Sudah Lima Bulan Suamiku Tidak Pulang

Wanita mana yang tidak kesal memiliki suami tidak bertanggung jawab, seenaknya saja pergi dan pulang semaunya. Aku tidak tahu harus bersabar sampai kapan melihat tingkah lakunya, kalau bukan karena anak-anakku ini, sudah lama aku menuntut cerai. 

Suami tidak pulangChandra (samaran), suamiku, sudah enam bulan ini dia tidak pulang ke rumah. Dia pergi dan tidak memberiku nafkah lahir dan batin. Satu-satunya yang membuatku bertahan adalah anak.

Aku ingin anakku tumbuh besar seperti anak lain pada umumnya, punya orang tua yang lengkap. Aku tidak ingin jika aku bercerai malah membuat anakku jadi terbebani di lingkungannya. Itulah mengapa aku masih setia menunggu suamiku sampai sekarang.

Aku beruntung memiliki warung kecil-kecilan yang kubuat di depan rumah, hasilnya sangat sedikit tapi kucukup-cukupkan untuk biaya hidup aku dan kedua anakku.

Oiyah pembaca, namaku Ratna, tentu saja bukan nama sebenarnya tapi sebut saja begitu, aku adalah pembaca setia ceritacurhat.com. Ceritaku bermula sekitar delapan tahun yang lalu saat aku menikah dengan Candra.

Sekarang kami memiliki dua anak, yang pertama berusia enam tahun, dan yang bungsu tahun ini masuk tiga tahun. Aku asli Surabaya, suami yang pendatang dari Kalimantan pindah ke sini setelah mendapat tugas baru dari kantornya.

Saat menikah delapan tahun yang lalu, suamiku seorang sales yang menjual produk farmasi dan sering keluar kota. Sekarang dia masih bekerja di perusahaan yang sama, dan jabatannya sudah meningkat tapi dia masih sering ditugaskan ke daerah.

Aku menerima lamarannya karena kupikir dia lelaki yang sopan dan sangat baik. Bahkan setelah menikah beberapa tahun dia masih sayang kepadaku, sepulang kerja dia sering membawakanku makanan seperti donat, atau martabak manis, atau susu buat anak-anak kami. Aku merasa bahagia meskipun kondisi keuangan kami ala kadarnya tapi aku masih bisa menabung sedikit-sedikit dan membuka warung di depan rumah.

Tapi entah kenapa, setahun belakangan ini, sifat suamiku berubah drastis, dia yang dulu sangat baik berubah galak dan sering marah. Kalau kutanya dia langsung menghardikku. Bahkan tak jarang dia tidak pulang beberapa hari, alasannya karena urusan kantor.

Sekarang sudah enam bulan dia tidak pulang, ini yang terlama dan bahkan aku tidak tahu dia kemana. Pernah dia pulang sekali saja, itu pun cuma dua jam dan langsung pergi lagi. Saat kutanya dia dari mana, bukannya menjawab, dia malah marah besar dan membanting piring, bilang itu bukan urusanku dan pergi begitu saja. Anakku melihat pertengkaran kami, mereka terlihat tabah dan tidak menangis, sedih rasanya jika mengingat kejadian itu.

Bulan lalu, oleh seorang kenalan aku diberitahu bahwa suamiku sudah menikah lagi di kota seberang, dan suamiku bolak balik setiap hari ke sana. Aku tidak habis pikir wanita mana yang tertarik dengan suamiku dengan tampangnya yang seperti itu. Dulu aku suka kepada dia memang karena dia sangat baik kepadaku.

Aku belum tahu pasti apakah suamiku telah menikah betul atau tidak. Aku sudah beberapa kali mencarinya di kantornya, tapi suamiku selalu tidak ada. Dan aku selalu mendapat jawaban yang sama dari teman-temannya kalau suamiku sedang keluar kota mengantar barang.

Aku bingung apakah ini akal-akalan suamiku saja beserta teman-temannya? terus terang aku tidak tahu, walaupun kadang aku merasakan tatapan kasihan dari beberapa temannya.

Keluargaku sendiri sering menanyakan kabar suamiku, dan aku tidak tahu harus menjawab apa, aku cuma bilang suamiku sedang kerja di luar kota. Entahlah mungkin keluargaku juga curiga dengan tindak tanduk suamiku, yang jelasnya aku belum mau memberitahu siapapun juga tentang perilaku buruk suamiku.

Sampai sekarang aku masih menunggu suamiku pulang, jika anakku yang bertanya kujawab ayah lagi kerja cari duit buat sekolah. Aku juga masih mencari tahu apakah suamiku sudah menikah lagi atau tidak. Semoga Tuhan membukakan hatinya kembali dan ingat keluarganya disini, amiinn.

Dugem dan Narkoba Membuatku Terdampar di Pusat Rehabilitasi

Hidupku hancur dan masa depanku suram karena narkoba dan kehidupan malam. Selama dua tahun aku bergelut dengan barang haram itu, menghabiskan harta orang tua dan menikmati kebebasan semu. Kini, dunia gemerlap membuatku terdampar di pusat rehabilitasi.

Sebut saja namaku Atika, aku lahir dari keluarga berkecukupan. Ayahku seorang pengusaha tambang sementara ibuku pejabat di instansi Pemerintah di kotaku.

Orang tuaku yang sibuk membuatku juga mencari kesibukan sendiri. Sayangnya tidak ada yang mengarahkanku sehingga kesibukan yang kujalani malah membuatku terperangkap di dunia malam.

Aku anak bungsu dari tiga saudara. Secara materi kami sangat dimanjakan oleh orang tua. Semua kebutuhan kami disediakan, mulai dari kendaraan, uang saku dan fasilitas lainnya. Pendek kata apapun yang kami inginkan sejauh itu menyangkut materi pasti dengan mudah kami dapatkan.

Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan mereka hingga melupakan kami, anak-anaknya yang begitu gersang dengan kasih sayang. Pada saat itu aku tidak paham tentang kasih sayang orang tua, yang jelas aku merasa senang-senang saja karena orang tua sangat memanjakanku.

Cobaan pertama dalam keluarga kami adalah ketika kakakku yang pertama tewas akibat overdosis putauw. Sementara kakakku yang tengah hampir tewas ditikam orang gara-gara menghamili pacarnya, sekarang dia lari ke kota lain. Kondisiku tidak lebih baik dari mereka. Aku seakan melengkapi penderitaan keluarga kami ketika aku juga mulai mengenal dunia malam.

Aku mengenal narkoba dari pacarku di kampus. Dari dialah aku mulai mengenal berbagai macam benda haram itu. Aku benar-benar terbuai oleh pil-pil itu, aku bisa dengan mudah mendapatkannya karena aku punya uang untuk membeli.

Mobilku dan motor kakakku kujual untuk membeli narkoba dan berpesta dengan teman-temanku. Semuanya kudapat dari pacarku itu bahkan termasuk kesucianku juga kuserahkan kepadanya. Aku betul-betul lupa diri.

Hidupku sangat bebas, pacarku berperan sebagai body guard sekaligus penyuplaiku. Kami menikmati semuanya tak ubahnya sepasang suami istri. Aku sudah jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menginap di kos pacarku. Bahkan karena tingkat kecanduanku yang sudah sangat parah, harta pemberian orang tuaku habis kujual.

Dan anehnya bapak ibuku seolah berlepas tangan melihat kondisiku. Aku semakin putus asa, aku ingin menarik perhatian mereka tapi hanya pacarku yang mengerti aku.

Dua tahun aku menjalani hidup seperti itu, beruntungnya aku di saat-saat seperti itu aku berkenalan dengan seorang pemuda yang juga masih tetangga dekat rumah. Dia alumni pesantren, rupanya dia sering memperhatikan tingkah lakuku selama ini.

Caranya memperhatikan membuatku trenyuh dan menangis. Dia berbicara dan mampu menggambarkan apa yang kurasa. Aku seperti ditempeleng dan disadarkan. Perlahan pemuda itu memperkenalkan aku dengan banyak anjuran Agama.

Setiap saat jika ada waktu kami bertemu dan aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan aku merasa puas, hatiku seperti tanah kerontang yang tersirami air, aku merasakan kesejukan dari setiap kata-katanya.

Reaksiku terhadap narkoba dan kehidupan malam mulai berbalik, sedikit-sedikit aku meninggalkan kebiasaan ke diskotik dan minum alkohol. Yang sulit adalah menahan keinginanku untuk mencoba obat-obatan terlarang. Temanku itu menyarankan aku masuk pusat rehabilitasi sebagai awal baru kehidupanku.

Aku tak berpikir banyak, aku ingin bebas dari pengaruh obat-obatan itu. Aku langsung masuk ke panti rehabilitasi, waktu itu bulan Ramadhan. Setiap malam aku menangis dan menyesal, aku memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah aku lakukan.

Kini waktuku banyak habis di panti rehabilitasi, semangat hidupku juga mulai bangkit, cita-citaku menjadi pengusaha seperti Ayahku kembali muncul. Terimakasih sobat jasamu sangat besar bagi hidupku.