakan apa yang aku rasakan. Akan tetapi dia tidak ada yang menikahi, hingga akhirnya anaknya lahir, aku dan suami mengambilnya sebagai anak.

Tetapi penerimaan aku terhadap anak adiknya tidak lantas membuat hidup kami bahagia, ada saja aku menemukan bukti perselingkuhan suamiku, dan ibunya tetap saja membela anaknya itu.

Hingga aku putuskan untuk kembali kepada Ayahku bersama anak kandungku. Berbulan-bulan kami tidak memberi kabar dan dia pun tidak pernah mencari kami..

Hingga Ayah wafat, aku pun mengabarinya. Dia pun datang dan kami rujuk, tapi ini awal dari kehancuranku berikutnya.

Aku masih punya adik 3 orang, mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain aku, tapi suamiku tidak mau menerima mereka. Jadi aku putuskan lebih memilih adik-adikku,, dan dia pun tak pernah datang lagi ke rumahku.

Namun saat itu aku sedang hamil dan iya pun tau. Tidak sedikit pun aku menerima uang darinya. Sampai akhirnya aku harus mengemis bersama anakku yang berusia 2 tahun dan adik-adikku dalam kondisi hamil.

Namun apa yang terjadi setelah anakku lahir dan dia melihatnya. Dia katakan itu anak hasil aku berselingkuh. Tanpa bukti mereka sekeluarga menganggap aku selingkuh padahal kenyataan yang aku terima justru sebaliknya, suamiku memiliki anak dengan wanita lain.

Apa salahku terhadap mereka. Aku putuskan anakku yang pertama kuserahkan kepadanya agar dia bertanggung jawab pada anakku. Sementara anakku yang kedua yang masih merah aku serahkan kepada orang yang selalu membantuku. Lalu aku hidup bersama adik-adikku.

Jatuh Ke Lubang yang Sama

Tidak lama setelah aku memberikan anakku,, aku berkenalan dengan laki-laki yang usianya 46 tahun, sangat jauh dari usiaku saat itu. Tapi aku nyaman dan dia tahu semua tentang aku dan mau menerimaku dan adik-adikku.

Satu tahun berlalu hubungan kami semakin jauh, hingga kami berhubungan intim. Tapi aku terhentak seakan tidak percaya, dia yang selama ini mengaku duda ternyata masih memiliki istri.

Tapi dia tidak mau lepas dariku sampai saat ini, tapi belakangan ini aku menemukan bukti bahwa dia punya wanita lain lagi. Kurang ajarnya sewaktu aku tanyakan, dia malah memberiku olesan yang dia ambil dari duburnya.

Sungguh aku benci sekali pada laki-laki, yang hanya mau kenikmatan sesaat tanpa pernah memikirkan perasaan wanita yang tulus menyayanginya.

Kepada pembaca ceritacurhat.com, aku mohon bantuannya apa yang harus aku lakukan dan bagaimana sebaiknya aku bersikap. Hidup ini rasanya sungguh tak adil.

Aku Rela Jadi Istri Kedua Ataupun Kesepuluh Asalkan Bersamanya

Rela jadi istri kedua

Aku tak pernah punya niat menjadi istri kedua, apalagi sampai merusak rumah tangga orang lain. Tetapi menjadi istri pertama dari pria tak bertanggung jawab jauh lebih menyakitkan. Suami keduaku, aku rela jadi istrinya yang kedua atau bahkan yang kesepuluh asalkan bersamanya.

Rela jadi istri kedua
Rela jadi istri kedua

Aku adalah seorang ibu dengan seorang putri dari suami pertama. Aku menikah ketika berumur 20 tahun karena terpaksa mengikuti kehendak orang tua yang sudah malu dan geram dengan kelakuan dan kenakalanku.

Bagaimana tidak, kelas 1 SMA aku sudah tidur dengan pacarku yang akhirnya jadi suami pertamaku dan itu kulakukan di kamarku sendiri, sampai akhirnya kami ketahuan oleh orang tuaku.

Akhirnya sesudah lulus SMA aku resmi menikah. Sebulan dua bulan kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja, namanya juga pengantin baru. Tapi beberapa bulan kemudian, banyak sekali perbedaan antara aku dan suamiku.

Suamiku orang yang sangat pemalas dan tidak mau bekerja. Selain itu, perhatian dan kasih sayangnya pun tak pernah ia tunjukkan. Hingga aku hamil dan melahirkan pun tetap saja seperti itu.

Dari sejak hamil aku terbiasa bekerja sendiri karna suamiku tak pernah mau menolong, dan kalau sudah bicara tentang uang, pertengkaran pun selalu terjadi.

Baca juga: 

Sepuluh tahun aku lalui hidup yang seperti itu, apapun pedihnya selalu kutahan karena tak ingin rumah tanggaku hancur. Aku selalu mencoba bersabar dan bersabar walaupun kadang muak dengan kelakuan suamiku yang tak pernah berubah.

Tapi ternyata keteguhanku luluh juga ketika aku berkenalan dengan seorang laki-laki beristri dengan tiga anak. Awalnya kami berteman kemudian bersahabat. Aku sering curhat dengannya dan sesekali meminjam uang untuk membayar hutangku.

Orangnya asyik dan nyambung diajak ngobrol. Dari sering curhat dan cocok satu sama lain, akhirnya terjadilah hubungan yang seharusnya tak boleh terjadi. Aku berstatus istri orang dan dia berstatus suami orang. Tapi kami seperti tak peduli karena sudah yakin dengan hati masing-masing dan saling mencintai.

Pernah sekali dia bertanya padaku apakah mau jadi yang kedua. Dengan mantapnya aku menjawab ” ya”. Dia dan suamiku sangat jauh berbeda, semua yang kuimpikan dari suamiku ada padanya.

Perhatian dan kasih sayang yang tulus darinya membuatku menjadi seorang wanita yang sangat bahagia. Dua tahun berlalu akhirnya suamiku tau juga, dia akhirnya pergi dari rumah.

Kesempatan ini tak kusia-siakan sedikit pun, karena dari dulu aku ingin pergi darinya tapi tak pernah ada kesempatan. Saat suamiku ingin kembali lagi aku menolaknya, walaupun dia telah menyesali semua kesalahannya aku tetap menolaknya.

Rasa cinta dan sayangku untuknya telah lama hilang, memudar seiring waktu. Bagiku kesempatan itu hanya sekali, kalau aku masih menerimanya maka selamanya aku takkan bisa lepas darinya. Untuk apa mempertahankan kalau akhirnya hanya akan saling menyakiti lagi.

Setelah setahun akhirnya perceraianku selesai, dan selama itu aku selalu didampingi olehnya. Dengan pertimbangan yang sangat matang dan keyakinan yang kuat, habis masa iddah ku akhirnya aku nikah siri dengannya karena sampai sekarang istrinya tak tau.

Kami sangat bahagia karena berbeda dengan pernikahan sebelumnya, sebelum menikah kami saling meyakinkan diri dan sangat banyak pertimbangan sampai akhirnya memutuskan menikah. Karena disini kami merasa saling mencintai dan dicintai.

Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati. Aku rela jadi istri yang kedua ataupun kesepuluh asalkan bersamanya. Walaupun banyak halangan dan cobaan selalu kami hadapi berdua dengan senyuman ataupun tangisan.

Maafkan aku maduku, kalau suatu saat kau tau entah apa yang akan terjadi. Tapi suamimu pun tak ingin meninggalkanku dan takut kehilanganku. Jadi aku bisa apa? karena aku pun begitu. Maafkan aku.

Merasa Rendah Diri Karena Jarang Disentuh Suami

Istri jadi rendah diri jarang disentuh

Entahlah apakah masalah yang kurasakan ini juga dialami oleh Ibu-Ibu lain, atau mungkin hanya saya saja yang mengalaminya. Setelah mengandung dan melahirkan anak pertama kami, suami jarang menyentuhku.

Istri jadi rendah diri jarang disentuhSaya sudah menikah selama 3 tahun dengan suami saya. Selama itu pula hubungan kami baik-baik saja. Setahun awal pernikahan kami mengusahakan memiliki anak, sehingga hampir setiap hari kami berhubungan suami istri.

Usaha kami berhasil, saya hamil. Dan semenjak usia kehamilan mencapai 9 bulan kami tidak pernah berhubungan suami istri lagi. Alasannya takut anak kenapa-kenapa di dalam perut.

Dan akhirnya hari itu pun tiba. Saya melahirkan. Sungguh bahagia rasanya kami saat itu. Anak yang kami idam-idamkan selama ini akhirnya lahir dan menjadi bagian dari keseharian kami.

Waktu itu saya berpikir setelah melalui masa nifas nanti kami akan kembali aktif berhubungan seperti dulu. Kenyataannya tidak, saya tetap tak disentuh suami sampai berbulan-bulan setelah masa nifas lewat, saya bingung.

Sampai anak kami berumur 6 bulan, suami masih malas-malasan untuk melakukannya, bahkan jika kami melakukan, itupun karena saya yang minta pertama untuk berhubungan.

Saya merasa galau segalau-galaunya, mengapa sikap suami jadi berubah, tidak lagi hangat seperti dulu. Sampai saat ini anak kami sudah berumur 1 tahun, hanya 2 kali kami berhubungan suami istri. Itupun sepenuhnya karena saya yang minta.

Sebetulnya saya sudah berusaha mengajak suami untuk komunikasi, berbicara dari hati ke hati. Tapi ketika saya bertanya pada suami tentang penyebabnya, dia hanya menjawab sedang tidak mood atau sedang lelah bekerja.

Waktu itu saya berpikir mungkin suami sedang stres dengan pekerjaannya di kantor sehingga kehilangan mood sama aku. Tapi jika memang begitu kenapa dia tidak pernah membicarakannya?

Jujur saya merasa sedih dan dan rendah diri. Apa saya sudah tidak cantik lagi? Apa saya sudah tidak menarik perhatiannya lagi? Apa suami sudah tidak cinta saya lagi? Apa suami selingkuh? Apa tubuh saya setelah melahirkan sudah gendut jadi dia tidak suka?

Sekarang saya bingung, apa yang saya harus lakukan?

Kepahitan yang Selalu Kurasakan

Menikah, mengurus suami, memiliki anak lalu merasa bahagia mungkin terlalu muluk bagiku. Alih-alih merasa bahagia, aku malah merasa menderita dengan perlakuan suami yang tidak peduli dengan kami, anak istrinya.

Kepahitan hidupkuNama saya Nadya, Saya hanya ingin sedikit curhat tentang kehidupan rumah tangga saya. Saya sudah mempunyai suami, dan sudah mempunyai anak satu.

Tetapi selama saya berumah tangga dengannya, saya tidak pernah merasakan hal yang benar-benar membuat saya bahagia seperti orang-orang lain yang sering berliburan keluar rumah bersama keluarganya.

Suami saya selalu beralasan sibuk dengan kerjaannya, padahal kerjaannya hanya seorang montir mobil dan bengkelnya di rumah orang tuanya sendiri.

Suami saya lebih senang ngumpul dengan teman-temannya, tertawa-tawa dan mabok-mabokan menghabiskan duit. Suami saya juga sering pergi ke cafe lalu dia bermabok-mabokan dengan cewek-cewek cafe. Kalau ada duit gak pulang-pulang, giliran kosong baru ingat anak istri.

Hati saya pun sakit seperti di injak-injak di depan semua orang. Suami saya gak cuman itu aja, ada lagi yang menyakiti hati saya, yaitu suatu malam saat dia gak pulang, dia mabok bersama dua cewek yang saya tahu suka jual diri dengan supir-supir di terminal.

Malam itu, suami saya pergi bersama teman-temannya dan dua perempuan murahan itu. Saya tidak bisa mengajaknya pulang karena malam itu hujan deras. Akhirnya pagi-pagi saya bangun dengan anak saya, saya sama anak mencari suami saya dan saya bertemu di dekat stasiun pangkalan angkot.

Saya liat suami saya sedang tidur dan saya bangunkan, disaat suami saya bangun bau mulutnya tidak seperti biasa, bau mulutnya seperti orang habis nete, dalem hati saya ‘Ya Allah kenapa begini’. Karena saya tidak mau berantem dengannya, saya hanya diam dan mengajaknya makan.

Masih banyak lagi hal lain yang menyakitkan dari suami, anehnya saya selalu saja memaafkannya. Saya cape memasalahinya karna setiap bertengkar dia selalu pukulin saya. Kepala saya sampe bocor dan dia sama sekali tidak menyesal.

Saya masih bertahan karna saya sudah terbiasa mengalaminya, bahkan sejak saya hamil pun dia sudah sering mukul, tetapi namanya seorang istri tetap selalu memaafkan semua kesalahan suaminya meskipun itu menyimpan luka yang tidak bisa di hilangkan.

Rumah Tanggaku Bagaikan Neraka

Rumah tanggaku di neraka

Aku nekat berselingkuh dengan M, seorang teman kantor. Suami yang mengetahui perselingkuhanku membeberkan aibku kepada keluargaku, Ayahku meninggal setelahnya. Kini, setelah aku semakin berharap dari M, aku dapati kenyataan kalau dia seorang gay.

Rumah tanggaku di nerakaIni adalah kisah nyata dalam hidup saya, sebut saja saya T. Saya seorang wanita yang menikah di usia yang terbilang muda yakni 20 tahun. Saya menikah dengan seorang duda anak 2 yang usianya 15 tahun di atas saya.

Kami berkenalan di pulau Bali dan memutuskan menikah dan hidup di Jawa. Tepat di hari pernikahanku, air mata itu tak henti menetes, penyesalan dan keraguan dalam diri sendiri terus menghantui. Entah apa yang sedang saya pikirkan, yang ada saya terus saja ingin menangis dan berteriak.

Hari berganti waktu terus berputar, saya jalani hidupku sewajarnya sebagai istri dalam rumah tanggaku. Tak ada kehangatan di dalam rumah tanggaku, saya seperti hidup dalam kesunyian padahal ada suamiku di rumah.

Suamiku sangat keras dan dingin, dia tak mau tau urusan dapur apalagi wanita. Di usiaku yang masih muda, dan masih ingin disayang atau dimanja. Sama sekali tak pernah ku dapatkan dari suamiku, dia beranggapan itu semua tak terlalu penting untuknya.

Cek cok terus terjadi di usia pernikahanku yang masih terhitung muda saat itu, sampai pada akhirnya suami saya memutuskan pergi dari rumah dan meninggalkan cincin kawin kami di lemari kamar.

Hancur seketika hatiku, sebagai istri yang tak pernah dihargai saya terus bertahan untuk anak dan rumah tanggaku. Terlebih lagi masa mudaku yang telah ku korban untuk menikah dengannya serasa hancur lebur tiada arti.

Sebulan lamanya saya ditinggal suami, akhirnya dia memberi kabar melalui mertua saya bahwa dia sedang di Bali bersama kedua anaknya. Akhirnya saya putuskan untuk menyusulnya ke Bali berdua dengan anak saya yang saat itu masih berusia 1 tahun.

Singkat cerita kami hidup kembali berdua di Bali, dan yang saya harapkan hanya perubahan terbaik untuk keutuhan rumah tanggaku dan anak.

Keuangan kami hancur, dan saya putuskan untuk bekerja dengan ijin suami. Seiring berjalannya waktu, saya lakukan sewajarnya sebagai pekerja sekaligus ibu.

Berangkat pagi pulang sore, ketemu anak ngurus rumah dan suami. Tapi tetap kebekuan dalam rumah tanggaku tak bisa dirubah, suamiku semakin asik dengan dunia gelapnya minum-minum, judi dan entah apa yang ada di kepalanya seketika kami cekcok hebat dan dia memukul saya sampai membekas.

Seumur kami menikah, dia memang suka main tangan tetapi baru kali itu dia memukulku sampai membekas di daerah mata, luka hatiku yang ditinggal pergi waktu itu saja masih membekas, ditambah lagi pukulan yang dia lakukan secara sadar hanya karena masalah sepele yang dia buat sendiri.

Dendam hanya dendam dan sakit hati yang saya rasakan setiap kali melihat suamiku, sampai akhirnya batas kesabaranku habis juga. Di usia pernikahanku yang menginjak tahun ke 4, saya yang lemah dan terinjak, akhirnya kalap dan berontak dengan keadaan yang saya alami.

Lalu saya putuskan membuka hati dengan teman kantorku. Usia kami tak jauh berbeda, dan dia tergolong pria tampan dan pendiam di kantorku, sebut saja namanya M.

Entah apa yang ada di kepalaku saat itu, saya berani melakukannya. Dia sangat berbeda jauh dengan suamiku, kebekuan dalam rumah tanggaku serasa terobati seketika karenanya.

Hidupku mendadak berubah, serasa menemukan diriku yang sebenarnya. Tak sedetik pun terlewatkan momen kebahagian kami, sampai pada akhirnya M mengetahui bahwa saya wanita bersuami dan M mengakui juga bahwa dia telah memiliki pacar yang hubungannya sudah tak sehat lagi.

Kita memiliki problem yang sama dengan kasus yang berbeda, dan itu pun pula yang membuat kami semakin nekat. Saya yang sedang dimabuk cinta mulai melupakan keluarga, saya sering pulang tengah malam dan sibuk dengan hp membuat suamiku mulai curiga.

Sampai pada akhirnya saya memutuskan keluar dari rumah dan hidup bersama M. Penyesalan suamiku tiada artinya bagiku, dan dia mengiklaskanku pergi dari rumah.

Sampai pada akhirnya musibah terbesar pun terjadi, karena kesal suamiku membongkar aib rumah tangga kami ke keluarga saya. Tak lama berselang, ayah saya meninggal karena serangan jantung.

Betapa hancurnya hidupku seketika melihat kenyataan bahwa ayahku meninggal di tangan suamiku, dendam campur sedih dan tak terima menyerubung erat di otakku kepada suamiku.

Semua keluarga besar menyalahkanku atas kematian ayahku, hujatan demi hujatan harus siap saya terima dan saya biarkan siapa pun menghujatku karena mereka tak pernah tau sebenar-benarnya apa yang telah terjadi di dalam rumah tanggaku hingga saya berani gila berselingkuh.

Saya sebagai anak tertua, harus bertanggung jawab menopang ibuku karena adikku belum bekerja dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Saya semakin frustasi dan semakin menjadi jadi, hubungan terlarangku masih terus saya lanjutkan.

Hidupku semakin bergantung dengan M, dan M masih saja belum bisa meninggalkan pacarnya dengan alasan hidup M di topang sama pacarnya.

Sampai pada akhirnya hal tak terduga terjadi, disaat kami sedang tidur tiba-tiba kami kepergok langsung dengan pacarnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, pacarnya adalah seorang pria. Siapa yang tak hancur hatinya, orang yang ku cinta mati-matian ternyata seorang gay.

Oh Tuhan, seperti tak ada habisnya penderitaan yang saya alami ini. Tak tahu harus apa dan mesti kemana saya mengadu. Terimakasih kepada redaksi ceritacurhat.com yang telah menerbitkan tulisan ini.

Dendam telah membutakanku

Dendam membutakanku

Keputusanku untuk bekerja membuka jalan bagiku untuk membalas dendam ke suami. Usiaku yang masih muda dan wajah yang cantik memberi jalan bagiku untuk banyak mengenal pria-pria lain dan membuat suamiku cemburu. Dendam telah membutakan mata hatiku.

Dendam membutakankuAku seorang wanita, yang memutuskan menikah di usia muda dengan seorang pria yang usianya terpaut jauh denganku. Suamiku duda anak 2 dan kami di karuniai 1 orang anak.

Rumah tangga kami bagaikan neraka, tidak ada kehangatan dan komunikasi yang baik di antara kami. Cobaan demi cobaan yang aku hadapi membuatku murka.

Kadang aku berfikir apa karena usiaku yang belum matang membuatku merasa semua ini menjadi beban, ataukah ini semua karena kesalahan suamiku?

Sebagaimana kerasnya suamiku selalu ku terima setiap harinya, tanpa pernah sedikit pun aku membalas. Sampai akhirnya saya putuskan untuk bekerja.

Aku bekerja semata untuk melarikan diri dari kejenuhan di dalam rumah, saat itu aku mulai banyak mengenal teman dan dunia baru. Karena usiaku yang masi muda, membuat banyak pria tak menyangka bahwa aku sudah berkeluarga.

Dan kemudian aku memakai kesempatan itu untuk menghibur diri walau hanya sekedar lewat semata. Aku bekerja di salah satu distributor besar di kota B, disitu aku mengenal seseorang dari team lain.

Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku meng-iya-kan ajakan dia untuk jalan bersamanya. Aku mulai berubah di dalam rumah, cuek dan asik dengan hidupku sendiri.

Suamiku mulai curiga dengan perubahan sikapku, pertengkaranpun semakin menjadi jadi. Karena disisi lain, aku memang sengaja supaya suamiku tau kalo aku berselingkuh karena dengan melihat suamiku depresi, akupun merasa puas dan menang. Dendam telah membutakan mata hatiku.

Cinta Tak Lekang Oleh Waktu

Cinta tak lekang waktu

Berkenalan dengan Masin membuatku jatuh hati meski saat itu aku berstatus tunangan orang. Dan meski ketika aku sudah menikah nama Masin masih melekat dan selalu muncul di dalam mimpiku. Bagaimana mengakhiri kisah cinta tak sampai ini?

Cinta tak lekang waktuSaat suamiku memutuskan untuk melamarku, bahagia sekali hati ini. Pertunangan kami pun berlangsung tapi karna tugas, kami harus menjalani hubungan pertunangan jarak jauh. Tak terasa setelah berjalan dua tahun, konflik batin pun aku alami.

Namaku Septia, sedangkan tunanganku yang kini menjadi suamiku bernama Tama. Karna hubungan cinta kami kami jarak jauh, aku selalu merasa kesepian dan ketika hari pernikahanku semakin dekat, aku tergoda dengan sosok laki laki yang begitu baik dan dewasa, sebut saja namanya Masin.

Pertemuan kami terjadi alami dan tak disengaja. Yang berawal dari perkenalan di sosmed hingga akhirnya kami sepakat bertemu..

Tatapan mata Masin, dan perhatiannya, membuat aku lupa bahwasanya diriku sudah bertunangan. Aku tergila-gila hingga lupa akan statusku saat itu. Kami pun memutuskan untuk menjalin hubungan.

Saat saya dan Masin menjalin hubungan, awalnya saya merasa ini godaan karna akan menikah, tetapi itu salah, semakin hari cintaku kepada Masin semakin besar dan semakin dalam. Hingga aku melupakan cintaku kepada Tama. Nama Masin ternyata melekat kuat di hatiku.

Tapi apalah daya meski cinta kami sebesar dunia, kami pun memutuskan mengakhiri hubungan itu, karna kami merasa tidak mungkin bersatu dengan statusku, apalagi hari pernikahanku semakin dekat. Hancur dan sakit rasanya waktu itu, pertemuan terakhir di malam itu seperti meruntuhkan lagit.

Dan akhirnya pun saya menikah dengan mas Tama. Saya merasa berdosa waktu itu karna hati ini masih terbagi. Nama Masin masih tersimpan di hatiku yang terdalam. Hingga sekarang.

Kejadian itu 6 tahun silam, dan kini usia pernikahan saya dan mas Tama sudah menginjak 5 tahub. Selama 5 tahun ini kadang saya masih kabar kabar sama Masin, lewat sosmed. Merasa berdosa itu pasti karna aku seorang istri. Tapi aku tidak kuasa menahan hati ini selalu ingin tahu gimana kabar Masin? sehatkah dia? Dengan siapa dia?

Dan 5 hari yang lalu, ada orang mengirim foto pertunangan Masin kepadaku. Seperti tersambar petir, lemas badan ini, kejadian itu mengingatkan aku akan malam dimana pertemuan terakhir kami 6 tahun silam. Tapi aku tau diri aku siapa?

Meski seperti ini sakitnya, aku iklas, aku bahagia untuk itu. Aku tidak boleh egois, dia pun berhak untuk jatuh cinta lagi. Aku merestui. Cinta tidak berarti memiliki.

Itulah gejolak hatiku, aku merasa berdosa kepada suamiku atas perasaan ini. Tapi aku tidak bisa juga menghapus nama Masin . Aku ingin melupakan masa lalu itu. Bagaimana cara melupakannya.?

Ada orang bilang cinta tak lekang oleh waktu, mungkin ini yang, terjadi kepadaku. Semoga dengan aku menulis ini terungkap semua isi di hatiku yang tidak ada orang yang tau. TERIMA KASIH.